Kali ini minggu menjadi waktu yang sungguh benar-benar
dinanti. Setelah enam hari memiliki pagi yang buru-buru, berjibaku dengan deru
kendaraan dijalanan. Tak nyenyak tidur sebab pagi selalu ingin dijumpai dalam
waktu yang sama serta tepat: pukul 07.00.
Sesore ini, aku mengingat malam ini malam minggu. Seperti
halnya malam-malam lainnya malam ini tetap sama yang membedakan adalah esok
libur. Aku telah berikrar dengan diriku sendiri sejak aku mengenalmu. Sejak
suatu sabtu sore menuju malam minggu kau berpamitan beranjak menuju Pekalongan.
Dan kita berikrar, begitulah malam selalu sama, yang membedakan adalah jika
malam itu ada kau dan aku melebur menjadi kita.
Saat
mega merah perlahan mengundurkan diri, aku mulai menikmati jalanan pulang.
Beginilah jalan dan malam adalah teman yang dalam. Tak seperti malam minggu
yang biasanya, jalanan malam ini terlalu sepi. Barangkali, masih terlalu dini
untuk merayakan malam minggu. Di suatu jalan, menciumi bau parfum wangi
orang-orang yang –barangkali- akan menikmati malam minggu. Begitu wangi dan
rapi, sedangkan aku sendiri belum mandi. Masih dengan baju yang seharian
kupakai serta keringat yang melekat.
Lagi,
pemandangan kudapati. Di depanku ada
sepasang muda mudi yang berboncengan. Tanpa pegangan, tanpa memeluk pinggang. Si perempuan yang duduk miring itu
tersenyum-senyum sendiri. Kulihat mereka tanpa percakapan, tetapi –mungkin- aku
dapat merasakan senyum perempuan itu. Senyumnya mengingatkanku pada diriku,
yang seringkali senyum-senyum sendiri saat kau boncengkan. Entah kenapa. Lalu,
dibelakang traffic light aku berpisah dari muda-mudi yang kubuntuti itu tetapi,
aku belum selesai mencari pemandangan lagi. Di bawah jembatan jalan tol, aku
menemukan –tuk kesekian kalinya- anak dan ibu tidur dipinggir jalan dibawah jembatan
itu. Tetapi kali ini berbeda, ada seorang muda mudi yang menghentikan motornya
tak jauh dari tempat orang jalanan itu tidur. Si perempuan berjalan mendekati
anak ibu itu. kupikir, barangkali mereka akan membagi iba kepada anak ibu
tersebut.
Di sepanjang jalan aku teringat, meski aku-kau tak
mensakralkan malam minggu. Tetapi sesekali pernah juga kita sengaja
merayakannya. Mengubah malam menjadi singkat dengan pertemuan. Ya, suatu malam
minggu kita pernah berkencan bukan?. Di kota yang hidup lebih tua dari kita. Di
lampu-lampu temaram yang remang dengan cahaya kekuningan. Serta kicauan burung
gereja yang mengalunkan suaranya menghantarkan kita pada malam. Pada
paving-paving jalan yang kuanggap mencatat langkah kita, serta tiang-tiang yang
kau buat bersembunyi lantas mengagetkanku. Kau bilang, “kita seperti
india-indiaan ya”. Haha. Aku tersenyum sayang, seperti perempuan itu, meski aku
tak diboncengkan. Akh, jalan membawaku
pikiranku begitu dalam.
Biarlah aku tak punya malam minggu, asal kupunya kau yang
selalu bisa mengubah malam-malamku menjadi syahdu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar