Aku selalu menjelmakan angin malam saat ku menatap langit sebagai hadirmu. Angin yang tega
memelukmu untukku. Dan langit tersenyum, dengan menggantungkan bintang pada
bola mataku. Di sini aku merasa dekat, meski bibir ini tak mampu mengecupmu. Aku
suka sesuatu yang luas seperti langit. Sebab luas langit mampu mempertemukan
kita pada satu penjuru, bintang. Kusadari bukan jarak yang memberi sekat pada
kita. Jarak, luas, langit, tumpuanku akan hadirmu. Saat kupandang langit,
kuharap akan bertemu pada ujung. Ujungku menunggumu tuk menyambung. Seperti tongkat
estafet. Di mana ujung terakhirku adalah kau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar