Selasa, 30 Juli 2013

Kelak Kau Ingin Jadi Apa?, Tidak Harus Jadi Guru, Kan ?


            Menyadari, ternyata selama ini masih berjalan seminggu lebih 2 hari. Terasa lama sekali. Seorang teman nyeletuk: “Berarti kita belum betah ya disini?,”. Dua jam masuk kelas di hari ini, memberikan pelajaran tersendiri. Betapa mereka, para siswa-siswa jahil dan aktif sekali.
             Di masjid, setelah bersitegang sama siswa yang bandel yang bolos kegiatan sholat dhuha dan tadarus bersama akhirnya terduduk di sudut masjid bersama seorang kawan. Tak lama kemudian dihampiri oleh seorang guru, bertanya padaku, berawal dari nama, alamat, hingga akhirnya terkuak sebuah fakta bahwa beliau adalah teman dari tetanggaku. Akhirnya, dititipi salam deh. Heuheu. Kembali kepertanyaan, “Kelak jadi guru, kan?”, tanya Beliau. Duh, pertanyaan yang sering menghampiriku beberapa waktu ini. Beberapa waktu, seorang teman PPL dari kampus lain ketika berdoa, ia mengucapkan doa seperti ini: “Semoga kelak kita semua jadi PNS”. Duh, aku jadi bingung, di amini apa nggak, yang pasti aku ragu-ragu. Hmmm. 
            Lanjut ke Beliau guru tadi, ia melanjutkan tausyiahnya sudah harus mempunyai planning kedepan mau ngajar dimana, kalau bisa ya ngajar di negeri. Akan tetapi, segala sesuatunya itu harus diperjuangkan sejak saat ini, yang sering puasa senin kamis serta puasa pada hari lahirmu, saya juga dulu begitu, papar Beliau. “kelak kau ingin jadi apa”, akh tanggungjawab baru yang harus kuemban dan kucari secepatnya. Bukan jadi apanya nanti sebagainya goalnya, tetapi beberapa waktu ini cukup menyadarkanku bahwa aku mempunyai tanggung jawab yang lebih berat. Bagaimana tidak, sekarang aku sudah berceramah didalam kelas, kata-kataku mulai digugu oleh anak-anak. Akh, beban mental juga.

            Cukup lelah duduk di masjid, aku berjalan keatas, ke Camp. Ternyata sudah duduk seorang guru disini. Dimulai lagi deh, menjawab pertanyaan, aslinya mana, namanya siapa. Ehm, aku jelaskan panjang lebar, dan lagi aku menguak fakta lagi kalau beliau teman tetanggaku, dan ketambahan satu fakta lagi, ternyata beliau orang Mojowarno. Hmmm, sempat aku menyimpulkan bahwa dunia ini semakin sempit.

            Setelah menanyai semua yang ada disini, akhirnya beliau memberi petuah lagi, “Kelak nggak harus jadi guru, kan?”, ujarnya. Akhirnya kutemukan juga seseorang pendidik yang tidak menganjurkan menjadi pendidik, haaa lega. Beliau bercerita tentang temannya saat ini menjadi penjahit, dulu temannya itu dua kali mendaftar menjadi guru gagal hingga akhirnya memutuskan bekerja menjadi penjahit. Ah, alhamdulilah, suatu hal yang terjadi nanti adalah kehendakNya, sekarang, aku hanya mampu berikhtiar sekuat tenaga serta seikhlas mungkin, seperti ucapan Bapak: “Masalah sesok meh dadi opo, serahke karo Pangeran”,.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar