Rabu, 28 Agustus 2013

Malam Minggu di Sepanjang Jalan


            Kali ini minggu menjadi waktu yang sungguh benar-benar dinanti. Setelah enam hari memiliki pagi yang buru-buru, berjibaku dengan deru kendaraan dijalanan. Tak nyenyak tidur sebab pagi selalu ingin dijumpai dalam waktu yang sama serta tepat: pukul 07.00.
            Sesore ini, aku mengingat malam ini malam minggu. Seperti halnya malam-malam lainnya malam ini tetap sama yang membedakan adalah esok libur. Aku telah berikrar dengan diriku sendiri sejak aku mengenalmu. Sejak suatu sabtu sore menuju malam minggu kau berpamitan beranjak menuju Pekalongan. Dan kita berikrar, begitulah malam selalu sama, yang membedakan adalah jika malam itu ada kau dan aku melebur menjadi kita.
            Saat mega merah perlahan mengundurkan diri, aku mulai menikmati jalanan pulang. Beginilah jalan dan malam adalah teman yang dalam. Tak seperti malam minggu yang biasanya, jalanan malam ini terlalu sepi. Barangkali, masih terlalu dini untuk merayakan malam minggu. Di suatu jalan, menciumi bau parfum wangi orang-orang yang –barangkali- akan menikmati malam minggu. Begitu wangi dan rapi, sedangkan aku sendiri belum mandi. Masih dengan baju yang seharian kupakai serta keringat yang melekat.
            Lagi, pemandangan kudapati.  Di depanku ada sepasang muda mudi yang berboncengan. Tanpa pegangan, tanpa memeluk pinggang.  Si perempuan yang duduk miring itu tersenyum-senyum sendiri. Kulihat mereka tanpa percakapan, tetapi –mungkin- aku dapat merasakan senyum perempuan itu. Senyumnya mengingatkanku pada diriku, yang seringkali senyum-senyum sendiri saat kau boncengkan. Entah kenapa. Lalu, dibelakang traffic light aku berpisah dari muda-mudi yang kubuntuti itu tetapi, aku belum selesai mencari pemandangan lagi. Di bawah jembatan jalan tol, aku menemukan –tuk kesekian kalinya- anak dan ibu tidur dipinggir jalan dibawah jembatan itu. Tetapi kali ini berbeda, ada seorang muda mudi yang menghentikan motornya tak jauh dari tempat orang jalanan itu tidur. Si perempuan berjalan mendekati anak ibu itu. kupikir, barangkali mereka akan membagi iba kepada anak ibu tersebut.
            Di sepanjang jalan aku teringat, meski aku-kau tak mensakralkan malam minggu. Tetapi sesekali pernah juga kita sengaja merayakannya. Mengubah malam menjadi singkat dengan pertemuan. Ya, suatu malam minggu kita pernah berkencan bukan?. Di kota yang hidup lebih tua dari kita. Di lampu-lampu temaram yang remang dengan cahaya kekuningan. Serta kicauan burung gereja yang mengalunkan suaranya menghantarkan kita pada malam. Pada paving-paving jalan yang kuanggap mencatat langkah kita, serta tiang-tiang yang kau buat bersembunyi lantas mengagetkanku. Kau bilang, “kita seperti india-indiaan ya”. Haha. Aku tersenyum sayang, seperti perempuan itu, meski aku tak diboncengkan.  Akh, jalan membawaku pikiranku begitu dalam.


            Biarlah aku tak punya malam minggu, asal kupunya kau yang selalu bisa mengubah malam-malamku menjadi syahdu.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar