Minggu, 22 Januari 2012

Pendidikan Karakter Berbasis Sastra

Oleh: Rohinah M Noor

Arus modernisasi telah banyak memberi perubahan dalam kehidupan masyarakat. Namun, yang menyedihkan adalah perubahan yang terjadi justru cenderung mengarah pada krisis moral dan akhlak. Krisis moral tengah menjalar dan menjangkiti bangsa ini. Hampir semua elemen bangsa juga merasakannya. Menyelami negeri Indonesia kini seolah kita sedang berkaca pada cermin yang retak. Sebuah negeri yang sungguh sangat ganjil. Bahkan, keganjilan demi keganjilan sudah melampaui dunia fiksi.

Bayangkan seorang pegawai pajak rendahan; bernama Gayus HP. Tambunan bisa melumpuhkan tatanan birokrasi dan tata nilai penegak hukum negeri ini; bayangkan lagi, hampir semua pemimpin hasil Pilkada menjadi tersangka kasus korupsi; belum lagi gonjang-ganjing berita mafia hukum dari kelas teri sampai kelas paus yang tidak kunjung selesai; penyalahgunaan wewenang kekuasaan; penyuapan, kolusi, regulasi hukum yang timpang dan segudang persoalan lainnya. Bahkan, budaya saling tuding, silat lidah, dusta-mendustai seakan sudah lumrah menjadi tontonan kita sehari-hari di televisi. Dengan kata lain, negeri ini sudah babak belur. Lantas bagaimana dengan nasib generasi bangsa ini, bila apa yang dipertontonkan adalah mental-mental keculasan, kemunafikan, dan ketidakjujuran?

Lagi-lagi bila kita berkaca pada wajah pendidikan kita, apa sesungguhnya yang salah dari sistem pendidikan bangsa ini sehingga menghasilkan manusia-manusia yang begitu banyak bermental amoral, gila kekuasaan, gila kehormatan, gila jabatan, bahkan rela menghalalkan segala cara dan tanpa rasa malu asalkan kekuasaan dan jabatan yang selama ini dipegang tidak lepas dari tangan. Seolah manusia-manusia di negeri ini takut kehilangan jabatan (kekayaan) meski harus menanggalkan rasa kemanusiaan. Misalnya, dengan cara menindas kaum papa, menipu, dan menghamba pada sang penguasa. Inikah fenomena yang dihasilkan dari perjalanan dunia pendidikan kita yang cukup panjang?

Memang benar, dunia pendidikan bukan satu-satunya yang patut dihakimi. Namun, mau tidak mau melalui pendidikanlah peradaban sebuah masyarakat bisa terbentuk. Bahkan,  disebut-sebut sebagai agent of change. Dari institusi pendidikan, diharapkan dapat dibentuk manusia-manusia yang berjiwa luhur, berperikemanusiaan, tidak merampas hak orang lain, jujur, dan mandiri. Pendek kata, institusi pendidikan diharapkan mampu menumbuhkan jiwa-jiwa kebaikan pada setiap manusia.

Namun, apa hendak dikata, fenomena yang terjadi pada bangsa ini ternyata bertolak belakang. Betapa miris hati kita saat mendengar berbagai macam pemberitaan di media yang menggambarkan bobroknya mental para penguasa di negeri ini. Kasus korupsi semakin akut, bahkan seolah menjadi dosa warisan yang tidak ada akhirnya. Selain itu, kebenaran bisa diperjualbelikan, keadilan yang timpang, dan minimnya keberpihakan pada kaum marginal terasa masih menghiasi wajah bangsa ini. Bila demikian keadaannya, jelas perubahan yang diharapkan dari institusi pendidikan untuk membentuk manusia yang beradab masih jauh dari harapan. Beginikah mental-mental yang dihasilkan dari sebuah institusi pendidikan?

Sesungguhnya, baik buruknya nasib pendidikan kita menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Dengan demikian, perlu kiranya kita berbenah diri untuk memutus mata rantai warisan sosial negatif dari desain pendidikan kita. Warisan sosial negatif tersebut antara lain adalah mentalitas berpangku tangan dan hanya menunggu belas kasihan orang, bahkan menyalahgunakan wewenang dan jabatan. Selain itu, adanya budaya menerabas, tidak adanya kemandirian sehingga rela menghambakan diri untuk pejabat (penguasa) dengan segala cara.

Karena sesungguhnya mentalitas warisan seperti itulah yang menjadi akar penyakit bangsa ini. Segala macam kebobrokan dan kebusukan yang disuguhkan sehari-hari di hadapan kita adalah bersumber dari jiwa-jiwa yang rapuh, yang tidak memiliki rasa kemandirian. Bahkan, dengan mudah menggadaikan kejujuran demi sesuap nasi. 

Mengapa seolah-olah bangsa ini, dari tahun ke tahun, tidak pernah sadar dan sesegera mungkin menyembuhkan luka dan sakit akutnya? Justru sebaliknya, bangsa ini semakin dijangkiti virus yang “melumpuhkan” tersebut. Apa sesungguhnya yang salah dari sistem pendidikan bangsa ini sehingga menghasilkan pemimpin-pemimpin yang sangat korup dan sebagian besar birokrat kita bermental amoral?

Sebagai bahan renungan, agaknya semua ini terlanjur terjadi, rela tak rela kita boleh mengaitkan dengan rendahnya pengajaran (apresiasi) sastra di sekolah. Mengapa demikian? Karena sastra mengasah rasa, mengolah budi, dan memekakan pikiran. Bukankah itu cikal bakal moral? Sementara, lembaga sekolah adalah peletak batu pertama pembentuk watak dan kepribadian seseorang (tentu saja juga orangtua), yang kelak menjadi penyangga moralitas. Rasanya, para pendidik negeri ini telah begitu lama mengabaikan, bahkan nyaris tak peduli dengan pendidikan sastra yang memadai kepada anak didik kita. Tidak percaya? Mari kita buktikan satu per satu.

Pertama, dimulai dari kepedulian orangtua untuk mengajarkan sastra kepada anaknya. Harus diakui tradisi mendongeng orangtua kepada anaknya, yang sudah turun-temurun dimiliki negeri ini, kini sudah semakin terkikis. Orangtua lebih mementingkan anaknya agar bisa cepat berhitung dan mengerti bahasa asing misalnya, ketimbang anak disuguhi segudang buku cerita (sastra anak). Bukti itu diperkuat dengan fenomena orangtua yang berlomba-lomba mencari pendidikan usia dini yang cenderung mengasah otak kirinya, daripada otak kanan. Kemudian, mencari bahkan merasa mempunyai gengsi tinggi ketika memilih lembaga pendidikan dengan embel-embel internasional dan semacamnya.

Kedua, jika diadakan penelitian ke seluruh pelosok negeri ini terkait pendidikan usia dini, pendidikan yang berbasis sastra secara ideal tidak mudah ditemukan. Kalaupun ada, barangkali hanya akan ditemukan satu atau dua saja, sebutlah seperti lembaga pendidikan usia dini; Rumah Dongeng, yang dirintis dan diasuh budayawan Kak Wess yang berada di Kotagede, Yogyakarta. Namun, siapa yang peduli dengan model pendidikan semacam ini?

Ketiga, sampai saat ini porsi pengajaran sastra hanya mendapat bagian kecil dari pengajaran bahasa. Ketersediaan guru sastra yang mumpuni di sekolah-sekolah juga sangat terbatas. Begitupun dengan pemanfaatan bahan ajar sastra yang belum optimal.

Keempat, penelitian Taufik Ismail di tahun 1997–2005 menunjukkan betapa sastra tidak diperkenalkan pada siswa-siswi hingga mereka menyelesaikan SMA. Menurut Taufik Ismail, sebagian besar siswa-siswi di Indonesia berhasil menyelesaikan NOL karya! Betapa mengenaskannya nasib sastra dalam pendidikan kita, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Malaysia misalnya, mewajibkan 6 judul karya, Swiss dan Jepang 15 judul, dan Amerika Serikat 32 judul. Misalnya lagi, betapa siswa sekolah menengah di Malaysia, Filipina dan Thailand telah akrab dengan novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer dan karya sastrawan-sastrawan besar dunia lainnya, sedangkan siswa-siswa di Indonesia sendiri justru hanya sedikit yang mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer.

Kelima, dalam mimbar kebudayaan Sastra dan Revolusi di Yogyakarta pada Juli 2010 lalu, Max Lane, penerjemah sejumlah karya Pramoedya Ananta Toer ke dalam bahasa Inggris, mengatakan, “Indonesia adalah satu-satunya negera di dunia yang tidak memasukkan sastra sebagai mata pelajaran wajib di pendidikan menengah!” Bandingkan lagi, jika kita merunut pada masa silam, di zaman AMS Hindia Belanda, siswa diwajibkan membaca buku sastra 25 judul bagi AMS Hindia Belanda-A dan 15 judul bagi AMS Hindia Belanda-B. Sementara sekarang? Jelas tidak lagi penurunan, tetapi hampir saja peniadaan! Akibatnya, ketika mereka dewasa, mereka juga bertindak yang jauh dari nilai-nilai moral dan agama seperti yang terjadi dewasa ini. Barangkali inilah salah satu penyebab mengapa di negeri ini berjubel koruptor di segala lini kehidupan.

Kelima fakta di atas sudah cukup menunjukkan bahwa negeri ini memang sungguh sangat ganjil. Oleh karena itu, kini kita pun menuai hasil dari keganjilannya. Sebuah negeri yang dihuni oleh pemimpin-pemimpin yang sakit dan moral yang rapuh. Kenapa demikian? Sekali lagi, karena sastra mengajarkan kehidupan dari sisi yang berbeda. Ketika orang mulai bosan dengan doktrin-doktrin hitam-putih maka sastra dapat menjadi solusi untuk tetap menanamkan budi pekerti yang luhur pada generasi bangsa. Oleh karenanya, seorang tokoh legendaris Umar bin Khattab, pernah berwasiat kepada rakyatnya, “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani.”

Perkataan Umar itu tak berlebihan, sebab di dalam sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran universal. Sastra juga menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk bercermin secara telanjang, dan tentu saja setelah itu berbuat sesuatu. Apalagi jika pembacanya adalah anak didik yang fantasinya baru berkembang dan menerima segala macam cerita terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak. Menurut Abdul Wachid B.S. dalam bukunya Sastra Pencerahan (2005) bahwa sastra berfungsi sebagai media penyaring berita dan slogan omong kosong serta ketidakjujuran dalam masyarakat. Bahkan, menurut Thaha Husain (Tokoh Pendidikan Mesir) dalam mukadimah kitabnya Fi Syiir al-Jahili, menyebutkan bahwa semua kitab suci adalah karya sastra. Sebab, selain unsur estetik-bahasanya, lebih dari sepertiga isi kitab suci adalah penuturan kisah yang mempunyai plot dan alur mengejutkan. Karenanya bagi Thaha Husain, mengajarkan sastra kepada anak juga secara otomatis mengajarkan nilai-nilai kitab suci (moralitas).

Belum lagi jika ditelisik lebih jauh, pengajaran sastra tidak saja membentuk watak dan moral, tetapi juga memiliki peran bagi pemupukan kecerdasan siswa dalam semua aspek. Melalui apresiasi sastra, misalnya, kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual siswa dapat diasah. Siswa tidak hanya terlatih untuk membaca saja, tetapi juga mampu mencari makna dan nilai-nilai yang luhur. Bukankah dalam setiap karya sastra terkandung tiga muatan: imajinasi, intuisi, dan nilai-nilai? Karena itu, di Jepang misalnya, pemerintah mewajibkan semua siswa-siswi untuk mempelajari sastra klasik sejak SMP. Karya tertua yang paling dikenal adalah “Hikayat Genji”. Padahal, usia hikayat ini telah mencapai 1000 tahun. Hebatnya lagi, tata cara ajar yang diberikan pun bukan hanya sebatas menghafal, melainkan juga memasukkan aspek historis dari karya ini. Para guru mengajarkan tata bahasa Jepang Klasik yang dipakai pada saat “Hikayat Genji” dibuat. Di SMU-SMU tertentu, guru bahkan mengajak para pelajar untuk membaca karya-karya klasik dalam bahasa aslinya (Jepang kuno).

Generasi muda adalah generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan tonggak perjuangan di masa depan. Sementara itu, peran sastra dalam membentuk generasi yang akan datang yang diharapkan dunia pun sepertinya perlu direalisasikan. Oleh karena itu, orangtua dan guru wajib membimbing perkembangan anak-anak ke arah yang positif agar mereka kelak menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna dalam kehidupan. Salah satu sarana untuk mencapai tujuan tersebut adalah sastra yang sesuai dengan perkembangan anak-anak. Mengapa demikian?

Sekali lagi! Pelajaran sastra tidak hanya sekadar mengenalkan sastra kepada anak. Akan tetapi, mendekatkan sastra kepada anak didik sangatlah penting karena nilai-nilainya yang berguna memahami hidup. Ungkapan jiwa, nuansa kehidupan, keindahan, semuanya tercipta dalam sastra. Anak-anak dapat mengembangkan pemikirannya serta talenta dalam menulis sehingga dapat memaknai hidup. Melalui sastra pula, anak-anak dapat menemukan berbagai kemampuan yang mereka miliki.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam karya sastra diresepsi oleh anak dan secara tidak sadar merekronstruksi sikap dan kepribadian mereka. Karya sastra selain sebagai penanaman nilai-nilai dan karakter, serta merangsang imajinasi kreativitas anak berpikir kritis melalui rasa penasaran akan jalan cerita dan metafora-metafora yang terdapat di dalamnya.

Modal apresiasi sastra yang memadai tentunya akan menciptakan output pendidikan yang lebih arif dan bijak. Dalam konteks ini, sastra menjadi sangat penting. Sastra tidak hanya semata berperan dalam penanaman pondasi keluhuran budi pekerti, tetapi juga memiliki andil dalam pembentukan karakter yang jujur sejak dini. Melalui pergulatan dan pertemuan intensif dengan teks-teks sastra, anak akan mendapatkan bekal pengetahuan yang mendalam tentang manusia, hidup, dan kehidupan, serta berbagai kompleksitas problematika dimensi hidup.

Sebenarnya negeri ini sama halnya dengan Jepang dan Cina dalam hal kekayaan dan keanekaragaman khazanah budaya masa lalu. Barangkali, justru bisa disebut lebih. Hal ini dibuktikan dengan betapa berlimpahnya karya sastra adiluhung yang telah diwariskan negeri ini. Bahkan, dari Sabang sampai Merauke mempunyai khazanah dan hikayat tersendiri, sebutlah misalnya beberapa karya sastra: Pappangajana Abdul Bada, I La Galigo, Dua Belas Gurindam, Serat Centini, Serat Wedhatama, Serat Pepali Ki Ageng Selo, Serat Wulung Dharma, dan lain sebagainya. Lalu sekarang coba kita tanyakan, apakah anak didik kita ada yang mengenal karya-karya sastra adiluhung itu? Penulis berani bertaruh, anak didik kita hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu tak bisakah negeri ini belajar dari bangsa lain yang lebih maju, seperti Jepang dan Cina misalnya? Lalu kita mengevaluasi sekali lagi sistem pendidikan kita? Atau kita biarkan generasi muda kita tak mengenal sastra dan kita biarkan kelak meraka menjadi koruptor lagi?


------------
Rohinah M Noor, lahir di Cirebon, 20 April 1980. Setelah nyantri di PP Al-Fathimiyyah Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, ia hijrah ke kota pelajar, tepatnya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekaligus nyantri di PP Wahid Hasyim untuk menyelesaikan studi S1. Sedangkan studi S2-nya selesai pada 2008 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain menulis di berbagai  media baik lokal maupun nasional, ia juga menulis sejumlah buku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar