Pada malam yang belum juga mempertemukan rindu. Biarlah garis
awan-awan merangkaikan lukisan semesta. Merapatkan dari sudut ke sudut ujung
langit. Sedang mulut kita saling merapalkan pada satu tanggal sakral.
Terkelupas sedikit kulit ari diujung jari karena mawar yang berduri. Kepada
parasnya anggrek yang tersisa di pinggir jalan itu, aku sematkan berjuta kata
yang tertahan dikepala. Serta rasa yang lidahku belum juga mampu mencicipi
pasti. Seperti Juni.
Semarang, 22-06-2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar