Rabu, 25 April 2012

Diam Menyesakkan Hati


            Cukup lama, aku terdiam, membasuh setiap luka dalam bathinku, sendiri. Aku slalu menahan sesak-sesak di dada, hingga mungkin hanya airmata yang menjadi jawabnya. Setiap kali laku kau beri padaku, entah hati menerima atau tidak, aku hanya diam. Menahan sesak itu. Sendiri. Bersama airmata. Dan mungkin kau tak menyadari bahwa laku itu membuatku menahan bathin teramat dalam. Berontak hanya mampu dalam hati, sebab jika aku berontak padamu, aku takut kehilanganmu.
            Cinta yang dalam, tulus seperti telah membutakan jiwaku. Hingga sakit pun aku tahan saja. Sudah tak terhitung berapa butiran airmata yang jatuh. Kadang aku merasa jadi diriku.
            Namun tak bisa kupingkiri, hadirmu bagai hujan ditengah kemarau. Kau sapu letih, lelahku, temaniku berjalan menatap kedepan dengan pasti. Kau memberi arti perubahan dalam diriku. Entah bagaimana aku harus membalasnya. Aku hanya berharap pada Tuhan, semuga membalasnya.
            Kamu tahu, betapa pun sakit tak menjadikan ku benci, bahkan menghilangkan rasaku. Sampai detik ini, rindu, rasa masih tersimpan dalam lubuk hati. Tapi biarlah ia menemu jalannya sendiri.
            Diam kali ini menyesakkan hati, semuga tak ada lagi sesak-sesak di kemudian hari. Berjalan, menjadi yang terbaik tuk diri sendiri saat ini. Kuserahkan esok pada Tuhan, sebab kutahu esok akan datang dengan sendirinya....
                                                                                                      Semarang, 25 April 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar