Ingin
kuyakini cinta takkan berakhir, namun takdir menuliskan kita harus berakhir…
Penggalan dari sebuah sajak lagu yang cukup lama tak
kudengarkan. Bukan sekali mengalami apa yang dituliskan dalam sajak lagu itu.
Kesekian kalinya, tapi entah mengapa kali ini terasa amat sakit sekali. Meski
sebenarnya aku tak ingin menyebutnya sebagai sakit. Tetapi, rasa itu selalu membuat
tenggorokanku tercekat. Rasa yang selalu
tak mampu menahan airmataku. Bahkan untuk mendengar namanya saja hatiku
bergetar semakin kencang. Apalagi untuk melihat wajahnya, segalanya tumpah
ruah, luluh lantak membekas tapi aku tak mampu merapikan bekas yang berserakan
itu. Barangkali -belum-.
Hanya cinta yang bisa menaklukan
dendam, hanya kasih sayang tulus menyentuh, hanya cinta yang bisa mendamaikan
benci, hanya kasih saying tulus yang mampu menembus ruang dan waktu…
Aku sudah tak mampu mendevinisikan apa yang ada didalam
hati ini, entah cinta, rindu, benci, semua melebur menjadi satu. Aku pun masih
tak tahu apakah aku mempunyai hati apa tidak. Tapi, yang aku telah berprinsip,
tak akan membenci siapapun, berusaha selalu mengambil sisi baik dan melakukan
hal yang baik. Semoga.
Bukankah, cinta adalah damai dan kebaikan.
Kelak, jika kau mengingatku, ingat aku sebagai
mimpi indah, ambil segala kebaikan dari mimpi indah itu. Mimpi indah yang
memberikan warna yang berbeda dalam hidupmu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar