Setiap
pagi, pukul 04.00 Ia telah mendahului mentari untuk terbangun. Disaat aku masih
asyik dengan mimpi-mimpi yang amburadulku, Ibu telah menyiapkan bahan-bahan,
bumbu-bumbu di dapur, menanak nasi, lantas pukul 06.00 Ia berangkat ke Pasar
untuk membeli keperluan. Begitulah Ibu, yang tak pernah rela aku berangkat
kuliah pagi tanpa sarapan terlebih dahulu. Begitulah Ibu, yang saat aku pamit
pergi untuk bersenang-senang dengan pacarku Ibu selalu membawakan macam-macam
cemilan kecil yang tak selalu tersedia di rumah, tapi pada saat itu ada.
Ibu, yang
sekali pernah kutanakkan nasi, kudadarkan telur saat aku berusia 10 tahun
ketika Ibu tak berdaya oleh sakit. Ibu yang hingga saat ini, dengan segala
kekurangannya selalu berusaha memenuhi kebutuhanku, kemauanku. Ibu yang hingga
aku berusia 21 tahun ini masih saja menyayangiku seperti ketika aku masih SD.
Sungguh, aku tak mampu menuliskan kebaikan-kebaikanmu Ibu,
karena kata-kata mana yang mampu mewakilkan segala rasaku pada Ibu. Aku belajar
padamu Ibu, pada peluhmu, pada tangismu, pada belaimu, pada matamu, pada
cintamu, pada tulusmu.
Ibu, semoga
aku diberi kesempatan ALLAH untuk membahagiakanmu, Ibu, Ibu, Ibu, Bapak...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar