Perihal
Tukang Parkir
Seharian ini, saya memarkirkan motor
dibeberapa tempat, disitu pula kedua tukang parkir (laki-laki) mencoba membantu
mengeluarkan motor saya dari tempat parkiran yang menurut saya, saya sanggup
mengeluarkan motor saya sendiri.
Tak bisa saya pungkiri, saya
memaknai hal tersebut. Mungkin juga saya yang terlalu lebai. Tukang parkir saja
dimaknai mbarang. Kenapa saya ingin
memaknai?, karena mayoritas tukang parkir adalah laki-laki. Sangat jarang
tukang parkir perempuan. Selama saya di Semarang, dua kali saya melihatnya,
pertama di Jalan Pandanaran, kedua di Jalan Siliwangi, depan kantor Pengadilan
Negeri. Hati saya berkata, “wanita tangguh”.
Saya salut memang dengan perempuan
yang berani mencoba pekerjaan yang barangkali dilabeli “pekerjaan laki-laki”.
Entah mungkin karena perempuan itu terpaksa atau mungkin tuntutan ekonomi yang
mengharuskannya bekerja keras seperti itu.
Kembali ke tukang parkir, saya sudah
memaksa kedua Pak tukang parkir untuk tidak membantu saya mengeluarkan motor.
“Pak, ndakusah, Saya bisa sendiri”, ucap Saya. Tetapi Pak tukang parkir masih
saja memaksa untuk membantu saya. Entah apa yang ada didalam benaknya. Saya
jadi merasa dikasihani sebagai perempuan, berperawakan kecil yang menggunakan
motor agak besar. Atau mungkin Pak tukang parkir merasa ini sudah tugasnya,
apapun itu saya berterimakasih Pak. Kecil dan sepele memang, tetapi mengenang
dan berkesan.
Saya memacu kendaraan saya ke Dinas
Tenaga Kerja dan Transmigrasi, meski waktu sudah mepet, tetapi saya tetap
berusaha mencari bahan tulisan. Bahkan saya saja tidak tahu bahwa kepala Dinas
Tenaga Kerja dan Transmigrasi perempuan atau laki-laki. Akhirnya, saya salah
mengucap, ingin bertemu Pak Kepala Dinas. “Maksudnya Bu Wika?”, kata Pak
satpam. Duh nekat sekali saya, materi masih minim ngejar, belum tahu apa-apa
nekat masuk dan nemui Bu Kepala Dinas. Setelah diarahkan kesana kemari,
akhirnya saya tidak jadi menemui Bu Kepala. Saya diarahkan ke kepala BP3TKI.
Diberi nomer teleponnya, akhirnya saya hubungi. Disela-sela percakapan pulsa
saya habis, untung Bapaknya menghubungi balik saya.
Saya merasa bersyukur hari ini, segala
hal kecil maupun besar, meski pulang menerjang hujan deras dan banjir. Apapun usaha kita, pasti ada hasilnya, meski
kecil. Seperti Pak tukang parkir. Barangkali usahanya kecil, tapi Dia juga
berhasil membuat saya tersenyum. Bukankah pekerjaan membuat orang tersenyum
bukan hal yang mudah???
Semarang, 4 Februari 2015