Malam Tanpa Bulan
Di setiap malam kutemukan kerinduan: Ibu. Ibu adalah bulanku, yang
selalu memberikan keteduhan di setiap malam. Aku menyayangimu: Ibu.
Gerrrttt-gerrrttt.....
getar Handphone membangunkanku. Satu
pesan diterima, tertulis di layarnya. Kurasakan detak-detak jarum di dinding
kamar. Bola mataku melirik arah suara itu. Menunjukkan pukul 01.00 WIB.
Kuterbangun, pikirku langsung tertuju pada Ibu. Kuberjalan menuju kamarnya,
kupastikan apa ia telah berada di tempat tidurnya. Akh, lagi-lagi kutemukan
pemandangan yang sama. Ibu belum juga kembali ke rumah. Sialnya, aku hanya
mampu terdiam mengerti keadaan ini. Aku pun tak pernah berani bertanya kepadanya,
tentang apa yang dilakukannya di luar sana. Sehingga sepekat ini ia belum juga menjamah kasur usangnya.
Aku kembali ke
kamarku. Pikirku hanya tertuju pada Ibu. “Kemana ibu?, Adakah ia baik-baik saja
diluar sana?, Apa yang dilakukan Ibu diluar sana?”, pikirku terjejali oleh
pertanyaan-pertanyaan yang jawabnya masih enggan menghampiriku. Yang lebih
membebaniku ialah “Adakah Ibu masih mengingatku dalam setiap langkahnya?”. Yah,
sudah tak seperti Ibu yang lima tahun silam menemaniku.
Berawal dari kejadian
itu. Saat usiaku tepat 12 tahun, hampir saja aku celaka ditabrak mobil. Saat
menyeberang jalan seusai pulang sekolah.
Ayah pada waktu itu sedang menjemputku. Melihat kejadian tersebut, Ayah dengan
sigap menyelamatkanku. Aku selamat, tak sedikit terluka. Tetapi Ayah, aku harus
kehilangan Ayah. Kehilangan Ayah ternyata membuatku kehilangan Ibu juga. Jiwa
ibu memang masih hadir sampai sekarang kuberada. Namun kepergian Ayah seolah
membutakan jiwa dan bathin Ibu. Ibu yang dulu selalu berlaku lembut kepadaku.
Ibu selalu memperhatikanku. Menyayangiku dengan kelembutan. Ibu yang selalu
membacakan dongeng saat aku akan terlelap. Yah, itulah Ibuku, lima tahun yang
lalu, sebelum kepergian Ayah.
***
***
Mentari telah menyuarakan
ocehan-ocehan ayam dan burung. Membangunkanku. Aku bergegas bersiap-siap
sekolah. Aku masih bisa bersekolah. Ibu memang masih sanggup memenuhi kebutuhan
materiku meski ia telah menjadi single parent. Entah darimana ia
mendapatkan uang, aku hanya terbungkam. Pernah aku bertanya tentang darimana
Ibu mendapatkan uang, namun jawabnya, “Peduli apa kau dengan diriku, tak usah
kau pikirkan darimana uang ini kudapat, diam sajalah anak sial” ucap Ibu. Ibu
sekarang menjadi sosok yang pendiam, keras, pemarah, setelah kepergian Ayah.
Bahkan Ibu tak segan-segan memukulku saat aku bertindak baginya. Setiap kali
aku hadir mendekati Ibu, hanya tamparan, cacian yang kudapat, meski aku pun
jarang berkomunikasi dengan Ibu. Aku hanya bertatap muka beberapa jam saja tiap
harinya. Ketika pagi kuberangkat sekolah, Ibu masih terlelap. Dan aku hanya
berangkat begitu saja. Aku pernah membangunkan Ibu tuk berpamitan, bukan
kecupan yang kudapati justru Ibu memarahiku, tamparan pun mendarat dipipiku.
Teeeett, teeeet,
bel sekolah berbunyi, sorak sorai teman-teman menjadi instrumen yang
mengasilkan nada khas untuk menandakan keriangan mereka atas usainya kegiatan
belajar di hari ini. Beberapa detik berlalu, kukemasi alat-alat tulisku, dan
aku berjalan menuju luar kelas.
Aku duduk di
halte yang berada tak jauh dari sekolahku. Sembari menunggu angkutan yang
mengantarku hingga rumah nanti. Aku harus cepat-cepat pulang agar aku dapat menjumpai
Ibu sebelum Ibu pergi keluar dari rumah.
Ini dia angkutan
yang ku tunggu datang juga, aku berjalan masuk kedalam angkutan, mencari-cari
bangku kosong. Aku duduk disamping seorang Ibu yang sepertinya usai dari
bekerja, membawa tas dan beberapa stopmap berisi kertas-kertas yang mungkin
berkas-berkas. Terik siang hari ini cukup memandikanku dengan peluh. Ku geser
kaca jendela angkot agar ada sedikit ruang terbuka untuk udara masuk sekedar
menjadikan kipas angin tuk memberi sedikit kesegaran.
Dan didepanku,
kulihat seorang anak perempuan memegang sebuah buku bersampul plastik tebal dan
tertulis namanya serta nama sekolahnya, sepertinya itu raport. Anak perempuan
kecil itu duduk disamping Ibunya sembari membolak-balik saja kertas-kertas
putih di buku itu. Kudengarkan sedikit celotehannya, “Ibu, Ibu, berarti aku
dapat hadiah tas baru ya?, kan aku dapat peringkat satu Bu”, dengan lantang dan
riang ia menagih janjinya kepada Ibunya. “Iya sayang, besok pasti Ibu belikan”,
jawab Ibunya sambil mengusap kepala anaknya itu. “kamu memang pintar, sayang,
Imbuh Ibu itu.
Seketika pikirku
tertuju pada Ibu, andai aku menjadi anak kecil perempuan itu, ah tidak, Ibuku
tetap Ibu yang terbaik. Aku semakin
ingin bergegas sampai ke rumah, memasakkan Ibu masakan kesukaannya. Pada saat
itu, aku akan membujuk Ibu untuk mau mengambilkan raportku. Sudah lama sejak
kepergian Ayah, Ibu tak pernah mau mengambilkan rapotku. Ketika aku memintanya
mengambilkan rapotku, selalu saja kutemukan tante Titi yang datang ke sekolahku
tuk mengambilkan raportku. Selalu saja seperti itu. Dan besok, aku ingin Ibu
dengan bangga melihat prestasiku selama ini. Pasalnya, untuk melihat raportku
saja Ibu tidak pernah mau. Ibu terlalu acuh dengan diriku. Sesekali pernah ku
perlihatkan sebuah piala saat aku menjadi juara lomba karya ilmiah. Ibu hanya
pergi begitu saja saat aku mulai menjelaskan perihal kejuaraanku itu.
Sore itu, semua
hidangan telah tertata rapi di meja makan. Serapi Ibu. Kuketuk pintu kamar Ibu,
kuajak Ibu untuk makan bersama. Bersama tante Titi, Ibu keluar dari dalam
kamar, tante Titi adalah teman Ibu yang sudah lama tinggal bersama kami, selama
perubahan Ibu sejak kepergian Ayah. Aku tak pernah tahu bagaimana silsilah
keluargaku dengannya. Tetapi setiap Ibu pergi kemana-mana ia selalu menyertakan
tante Titi. Aku pun diam saja tak peduli, sebab bagiku sosok tante Titi adalah
sosok yang baik, ia penyayang meski ia bukan siapa-siapaku. Tak jarang ia
memberiku hadiah atas prestasiku di sekolah. Sebab selama ini yang mengetahui prestasiku ialah tante Titi.
“Bu, esok adalah
pengambilan raport, aku harap Ibu mau hadir ke sekolah mengambilkan raportku”,
aku mengawali percakapan di ruang makan itu. “Biar tante Titi yang
mengambilkannya, jawab Ibu”. Lagi-lagi hatiku menciut mendengar jawaban itu.
Dan Ibu langsung saja pergi ke kamarnya, tanpa menghabiskan makanannya. “Sabar
ya sayang, suatu saat nanti Ibumu pasti berubah”, ucap tante Titi
menenangkanku. Aku hanya tersenyum, meski hatiku benar-benar menangis, teringat
seorang anak perempuan dan Ibunya tadi di angkot sewaktu aku pulang sekolah.
***
Kutemukan satu
persatu orang tua murid meninggalkan ruang kelas dengan membawa raport. Hingga
ruangan sepi, kosong, hanya ada aku dan Ibu guru. “Ranti, di mana orang tuamu,
Kenapa tak datang juga?”, tanya Ibu guru kepadaku. “Ibu sudah harus pergi ini, masih
ada acara lain, raportmu tidak bisa kamu ambil sendiri, sementara waktu biar
raport ini Ibu pegang saja ya?”, ucap Ibu Guru kepadaku. Dengan langkah yang
rapuh aku pun keluar dari kelas. Sesiang
ini memang hanya beberapa siswa saja yang masih nampak berada di
bangunan sekolah ini. Sementara aku berjalan keluar dari sekolah, melangkah
lemas, pula menahan airmata.
Aku terpaku di
pinggir jalan, membayangkan wajah Ibu. Ibu, mataku menangkap sosok Ibu, seperti
berjalan mendekatiku, di seberang jalan itu. Ibu tersenyum. Tapi benarkah itu
Ibu. Aku tak begitu percaya, apakah itu benar-benar Ibu, atau hanya bayangan
Ibu saja yang ada di pikiranku sebab aku benar-benar merindukan ia. Aku
berjalan menyeberangi jalan dengan langkah yang lemas, tanpa peduli kanan-kiriku.
Dalam batinku aku hanya ingin cepat-cepat sampai memeluk Ibu. Ibu yang selalu
kurindukan, kini berjalan menuju arahku, dengan senyum khasnya yang lama sekali
tak kujumpai.
Awas...Brakkk... aku tak tahu apa yang
terjadi. Yang kutahu aku telah berada dipangkuan Ibu, kedua tangannya
memelukku. Dan kulihat wajahnya samar-samar di depanku, tetapi Ibu menangis.
wajahnya samar-samar nampak di depan mataku ada “Ibu”, ucapku. “Maafkan Ibu,
sayang” suaranya pun samar-samar terdengar. Aku terpejam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar