Senin, 29 Juli 2013

Seorang Perempuan yang Kupanggil Ibu


            Setiap pagi, pukul 04.00 Ia telah mendahului mentari untuk terbangun. Disaat aku masih asyik dengan mimpi-mimpi yang amburadulku, Ibu telah menyiapkan bahan-bahan, bumbu-bumbu di dapur, menanak nasi, lantas pukul 06.00 Ia berangkat ke Pasar untuk membeli keperluan. Begitulah Ibu, yang tak pernah rela aku berangkat kuliah pagi tanpa sarapan terlebih dahulu. Begitulah Ibu, yang saat aku pamit pergi untuk bersenang-senang dengan pacarku Ibu selalu membawakan macam-macam cemilan kecil yang tak selalu tersedia di rumah, tapi pada saat itu ada.
            Ibu, yang sekali pernah kutanakkan nasi, kudadarkan telur saat aku berusia 10 tahun ketika Ibu tak berdaya oleh sakit. Ibu yang hingga saat ini, dengan segala kekurangannya selalu berusaha memenuhi kebutuhanku, kemauanku. Ibu yang hingga aku berusia 21 tahun ini masih saja menyayangiku seperti ketika aku masih SD.
Sungguh, aku tak mampu menuliskan kebaikan-kebaikanmu Ibu, karena kata-kata mana yang mampu mewakilkan segala rasaku pada Ibu. Aku belajar padamu Ibu, pada peluhmu, pada tangismu, pada belaimu, pada matamu, pada cintamu, pada tulusmu.

            Ibu, semoga aku diberi kesempatan ALLAH untuk membahagiakanmu, Ibu, Ibu, Ibu, Bapak...     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar