Sabtu, 03 Agustus 2013

Celoteh Polos Siswi SMP Kelas


            Beberapa waktu berada di sekolah, memasuki kelas VII, VIII juga IX, mulai bisa membedakan karakteristik dari setiap jenjang. Ternyata, betapa tarpaut setahun saja telah mengalami perbedaan yang cukup signifikan dalam tingkah laku mereka. Teringat diriku sendiri, seselama berjalan saat ini, bertambah usia, aku belum menjumpai perubahan-perubahan yang signifikant yang aku rasakan, entah dari orang yang mengamatiku –jika ada. Suatu peringatan bagiku juga, agar selalu bercermin dan lebih memaknai di setiap langkah (semoga).
            Di sela-sela penjelasan yang kusampaikan di kelas IX, aku bertanya kepada mereka : “Ada yang ingin ditanyakan?”, seorang siswi mengacungka jarinya, lantas bertanya dengan malu-malu. “Iya, ingin bertanya tentang apa ?”, dengan kata-kata yang terbata-bata ia menjelaskan pertanyaannya “Bu’, kalau lagi puasa, terus ngliat yang aneh-aneh itu gimana Bu’, puasanya batal nggak Bu’?, tanya siswi tersebut. Aku tersenyum, lantas berjalan mendekati –aku tak ingin pertanyaan seperti itu dibahas dan dimengerti lebih banyak siswa- kulirihkan suaraku, aku meminta ia menjelaskan apa maksud pertanyaan ia. “Gini Bu’, waktu saya di warnet, saya nggak sengaja orang lagi gituan -entah yang dimaksud gituan sampai seperti apa- lalu salah satu dari mereka menyisipkan uang dua puluh ribu dikantongku  Bu’, bagaimana hukumnya puasaku Bu pada waktu itu, apakah jadi batal?, dan bagaimana hukum uang itu Bu?”. Deggg, menusuk rasanya, sekecil ini harus mengerti hal yang patutnya belum ia tahu. Aku semakin gusar, semakin gelisah, bagaimana kelak?, bagaimana aku menjaga anak-anakku. Batinku sungguh tak tenang. Seperti diingatkan oleh anak polos itu.
            Bagaimana bisa aku yang seperti ini memberikan nasihat kepada anak-anak, sedangkan aku sendiri penuh kekurangan dan kesalahan. Sungguh, setiap kali aku harus menasehati anak-anak, batinku malu sekali, seperti aku ditertawakan oleh diriku sendiri. Tapi, terlepas dari gejolak di dalam diri ini, aku lupakan demi anak-anak. aku seperti merasa sedikit menjadi orang tua, setiap nasihat yang kau berikan adalah harapan dan doa-doa untuk mereka. Duh Gusti, aku malu sekali rasanya.



Dalam Agustus 2013   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar