Tertulis, tertakdir menjadi perempuan adalah Aku. Perempuan yang ibarat bunga, kata orang mempunyai paras yang indah. Mampu menarik perhatian banyak kumbang. Banyak perempuan bangga dengan paras yang ayu. Tak sedekit perempuan berusaha menjadi ayu. Berbagai macam cara dilakukan tuk mendapatkan predikat ayu. Bedak, gincu, parfum, mascara, eyeshadow, rebonding, smoothing, hingga operasi plastik, apalagi lah caranya bagi perempuan tuk memperayu diri.
Menjadi perempuan, aku pernah merasa bangga saat orang-orang memujaku dengan kata ayu. Tak bisa kupungkiri aku pun berusaha tuk tampil ayu. Tapi terkadang ayu pun bisa menjadi beban. Kadang pun aku berpikir mengapa aku diciptakan ayu?.
Haaahhh, rasanya beban bathin menjadi ayu. Bukan aku tak mensyukuri apa yang diberiNya. Ada satu jerawat dijidatku saja aku geger. Itu masih menjadi tanda bahwa aku masih seperti kebanyakan perempuan yang peduli dengan ayu. Tetapi ternyata paras ayu tak menjamin tuk mendapatkan apa yang kumau. Ayu-ayu tapi bodoh kan juga malu.
Sekarang aku sadar, kadang ayu hanya menumbuhkan rayu dan palsu. Lelaki pasti selalu terpesona dengan wajah ayu, bukan?. Yah, begitupun aku sebagai perempuan, teriak-teriak tak karuan saat melihat orang yang tampan. Itu hanya satu aspek saja dari perempuan, ialah ayu.
***
Masih ingin kutuliskan tentang perempuan. Satu pertanyaan yang ingin ku lontarkan: Seperti apa kalian memaknai seorang perempuan?. Andai di sebuah jalan tertulis bahwa perempuan yang kau sayangi tak sesempurna yang kau mau?.
Saat bunga tak lagi seindah yang kau lihat. Bunga itu telah lusuh, kusut, tercabik-cabik oleh kaki-kaki tajam kumbang. Bunga tak selalu indah.
Perempuan ini sedang merenungi jalannya. Berliku-liku, terjal, berbatu, bahkan berjurang. Tak hanya sekali aku terpeleset ke dalam jurang. Jurang yang dalam, gelap, pula menyakitkan. Aku merangkak mendaki, tanganku mengais akar-akar pohon yang tersimpan di tanah bebatuan dinding jurang. Berdarah, tanganku. Tersayat kulitku.
Tetapi aku masih mampu tersenyum. Saat cahaya menerobos ke mataku yang ciut. Akibat tangis telah mengantarkan hingga aku tertidur. Dua bola mataku memandang luru pada bunga-bunga yang masih merekah indah, berhias titik-titik embun. Tapi semu, kelabu yang kudapati.
***
Saat ini, ingin kutuliskan suatu kata untuk perempuan. Tak ada yang lebih kuat dari aku, kau, kita, perempuan. Tangismu memberi banyak arti.
Jangan penah malu menjadi perempuan, jangan pernah merasa rendah menjadi perempuan, bagaimanapun keadaanmu sebagai perempuan. Dan jangan pernah lupa, aku, kau, kita, perempuan, BERHARGA.
Kekecilan nok fontnya, susah dibaca :)
BalasHapus