Aku selalu menjelmakan angin malam saat ku menatap langit sebagai hadirmu. Angin yang tega
memelukmu untukku. Dan langit tersenyum, dengan menggantungkan bintang pada
bola mataku. Di sini aku merasa dekat, meski bibir ini tak mampu mengecupmu. Aku
suka sesuatu yang luas seperti langit. Sebab luas langit mampu mempertemukan
kita pada satu penjuru, bintang. Kusadari bukan jarak yang memberi sekat pada
kita. Jarak, luas, langit, tumpuanku akan hadirmu. Saat kupandang langit,
kuharap akan bertemu pada ujung. Ujungku menunggumu tuk menyambung. Seperti tongkat
estafet. Di mana ujung terakhirku adalah kau.
Rabu, 22 Februari 2012
Jumat, 17 Februari 2012
Tujuh Hari Esok
Jika tujuh hari esok kudapati rindu masih bersarang dalam relungku. Biarkan ku bebaskan ia mencari jalannya. Biarkan ia menjelma bulan yang selalu kau cari di setiap malammu. Bulan, mendatangkan slalu bayangmu. Disaat gelap menjadi langitku. Tak menjadi takutku. Pula, cemasku. Karena tlah kusiapkan balkon dari kaca. Kaca bening yang tak kuasa menjadi tabir antara kau dan aku. Disitu cahayamu leluasa menjamahku.
Bebaslah, terbanglah, berjalanlah semaumu, rinduku.
Sepertiku membebaskan diriku...
17 Februari 2012...
Senin, 13 Februari 2012
Dan Aku Rindu
Rindu, menjadi bumbu yang senantiasa bercumbu. Yang kadang
terbalas atau pun tidak, aku tak mengerti. Senyum menjelma saat inbox ku
berkata missiu too. Aku bertanya masihkah kau seperti dulu. Rindu itu,
menampakkan bayangmu. Kata-kata yang slalu kau tuangkan tulus padaku. Kusediakan
diriku tuk memunguti satu persatu, akan kuuntai seperti mutiara pengias
leherku. Biarkan ia tetap tinggal dalam jiwaku. Dekat dan lekat. Dan aku rindu.
Rindu yang kumaknai dengan hatiku, tanpa kau beri aku sela tuk mengeja
rindumu...
Saat rindu, 13-02-2012
Minggu, 12 Februari 2012
Airmataku
Ku endapkan dalam suatu wadah,
Tuk beberapa waktu,
Adakah nanti ia akan berubah menjadi kabut,
Yang menjadikan musim dingin itu ada?
Atau akan menjadi bunga-bunga,
Yang menjadikan musim semi itu ada?
Pula musim panas yang menguapkan,
Menjadi butiran-butiran air
Atau mungkin saja cukup menjadi kaca dalam bola mata,
Hingga nanti ia luruh,
Mengalir kembali menjadi airmata
Seterusnya...
Bulan Menyerupai Mata
Kau katakan, Bulan itu menyerupai
Mata
Harapku kan selalu teringat,
Dan tak akan pernah terlupa,
Kata-kata yang terlontar diantara
kita,
Hingga terbiasa tercipta.
Sepi
Memoles langit biru menjadi kelam
Hanya terdengar ketukanketukan keyboard
Membuyarkan lamunan
Sendiri berteman gema
Ruang yang tak berpenghuni
Seperti gua, gelap pekat
Ketakutan mencengkram
Namun pikir yang tak pernah sepi,
Tetap berjalan, terbang, melayang-layang
Tak ada gelap, juga takut,
Tetap saja Ia berjalan,
Tak peduli rintik hujan, terik panas
Pikir, tak sepi,
Sebab kau mengisi
Rembulan
Ada bayang suram didalam pikiran
Rembulan...
Sinarmu slalu berteman
Kau ciptakan kisah yang berbuah angan
Dalam tampakmu terselip mendung yang berjalan
Rembulanku yang suram, ada apa denganmu gerangan ?
Melewati Badai
Sore
itu, Deru ombak kujumpai kembali
Menapaki
pasir halus yang basah oleh cipratan-cipratan samudra
Ada
harap dapat menangkap sinar kuning kejinggaan
Namun
malah awan hitam menggantung disudut-sudut bumi
Kilatan
cahaya pun menyambar diantaranya
Rindu
biru sebiru lautan berubah menjadi awan gelap menyelimuti
Keterpakuanku
membuat kita terombang ambing oleh tamparan angin
Berlari
melawannya dan hanya bisa berpasrah kepadaNya
Kutelangkupkan
tanganku ditubuh kecilmu yang gemetar
Kita
berada ditengah badai yang mencekam hitam pekat
Tanganmu
meraih pundakku dan tersadar aku melewati badai bersamamu
Tangis
ketakutanku pecah, namun kau masih membisu
Bersamamu, 28-10-2011
Harapan di sudut Hati
Tergerus ombak, pasir terurai
Senyap malam tak berbias bulan
Seperti air, mengikuti jalannya arus sungai
Lemah tak berdaya, terhantam puing reruntuhan pengharapan
terdalam
Sudut hati kecil berkata, berteman kenangan yang usang
Layu
Seperti bunga telah layu,
Madunya pun terserap oleh kupu-kupu
Tajamnya dunia melenakanmu
Terbuai oleh kesakitan
Bukankah sebab yang
selalu kau inginkan?
Sehingga luka melupakan, akibatku
Jangan kau tanya mengapa aku terlena
Sebab aku pun tak pernah tahu
Seperti adam, jatuh pada dekapan bumi
Aku pun begitu
Bukankah dosa-dosa mampu Ia lebur?
Bagaimana dengan dosaku?
Tidakkah juga bisa?
Keinginan
Terbangun dari lelapku
Yang tertemani olehmu
Mata menangkap sisa-sisa hujan
Gerimis, memaksaku tuk nyanyikan lagu rindu
Redup cahaya mentari, samar memasuki bola mata
Dalam hati masih terngiang-ngiang tentang keinginan
Itu inginku dan inginmu, namun bukan ingin “Kita”
Keinginan sama tuk
jiwa yang tax lagi sama
Jalankan keinginan tuk suatu impian
Inginku, inginmu,
Ingin kita,
Dan aku berjalan berteman ingin.
Kamis, 03 Nopember 2011
Saat tidur bertemankan
hujan
Langganan:
Komentar (Atom)



