Pendidikan Karakter Berbasis
Sastra
Oleh: Rohinah
M Noor
Arus modernisasi telah banyak memberi perubahan
dalam kehidupan masyarakat. Namun, yang menyedihkan adalah perubahan
yang terjadi justru cenderung mengarah pada krisis moral dan akhlak.
Krisis moral tengah menjalar dan menjangkiti bangsa ini. Hampir semua
elemen bangsa juga merasakannya. Menyelami negeri Indonesia kini seolah
kita sedang berkaca pada cermin yang retak. Sebuah negeri yang sungguh
sangat ganjil. Bahkan, keganjilan demi keganjilan sudah melampaui dunia
fiksi.
Bayangkan seorang pegawai pajak rendahan; bernama Gayus
HP. Tambunan bisa melumpuhkan tatanan birokrasi dan tata nilai penegak
hukum negeri ini; bayangkan lagi, hampir semua pemimpin hasil Pilkada
menjadi tersangka kasus korupsi; belum lagi gonjang-ganjing berita mafia
hukum dari kelas teri sampai kelas paus yang tidak kunjung selesai;
penyalahgunaan wewenang kekuasaan; penyuapan, kolusi, regulasi hukum
yang timpang dan segudang persoalan lainnya. Bahkan, budaya saling
tuding, silat lidah, dusta-mendustai seakan sudah lumrah menjadi
tontonan kita sehari-hari di televisi. Dengan kata lain, negeri ini
sudah babak belur. Lantas bagaimana dengan nasib generasi bangsa ini,
bila apa yang dipertontonkan adalah mental-mental keculasan,
kemunafikan, dan ketidakjujuran?
Lagi-lagi bila kita berkaca
pada wajah pendidikan kita, apa sesungguhnya yang salah dari sistem
pendidikan bangsa ini sehingga menghasilkan manusia-manusia yang begitu
banyak bermental amoral, gila kekuasaan, gila kehormatan, gila jabatan,
bahkan rela menghalalkan segala cara dan tanpa rasa malu asalkan
kekuasaan dan jabatan yang selama ini dipegang tidak lepas dari tangan.
Seolah manusia-manusia di negeri ini takut kehilangan jabatan (kekayaan)
meski harus menanggalkan rasa kemanusiaan. Misalnya, dengan cara
menindas kaum papa, menipu, dan menghamba pada sang penguasa. Inikah
fenomena yang dihasilkan dari perjalanan dunia pendidikan kita yang
cukup panjang?
Memang benar, dunia pendidikan bukan satu-satunya
yang patut dihakimi. Namun, mau tidak mau melalui pendidikanlah
peradaban sebuah masyarakat bisa terbentuk. Bahkan, disebut-sebut
sebagai agent of change. Dari institusi pendidikan, diharapkan
dapat dibentuk manusia-manusia yang berjiwa luhur, berperikemanusiaan,
tidak merampas hak orang lain, jujur, dan mandiri. Pendek kata,
institusi pendidikan diharapkan mampu menumbuhkan jiwa-jiwa kebaikan
pada setiap manusia.
Namun, apa hendak dikata, fenomena yang
terjadi pada bangsa ini ternyata bertolak belakang. Betapa miris hati
kita saat mendengar berbagai macam pemberitaan di media yang
menggambarkan bobroknya mental para penguasa di negeri ini. Kasus
korupsi semakin akut, bahkan seolah menjadi dosa warisan yang tidak ada
akhirnya. Selain itu, kebenaran bisa diperjualbelikan, keadilan yang
timpang, dan minimnya keberpihakan pada kaum marginal terasa masih
menghiasi wajah bangsa ini. Bila demikian keadaannya, jelas perubahan
yang diharapkan dari institusi pendidikan untuk membentuk manusia yang
beradab masih jauh dari harapan. Beginikah mental-mental yang dihasilkan
dari sebuah institusi pendidikan?
Sesungguhnya, baik buruknya
nasib pendidikan kita menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa.
Dengan demikian, perlu kiranya kita berbenah diri untuk memutus mata
rantai warisan sosial negatif dari desain pendidikan kita. Warisan
sosial negatif tersebut antara lain adalah mentalitas berpangku tangan
dan hanya menunggu belas kasihan orang, bahkan menyalahgunakan wewenang
dan jabatan. Selain itu, adanya budaya menerabas, tidak adanya
kemandirian sehingga rela menghambakan diri untuk pejabat (penguasa)
dengan segala cara.
Karena sesungguhnya mentalitas warisan
seperti itulah yang menjadi akar penyakit bangsa ini. Segala macam
kebobrokan dan kebusukan yang disuguhkan sehari-hari di hadapan kita
adalah bersumber dari jiwa-jiwa yang rapuh, yang tidak memiliki rasa
kemandirian. Bahkan, dengan mudah menggadaikan kejujuran demi sesuap
nasi.
Mengapa seolah-olah bangsa ini, dari tahun ke tahun,
tidak pernah sadar dan sesegera mungkin menyembuhkan luka dan sakit
akutnya? Justru sebaliknya, bangsa ini semakin dijangkiti virus yang
“melumpuhkan” tersebut. Apa sesungguhnya yang salah dari sistem
pendidikan bangsa ini sehingga menghasilkan pemimpin-pemimpin yang
sangat korup dan sebagian besar birokrat kita bermental amoral?
Sebagai
bahan renungan, agaknya semua ini terlanjur terjadi, rela tak rela kita
boleh mengaitkan dengan rendahnya pengajaran (apresiasi) sastra di
sekolah. Mengapa demikian? Karena sastra mengasah rasa, mengolah budi,
dan memekakan pikiran. Bukankah itu cikal bakal moral? Sementara,
lembaga sekolah adalah peletak batu pertama pembentuk watak dan
kepribadian seseorang (tentu saja juga orangtua), yang kelak menjadi
penyangga moralitas. Rasanya, para pendidik negeri ini telah begitu lama
mengabaikan, bahkan nyaris tak peduli dengan pendidikan sastra yang
memadai kepada anak didik kita. Tidak percaya? Mari kita buktikan satu
per satu.
Pertama, dimulai dari kepedulian orangtua untuk
mengajarkan sastra kepada anaknya. Harus diakui tradisi mendongeng
orangtua kepada anaknya, yang sudah turun-temurun dimiliki negeri ini,
kini sudah semakin terkikis. Orangtua lebih mementingkan anaknya agar
bisa cepat berhitung dan mengerti bahasa asing misalnya, ketimbang anak
disuguhi segudang buku cerita (sastra anak). Bukti itu diperkuat dengan
fenomena orangtua yang berlomba-lomba mencari pendidikan usia dini yang
cenderung mengasah otak kirinya, daripada otak kanan. Kemudian, mencari
bahkan merasa mempunyai gengsi tinggi ketika memilih lembaga pendidikan
dengan embel-embel internasional dan semacamnya.
Kedua, jika
diadakan penelitian ke seluruh pelosok negeri ini terkait pendidikan
usia dini, pendidikan yang berbasis sastra secara ideal tidak mudah
ditemukan. Kalaupun ada, barangkali hanya akan ditemukan satu atau dua
saja, sebutlah seperti lembaga pendidikan usia dini; Rumah Dongeng,
yang dirintis dan diasuh budayawan Kak Wess yang berada di Kotagede,
Yogyakarta. Namun, siapa yang peduli dengan model pendidikan semacam
ini?
Ketiga, sampai saat ini porsi pengajaran sastra hanya
mendapat bagian kecil dari pengajaran bahasa. Ketersediaan guru sastra
yang mumpuni di sekolah-sekolah juga sangat terbatas. Begitupun dengan
pemanfaatan bahan ajar sastra yang belum optimal.
Keempat,
penelitian Taufik Ismail di tahun 1997–2005 menunjukkan betapa sastra
tidak diperkenalkan pada siswa-siswi hingga mereka menyelesaikan SMA.
Menurut Taufik Ismail, sebagian besar siswa-siswi di Indonesia berhasil
menyelesaikan NOL karya! Betapa mengenaskannya nasib sastra dalam
pendidikan kita, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara lain.
Malaysia misalnya, mewajibkan 6 judul karya, Swiss dan Jepang 15 judul,
dan Amerika Serikat 32 judul. Misalnya lagi, betapa siswa sekolah
menengah di Malaysia, Filipina dan Thailand telah akrab dengan
novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer dan karya sastrawan-sastrawan
besar dunia lainnya, sedangkan siswa-siswa di Indonesia sendiri justru
hanya sedikit yang mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer.
Kelima,
dalam mimbar kebudayaan Sastra dan Revolusi di Yogyakarta pada Juli
2010 lalu, Max Lane, penerjemah sejumlah karya Pramoedya Ananta Toer ke
dalam bahasa Inggris, mengatakan, “Indonesia adalah satu-satunya negera
di dunia yang tidak memasukkan sastra sebagai mata pelajaran wajib di
pendidikan menengah!” Bandingkan lagi, jika kita merunut pada masa
silam, di zaman AMS Hindia Belanda, siswa diwajibkan membaca buku sastra
25 judul bagi AMS Hindia Belanda-A dan 15 judul bagi AMS Hindia
Belanda-B. Sementara sekarang? Jelas tidak lagi penurunan, tetapi hampir
saja peniadaan! Akibatnya, ketika mereka dewasa, mereka juga bertindak
yang jauh dari nilai-nilai moral dan agama seperti yang terjadi dewasa
ini. Barangkali inilah salah satu penyebab mengapa di negeri ini
berjubel koruptor di segala lini kehidupan.
Kelima fakta di atas
sudah cukup menunjukkan bahwa negeri ini memang sungguh sangat ganjil.
Oleh karena itu, kini kita pun menuai hasil dari keganjilannya. Sebuah
negeri yang dihuni oleh pemimpin-pemimpin yang sakit dan moral yang
rapuh. Kenapa demikian? Sekali lagi, karena sastra mengajarkan kehidupan
dari sisi yang berbeda. Ketika orang mulai bosan dengan doktrin-doktrin
hitam-putih maka sastra dapat menjadi solusi untuk tetap menanamkan
budi pekerti yang luhur pada generasi bangsa. Oleh karenanya, seorang
tokoh legendaris Umar bin Khattab, pernah berwasiat kepada rakyatnya,
“Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut
menjadi jujur dan pemberani.”
Perkataan Umar itu tak berlebihan,
sebab di dalam sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran
universal. Sastra juga menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang
pembaca untuk bercermin secara telanjang, dan tentu saja setelah itu
berbuat sesuatu. Apalagi jika pembacanya adalah anak didik yang
fantasinya baru berkembang dan menerima segala macam cerita terlepas
dari cerita itu masuk akal atau tidak. Menurut Abdul Wachid B.S. dalam
bukunya Sastra Pencerahan (2005) bahwa sastra berfungsi sebagai
media penyaring berita dan slogan omong kosong serta ketidakjujuran
dalam masyarakat. Bahkan, menurut Thaha Husain (Tokoh Pendidikan Mesir)
dalam mukadimah kitabnya Fi Syiir al-Jahili, menyebutkan bahwa
semua kitab suci adalah karya sastra. Sebab, selain unsur
estetik-bahasanya, lebih dari sepertiga isi kitab suci adalah penuturan
kisah yang mempunyai plot dan alur mengejutkan. Karenanya bagi Thaha
Husain, mengajarkan sastra kepada anak juga secara otomatis mengajarkan
nilai-nilai kitab suci (moralitas).
Belum lagi jika ditelisik
lebih jauh, pengajaran sastra tidak saja membentuk watak dan moral,
tetapi juga memiliki peran bagi pemupukan kecerdasan siswa dalam semua
aspek. Melalui apresiasi sastra, misalnya, kecerdasan intelektual,
emosional, dan spiritual siswa dapat diasah. Siswa tidak hanya terlatih
untuk membaca saja, tetapi juga mampu mencari makna dan nilai-nilai yang
luhur. Bukankah dalam setiap karya sastra terkandung tiga muatan:
imajinasi, intuisi, dan nilai-nilai? Karena itu, di Jepang misalnya,
pemerintah mewajibkan semua siswa-siswi untuk mempelajari sastra klasik
sejak SMP. Karya tertua yang paling dikenal adalah “Hikayat Genji”.
Padahal, usia hikayat ini telah mencapai 1000 tahun. Hebatnya lagi, tata
cara ajar yang diberikan pun bukan hanya sebatas menghafal, melainkan
juga memasukkan aspek historis dari karya ini. Para guru mengajarkan
tata bahasa Jepang Klasik yang dipakai pada saat “Hikayat Genji” dibuat.
Di SMU-SMU tertentu, guru bahkan mengajak para pelajar untuk membaca
karya-karya klasik dalam bahasa aslinya (Jepang kuno).
Generasi
muda adalah generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan tonggak
perjuangan di masa depan. Sementara itu, peran sastra dalam membentuk
generasi yang akan datang yang diharapkan dunia pun sepertinya perlu
direalisasikan. Oleh karena itu, orangtua dan guru wajib membimbing
perkembangan anak-anak ke arah yang positif agar mereka kelak menjadi
anggota masyarakat yang baik dan berguna dalam kehidupan. Salah satu
sarana untuk mencapai tujuan tersebut adalah sastra yang sesuai dengan
perkembangan anak-anak. Mengapa demikian?
Sekali lagi! Pelajaran
sastra tidak hanya sekadar mengenalkan sastra kepada anak. Akan tetapi,
mendekatkan sastra kepada anak didik sangatlah penting karena
nilai-nilainya yang berguna memahami hidup. Ungkapan jiwa, nuansa
kehidupan, keindahan, semuanya tercipta dalam sastra. Anak-anak dapat
mengembangkan pemikirannya serta talenta dalam menulis sehingga dapat
memaknai hidup. Melalui sastra pula, anak-anak dapat menemukan berbagai
kemampuan yang mereka miliki.
Nilai-nilai yang terkandung di
dalam karya sastra diresepsi oleh anak dan secara tidak sadar
merekronstruksi sikap dan kepribadian mereka. Karya sastra selain
sebagai penanaman nilai-nilai dan karakter, serta merangsang imajinasi
kreativitas anak berpikir kritis melalui rasa penasaran akan jalan
cerita dan metafora-metafora yang terdapat di dalamnya.
Modal
apresiasi sastra yang memadai tentunya akan menciptakan output
pendidikan yang lebih arif dan bijak. Dalam konteks ini, sastra menjadi
sangat penting. Sastra tidak hanya semata berperan dalam penanaman
pondasi keluhuran budi pekerti, tetapi juga memiliki andil dalam
pembentukan karakter yang jujur sejak dini. Melalui pergulatan dan
pertemuan intensif dengan teks-teks sastra, anak akan mendapatkan bekal
pengetahuan yang mendalam tentang manusia, hidup, dan kehidupan, serta
berbagai kompleksitas problematika dimensi hidup.
Sebenarnya
negeri ini sama halnya dengan Jepang dan Cina dalam hal kekayaan dan
keanekaragaman khazanah budaya masa lalu. Barangkali, justru bisa
disebut lebih. Hal ini dibuktikan dengan betapa berlimpahnya karya
sastra adiluhung yang telah diwariskan negeri ini. Bahkan, dari Sabang
sampai Merauke mempunyai khazanah dan hikayat tersendiri, sebutlah
misalnya beberapa karya sastra: Pappangajana Abdul Bada, I La
Galigo, Dua Belas Gurindam, Serat Centini, Serat Wedhatama, Serat Pepali
Ki Ageng Selo, Serat Wulung Dharma, dan lain sebagainya. Lalu
sekarang coba kita tanyakan, apakah anak didik kita ada yang mengenal
karya-karya sastra adiluhung itu? Penulis berani bertaruh, anak didik
kita hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu tak bisakah negeri ini
belajar dari bangsa lain yang lebih maju, seperti Jepang dan Cina
misalnya? Lalu kita mengevaluasi sekali lagi sistem pendidikan kita?
Atau kita biarkan generasi muda kita tak mengenal sastra dan kita
biarkan kelak meraka menjadi koruptor lagi?
------------
Rohinah
M Noor, lahir di Cirebon, 20 April 1980. Setelah nyantri di PP
Al-Fathimiyyah Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, ia hijrah ke kota
pelajar, tepatnya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekaligus nyantri di
PP Wahid Hasyim untuk menyelesaikan studi S1. Sedangkan studi S2-nya
selesai pada 2008 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain menulis di
berbagai media baik lokal maupun nasional, ia juga menulis
sejumlah buku.