Kamis, 19 September 2013
Take a rest for my self
Langkah
tak pernah berhenti. meski aku beristirahat untuk sesaat. dan saat ini,
kuberikan waktu dan kesempatan seutuhnya (untukmu). dan jangan tanyakan
tentang esok, sebab barang sedetik kedepan aku tak pernah tahu apa yang
akan terjadi...
Minggu, 15 September 2013
Tentang kau...
Ingin
kuyakini cinta takkan berakhir, namun takdir menuliskan kita harus berakhir…
Penggalan dari sebuah sajak lagu yang cukup lama tak
kudengarkan. Bukan sekali mengalami apa yang dituliskan dalam sajak lagu itu.
Kesekian kalinya, tapi entah mengapa kali ini terasa amat sakit sekali. Meski
sebenarnya aku tak ingin menyebutnya sebagai sakit. Tetapi, rasa itu selalu membuat
tenggorokanku tercekat. Rasa yang selalu
tak mampu menahan airmataku. Bahkan untuk mendengar namanya saja hatiku
bergetar semakin kencang. Apalagi untuk melihat wajahnya, segalanya tumpah
ruah, luluh lantak membekas tapi aku tak mampu merapikan bekas yang berserakan
itu. Barangkali -belum-.
Hanya cinta yang bisa menaklukan
dendam, hanya kasih sayang tulus menyentuh, hanya cinta yang bisa mendamaikan
benci, hanya kasih saying tulus yang mampu menembus ruang dan waktu…
Aku sudah tak mampu mendevinisikan apa yang ada didalam
hati ini, entah cinta, rindu, benci, semua melebur menjadi satu. Aku pun masih
tak tahu apakah aku mempunyai hati apa tidak. Tapi, yang aku telah berprinsip,
tak akan membenci siapapun, berusaha selalu mengambil sisi baik dan melakukan
hal yang baik. Semoga.
Bukankah, cinta adalah damai dan kebaikan.
Kelak, jika kau mengingatku, ingat aku sebagai
mimpi indah, ambil segala kebaikan dari mimpi indah itu. Mimpi indah yang
memberikan warna yang berbeda dalam hidupmu…
Jumat, 13 September 2013
Kapan Pun, Aku Bisa "Kurang Waras"
Suatu sore, duduk-duduk di samping sungai yang airnya
mengalir dari bendungan. Sedang menikmati arummanis yang tak sengaja dibelikan
sesaat aku bilang: aku ingin itu. Aku tak malu, meski usia kepala dua, aku
menikmati saja arummanis yang katanya adalah kesukaan anak-anak kecil. Meski
lama-lama lidahku gatal juga memakannya, tetapi untuk menghargai yang
membelikan ya aku berusaha habiskan.
Rindang, di bawah pohon, dipinggir kali, duduk-duduk di rerumputan.
Tiba-tiba ada yang menyebabkan aku harus pindah dari tempat itu. Tanpa permisi
–yaiyalah, masak orang gila bias permisi dulu- orang yang kuanggap mungkin tak
sewaras aku tiba-tiba menghampiri. Akh, terpaksa aku harus pergi meninggalkan
kenyamanan itu. Kejadian ini membuatku menyadari sesuatu. Ternyata orang waras
itu takut sama orang kurang waras.
Sebagai orang yang waras, sebagai orang yang masih bias
menjalankan pikirannya bertemu dengan kejadian seperti itu membuatku lebih
bersyukur. Ternyata, aku masih diberi kekuatan untuk memikirkan permasalahan
hidup dengan pikiran yang masih komplit. dan yang menyedihkan adalah, aku yang
menganggap diri sebagai orang waras harus mengalah dengan orang yang kuanggap
kurang waras. Akhirnya, aku menjauh pergi dari –orang- tempat itu.
Bicara tentang kurang waras, tiba-tiba ingat ungkapan yang
familiar banget. “Sumpah, gue gila karena cinta gue sama lue”. Haaa, sebegitu
dasyatnya yang namanya cinta. Sehingga orang rela bahkan mungkin tega membuat
dirinya tidak waras gara-gara cinta. Padahal jika kembali ke kejadian yang aku
alami tadi, justru aku menghindar dari orang yang kurang waras. jadi, kepada
orang yang rela gila karena cinta apakah juga harus dihindari. Yah, sebab
seperti itulah, orang yang tak bisa menggunakan pikirannya untuk berpikir
dengan baik –bukan kurang waras- bias melakukan hal-hal yang tak bisa kita
prediksi bahkan bisa berada diluar nalar kita. Ya, karena itu, dia tak bisa
berpikir.
Satu kelebihan luar biasa yang dimiliki oleh
orang waras, orang waras bisa berpura-pura menjadi orang kurang waras. tetapi
tidak bagi orang yang mungkin kurang waras, tak mudah untuk berpura-oura waras.
Beruntunglah kita yang masih diberi kesempurnaan berpikir, apa mungkin kita
ingin berpura-pura tidak waras karena cinta?.
Senin, 02 September 2013
Aku Mendambamu Seperti Laut
Kau bilang kenapa kau memilih laut menjadi tempat yang
kau pilih untuk memaknai waktu bersamaku. Laut itu luas, sejauh mata memandang
tak kau temui ujung seperti: cintaku. Sedalam samudera yang kau tempuh seperti
saat kau menujuku, lantas kau tempatkan aku pada suatu yang tempat paling dalam
didirimu.
Begitulah pantai
dan laut tak pernah letih menggambarkan kemesraan alam. Tak pernah lelah
berpelukan. Selalu berpisah untuk bertemu. Seperti kita.
Semarang, 02 September
2013
Langganan:
Komentar (Atom)