Rabu, 22 Februari 2012

Saat Memandang Langit Luas


Aku selalu menjelmakan angin malam saat ku menatap  langit sebagai hadirmu. Angin yang tega memelukmu untukku. Dan langit tersenyum, dengan menggantungkan bintang pada bola mataku. Di sini aku merasa dekat, meski bibir ini tak mampu mengecupmu. Aku suka sesuatu yang luas seperti langit. Sebab luas langit mampu mempertemukan kita pada satu penjuru, bintang. Kusadari bukan jarak yang memberi sekat pada kita. Jarak, luas, langit, tumpuanku akan hadirmu. Saat kupandang langit, kuharap akan bertemu pada ujung. Ujungku menunggumu tuk menyambung. Seperti tongkat estafet. Di mana ujung terakhirku adalah kau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar