Menyadari,
ternyata selama ini masih berjalan seminggu lebih 2 hari. Terasa lama sekali.
Seorang teman nyeletuk: “Berarti kita belum betah ya disini?,”. Dua jam masuk
kelas di hari ini, memberikan pelajaran tersendiri. Betapa mereka, para
siswa-siswa jahil dan aktif sekali.
Di masjid, setelah bersitegang sama siswa yang
bandel yang bolos kegiatan sholat dhuha dan tadarus bersama akhirnya terduduk
di sudut masjid bersama seorang kawan. Tak lama kemudian dihampiri oleh seorang
guru, bertanya padaku, berawal dari nama, alamat, hingga akhirnya terkuak
sebuah fakta bahwa beliau adalah teman dari tetanggaku. Akhirnya, dititipi
salam deh. Heuheu. Kembali kepertanyaan, “Kelak jadi guru, kan?”, tanya Beliau.
Duh, pertanyaan yang sering menghampiriku beberapa waktu ini. Beberapa waktu,
seorang teman PPL dari kampus lain ketika berdoa, ia mengucapkan doa seperti
ini: “Semoga kelak kita semua jadi PNS”. Duh, aku jadi bingung, di amini apa
nggak, yang pasti aku ragu-ragu. Hmmm.
Lanjut ke Beliau guru tadi, ia
melanjutkan tausyiahnya sudah harus mempunyai planning kedepan
mau ngajar dimana, kalau bisa ya ngajar di negeri. Akan tetapi, segala
sesuatunya itu harus diperjuangkan sejak saat ini, yang sering puasa senin
kamis serta puasa pada hari lahirmu, saya juga dulu begitu, papar Beliau.
“kelak kau ingin jadi apa”, akh tanggungjawab baru yang harus kuemban dan
kucari secepatnya. Bukan jadi apanya nanti sebagainya goalnya, tetapi beberapa
waktu ini cukup menyadarkanku bahwa aku mempunyai tanggung jawab yang lebih
berat. Bagaimana tidak, sekarang aku sudah berceramah didalam kelas,
kata-kataku mulai digugu oleh anak-anak. Akh, beban mental juga.
Cukup lelah
duduk di masjid, aku berjalan keatas, ke Camp. Ternyata sudah duduk
seorang guru disini. Dimulai lagi deh, menjawab pertanyaan, aslinya mana,
namanya siapa. Ehm, aku jelaskan panjang lebar, dan lagi aku menguak fakta lagi
kalau beliau teman tetanggaku, dan ketambahan satu fakta lagi, ternyata beliau
orang Mojowarno. Hmmm, sempat aku menyimpulkan bahwa dunia ini semakin sempit.
Setelah
menanyai semua yang ada disini, akhirnya beliau memberi petuah lagi, “Kelak
nggak harus jadi guru, kan?”, ujarnya. Akhirnya kutemukan juga seseorang
pendidik yang tidak menganjurkan menjadi pendidik, haaa lega. Beliau bercerita
tentang temannya saat ini menjadi penjahit, dulu temannya itu dua kali
mendaftar menjadi guru gagal hingga akhirnya memutuskan bekerja menjadi
penjahit. Ah, alhamdulilah, suatu hal yang terjadi nanti adalah kehendakNya,
sekarang, aku hanya mampu berikhtiar sekuat tenaga serta seikhlas mungkin,
seperti ucapan Bapak: “Masalah sesok meh dadi opo, serahke karo Pangeran”,.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar