Teet-
tanggal 22 Juli di mulai, hanya gugup yang mewakili. Hari pertama PPL (Praktek
Pengalaman Lapangan). Menyiapkan diri untuk berangkat pagi-pagi. Tak ada yang
menggetarkan dalam jiwa ini selain rasa ketidak percayaan bahwa akhirnya aku
telah menempuh PPL.
Senin mulai
berjalan, hingga berganti selasa hingga seterusnya. Aku selalu menunggu
kejadian apa yang akan terjadi di setiap harinya. Pasalnya, setiap hari ada
saja kejadian yang -aneh- membuat aku dan teman-teman diberi nasehat. Seperti
halnya, selasa lalu, kami berangkat lebih awal sekali saat guru-guru belum
menempati ruangnya masing-masing. Alhasil, karena kami berangkat dulu, masih
sepi ketika kami sampai di ruang guru untuk absen, kami ditegur “Kok nggak
kelihatan anak-anak IAIN Walisongo, Tadi berangkat jam berapa?”, saat kami
menjawab “kami berangkat jam 06.45, Bu”, Ibu guru tersebut justru menampangkan
raut wajah yang tidak percaya, sembari bertanya-tanya lagi “Masak?, Apa Iya”.
Lebih parahnya, kami ditegur dihadapan banyak guru. Aku semakin menyadari bahwa
menjadi orang yang dinilai dan diamati ternyata bukan hal yang mudah. Aku jadi
ingat, betapa ALLAH selalu mengamatiku, tetapi aku selalu lolos untuk melakukan
laranganNya. Tidak jika diamati oleh manusia, salah sedikit sudah tak karuan
mendapatkan peringatannya.
Suatu hari
lagi, kami yang masih awal dan minim pembekalan, bingung sekali harus melakukan
apa pada waktu observasi fisik bangunan sekolah. Ketika kami bertanya-tanya
pada Waka Kurikulum, kami diarahkan kesini kesitu, muter-muter tak karuan. Duh,
aku menyadari lagi, seperti ini rasanya menumbuhkan kepercayaan dan belajar
tanggung jawab.
Lagi, pada
suatu hari saat berpamitan pulang, aku bersalaman pada seorang guru. Ketika aku
menghampirinya yang ada jawabnya, “Duh, jane jeg sibuk”, Duh aku mulai tertekan
lagi.
Aku
bukannya ingin menceritakan kengerian- kengerian di tempat PPL. Percaya kan,
bahwa segala sesuatu pasti ada sisi baik dan kurang baiknya. terlepas dari
segala problematika PPL, masih banyak guru terutama Pak Bambang Waka Kesiswaan
dengan ketulusan dan kupikir agak nyungkani mengarahkan kami. bagaimana
tidak, awal berjumpa aku ditanya “Kamu sudah punya pacar kan?”, Duh aku jawab
saja semauku. Lantas beliau menimpali “berarti kamu sudah punya, itu namanya
ikhtiar hati, berdo’a saja”, aku nyeletuk menjawab “Do’anya apa Pak?”, lantas
Beliau membacakan surat yusuf sembari bergumam “kamu itu anak IAIN kok nggak
tahu doanya”, temanku menimpali “Maklum Pak, tidak ada di mata kuliah”, hehehe.
Selama PPL
ini, hanya sekali aku merasakan kesejukan. Suatu pagi, saat aku melangkah
memasuki ruang sekolah, sekumpulan siswi-siswi kelas VII menyapaku dengan penuh
keceriaan, “Pagi, Bu”. Sungguh, hatiku berdesir, seketika segala kemalasanku
dan ketidaknyamananku terhapuskan oleh keceriaan mereka. pikirku, melesit pada
masa yang telah terlalui, saat aku seusia mereka, saat aku masih bisa
menciptakan keceriaan tanpa beban, sungguh, aku berharap suatu ketika aku mampu
menumbuhkan keceriaan disekelilingku meski saat ini aku sendiri lupa kapan aku
tertawa ceria lepas tanpa beban. Sebuah pagi, aku menimbun kecerian pada
mereka. hatiku terdalam merapalkan doa-doa untuk mereka. semoga kedalaman doaku
mampu tersampaikan.
Semarang, 29-07-2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar