Senin, 29 Juli 2013

Sebuah Pagi, Aku Menimbun Kecerian Pada Mereka


            Teet- tanggal 22 Juli di mulai, hanya gugup yang mewakili. Hari pertama PPL (Praktek Pengalaman Lapangan). Menyiapkan diri untuk berangkat pagi-pagi. Tak ada yang menggetarkan dalam jiwa ini selain rasa ketidak percayaan bahwa akhirnya aku telah menempuh PPL.
            Senin mulai berjalan, hingga berganti selasa hingga seterusnya. Aku selalu menunggu kejadian apa yang akan terjadi di setiap harinya. Pasalnya, setiap hari ada saja kejadian yang -aneh- membuat aku dan teman-teman diberi nasehat. Seperti halnya, selasa lalu, kami berangkat lebih awal sekali saat guru-guru belum menempati ruangnya masing-masing. Alhasil, karena kami berangkat dulu, masih sepi ketika kami sampai di ruang guru untuk absen, kami ditegur “Kok nggak kelihatan anak-anak IAIN Walisongo, Tadi berangkat jam berapa?”, saat kami menjawab “kami berangkat jam 06.45, Bu”, Ibu guru tersebut justru menampangkan raut wajah yang tidak percaya, sembari bertanya-tanya lagi “Masak?, Apa Iya”. Lebih parahnya, kami ditegur dihadapan banyak guru. Aku semakin menyadari bahwa menjadi orang yang dinilai dan diamati ternyata bukan hal yang mudah. Aku jadi ingat, betapa ALLAH selalu mengamatiku, tetapi aku selalu lolos untuk melakukan laranganNya. Tidak jika diamati oleh manusia, salah sedikit sudah tak karuan mendapatkan peringatannya.
            Suatu hari lagi, kami yang masih awal dan minim pembekalan, bingung sekali harus melakukan apa pada waktu observasi fisik bangunan sekolah. Ketika kami bertanya-tanya pada Waka Kurikulum, kami diarahkan kesini kesitu, muter-muter tak karuan. Duh, aku menyadari lagi, seperti ini rasanya menumbuhkan kepercayaan dan belajar tanggung jawab.
            Lagi, pada suatu hari saat berpamitan pulang, aku bersalaman pada seorang guru. Ketika aku menghampirinya yang ada jawabnya, “Duh, jane jeg sibuk”, Duh aku mulai tertekan lagi.
            Aku bukannya ingin menceritakan kengerian- kengerian di tempat PPL. Percaya kan, bahwa segala sesuatu pasti ada sisi baik dan kurang baiknya. terlepas dari segala problematika PPL, masih banyak guru terutama Pak Bambang Waka Kesiswaan dengan ketulusan dan kupikir agak nyungkani mengarahkan kami. bagaimana tidak, awal berjumpa aku ditanya “Kamu sudah punya pacar kan?”, Duh aku jawab saja semauku. Lantas beliau menimpali “berarti kamu sudah punya, itu namanya ikhtiar hati, berdo’a saja”, aku nyeletuk menjawab “Do’anya apa Pak?”, lantas Beliau membacakan surat yusuf sembari bergumam “kamu itu anak IAIN kok nggak tahu doanya”, temanku menimpali “Maklum Pak, tidak ada di mata kuliah”, hehehe.
            Selama PPL ini, hanya sekali aku merasakan kesejukan. Suatu pagi, saat aku melangkah memasuki ruang sekolah, sekumpulan siswi-siswi kelas VII menyapaku dengan penuh keceriaan, “Pagi, Bu”. Sungguh, hatiku berdesir, seketika segala kemalasanku dan ketidaknyamananku terhapuskan oleh keceriaan mereka. pikirku, melesit pada masa yang telah terlalui, saat aku seusia mereka, saat aku masih bisa menciptakan keceriaan tanpa beban, sungguh, aku berharap suatu ketika aku mampu menumbuhkan keceriaan disekelilingku meski saat ini aku sendiri lupa kapan aku tertawa ceria lepas tanpa beban. Sebuah pagi, aku menimbun kecerian pada mereka. hatiku terdalam merapalkan doa-doa untuk mereka. semoga kedalaman doaku mampu tersampaikan.


Semarang, 29-07-2013  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar