Rabu, 04 Februari 2015

Perihal Tukang Parkir
Seharian ini, saya memarkirkan motor dibeberapa tempat, disitu pula kedua tukang parkir (laki-laki) mencoba membantu mengeluarkan motor saya dari tempat parkiran yang menurut saya, saya sanggup mengeluarkan motor saya sendiri.
            Tak bisa saya pungkiri, saya memaknai hal tersebut. Mungkin juga saya yang terlalu lebai. Tukang parkir saja dimaknai mbarang. Kenapa saya ingin memaknai?, karena mayoritas tukang parkir adalah laki-laki. Sangat jarang tukang parkir perempuan. Selama saya di Semarang, dua kali saya melihatnya, pertama di Jalan Pandanaran, kedua di Jalan Siliwangi, depan kantor Pengadilan Negeri. Hati saya berkata, “wanita tangguh”.
            Saya salut memang dengan perempuan yang berani mencoba pekerjaan yang barangkali dilabeli “pekerjaan laki-laki”. Entah mungkin karena perempuan itu terpaksa atau mungkin tuntutan ekonomi yang mengharuskannya bekerja keras seperti itu.
            Kembali ke tukang parkir, saya sudah memaksa kedua Pak tukang parkir untuk tidak membantu saya mengeluarkan motor. “Pak, ndakusah, Saya bisa sendiri”, ucap Saya. Tetapi Pak tukang parkir masih saja memaksa untuk membantu saya. Entah apa yang ada didalam benaknya. Saya jadi merasa dikasihani sebagai perempuan, berperawakan kecil yang menggunakan motor agak besar. Atau mungkin Pak tukang parkir merasa ini sudah tugasnya, apapun itu saya berterimakasih Pak. Kecil dan sepele memang, tetapi mengenang dan berkesan.
            Saya memacu kendaraan saya ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, meski waktu sudah mepet, tetapi saya tetap berusaha mencari bahan tulisan. Bahkan saya saja tidak tahu bahwa kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi perempuan atau laki-laki. Akhirnya, saya salah mengucap, ingin bertemu Pak Kepala Dinas. “Maksudnya Bu Wika?”, kata Pak satpam. Duh nekat sekali saya, materi masih minim ngejar, belum tahu apa-apa nekat masuk dan nemui Bu Kepala Dinas. Setelah diarahkan kesana kemari, akhirnya saya tidak jadi menemui Bu Kepala. Saya diarahkan ke kepala BP3TKI. Diberi nomer teleponnya, akhirnya saya hubungi. Disela-sela percakapan pulsa saya habis, untung Bapaknya menghubungi balik saya.

            Saya merasa bersyukur hari ini, segala hal kecil maupun besar, meski pulang menerjang hujan deras dan banjir.  Apapun usaha kita, pasti ada hasilnya, meski kecil. Seperti Pak tukang parkir. Barangkali usahanya kecil, tapi Dia juga berhasil membuat saya tersenyum. Bukankah pekerjaan membuat orang tersenyum bukan hal yang mudah???  
Semarang, 4 Februari 2015  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar