Kamis, 08 Agustus 2013

Malam Tanpa Bulan
Di setiap malam kutemukan kerinduan: Ibu. Ibu adalah bulanku, yang selalu memberikan keteduhan di setiap malam. Aku menyayangimu: Ibu.
            Gerrrttt-gerrrttt..... getar  Handphone membangunkanku. Satu pesan diterima, tertulis di layarnya. Kurasakan detak-detak jarum di dinding kamar. Bola mataku melirik arah suara itu. Menunjukkan pukul 01.00 WIB. Kuterbangun, pikirku langsung tertuju pada Ibu. Kuberjalan menuju kamarnya, kupastikan apa ia telah berada di tempat tidurnya. Akh, lagi-lagi kutemukan pemandangan yang sama. Ibu belum juga kembali ke rumah. Sialnya, aku hanya mampu terdiam mengerti keadaan ini. Aku pun tak pernah berani bertanya kepadanya, tentang apa yang dilakukannya di luar sana. Sehingga sepekat  ini ia belum juga menjamah kasur usangnya.
            Aku kembali ke kamarku. Pikirku hanya tertuju pada Ibu. “Kemana ibu?, Adakah ia baik-baik saja diluar sana?, Apa yang dilakukan Ibu diluar sana?”, pikirku terjejali oleh pertanyaan-pertanyaan yang jawabnya masih enggan menghampiriku. Yang lebih membebaniku ialah “Adakah Ibu masih mengingatku dalam setiap langkahnya?”. Yah, sudah tak seperti Ibu yang lima tahun silam menemaniku.
            Berawal dari kejadian itu. Saat usiaku tepat 12 tahun, hampir saja aku celaka ditabrak mobil. Saat menyeberang  jalan seusai pulang sekolah. Ayah pada waktu itu sedang menjemputku. Melihat kejadian tersebut, Ayah dengan sigap menyelamatkanku. Aku selamat, tak sedikit terluka. Tetapi Ayah, aku harus kehilangan Ayah. Kehilangan Ayah ternyata membuatku kehilangan Ibu juga. Jiwa ibu memang masih hadir sampai sekarang kuberada. Namun kepergian Ayah seolah membutakan jiwa dan bathin Ibu. Ibu yang dulu selalu berlaku lembut kepadaku. Ibu selalu memperhatikanku. Menyayangiku dengan kelembutan. Ibu yang selalu membacakan dongeng saat aku akan terlelap. Yah, itulah Ibuku, lima tahun yang lalu, sebelum kepergian Ayah.
***
            Mentari telah menyuarakan ocehan-ocehan ayam dan burung. Membangunkanku. Aku bergegas bersiap-siap sekolah. Aku masih bisa bersekolah. Ibu memang masih sanggup memenuhi kebutuhan materiku meski ia telah menjadi single parent. Entah darimana ia mendapatkan uang, aku hanya terbungkam. Pernah aku bertanya tentang darimana Ibu mendapatkan uang, namun jawabnya, “Peduli apa kau dengan diriku, tak usah kau pikirkan darimana uang ini kudapat, diam sajalah anak sial” ucap Ibu. Ibu sekarang menjadi sosok yang pendiam, keras, pemarah, setelah kepergian Ayah. Bahkan Ibu tak segan-segan memukulku saat aku bertindak baginya. Setiap kali aku hadir mendekati Ibu, hanya tamparan, cacian yang kudapat, meski aku pun jarang berkomunikasi dengan Ibu. Aku hanya bertatap muka beberapa jam saja tiap harinya. Ketika pagi kuberangkat sekolah, Ibu masih terlelap. Dan aku hanya berangkat begitu saja. Aku pernah membangunkan Ibu tuk berpamitan, bukan kecupan yang kudapati justru Ibu memarahiku, tamparan pun mendarat dipipiku.
            Teeeett, teeeet, bel sekolah berbunyi, sorak sorai teman-teman menjadi instrumen yang mengasilkan nada khas untuk menandakan keriangan mereka atas usainya kegiatan belajar di hari ini. Beberapa detik berlalu, kukemasi alat-alat tulisku, dan aku berjalan menuju luar kelas.
            Aku duduk di halte yang berada tak jauh dari sekolahku. Sembari menunggu angkutan yang mengantarku hingga rumah nanti. Aku harus cepat-cepat pulang agar aku dapat menjumpai Ibu sebelum Ibu pergi keluar dari rumah.
            Ini dia angkutan yang ku tunggu datang juga, aku berjalan masuk kedalam angkutan, mencari-cari bangku kosong. Aku duduk disamping seorang Ibu yang sepertinya usai dari bekerja, membawa tas dan beberapa stopmap berisi kertas-kertas yang mungkin berkas-berkas. Terik siang hari ini cukup memandikanku dengan peluh. Ku geser kaca jendela angkot agar ada sedikit ruang terbuka untuk udara masuk sekedar menjadikan kipas angin tuk memberi sedikit kesegaran.
            Dan didepanku, kulihat seorang anak perempuan memegang sebuah buku bersampul plastik tebal dan tertulis namanya serta nama sekolahnya, sepertinya itu raport. Anak perempuan kecil itu duduk disamping Ibunya sembari membolak-balik saja kertas-kertas putih di buku itu. Kudengarkan sedikit celotehannya, “Ibu, Ibu, berarti aku dapat hadiah tas baru ya?, kan aku dapat peringkat satu Bu”, dengan lantang dan riang ia menagih janjinya kepada Ibunya. “Iya sayang, besok pasti Ibu belikan”, jawab Ibunya sambil mengusap kepala anaknya itu. “kamu memang pintar, sayang, Imbuh Ibu itu.
            Seketika pikirku tertuju pada Ibu, andai aku menjadi anak kecil perempuan itu, ah tidak, Ibuku tetap Ibu yang terbaik.  Aku semakin ingin bergegas sampai ke rumah, memasakkan Ibu masakan kesukaannya. Pada saat itu, aku akan membujuk Ibu untuk mau mengambilkan raportku. Sudah lama sejak kepergian Ayah, Ibu tak pernah mau mengambilkan rapotku. Ketika aku memintanya mengambilkan rapotku, selalu saja kutemukan tante Titi yang datang ke sekolahku tuk mengambilkan raportku. Selalu saja seperti itu. Dan besok, aku ingin Ibu dengan bangga melihat prestasiku selama ini. Pasalnya, untuk melihat raportku saja Ibu tidak pernah mau. Ibu terlalu acuh dengan diriku. Sesekali pernah ku perlihatkan sebuah piala saat aku menjadi juara lomba karya ilmiah. Ibu hanya pergi begitu saja saat aku mulai menjelaskan perihal kejuaraanku itu.
            Sore itu, semua hidangan telah tertata rapi di meja makan. Serapi Ibu. Kuketuk pintu kamar Ibu, kuajak Ibu untuk makan bersama. Bersama tante Titi, Ibu keluar dari dalam kamar, tante Titi adalah teman Ibu yang sudah lama tinggal bersama kami, selama perubahan Ibu sejak kepergian Ayah. Aku tak pernah tahu bagaimana silsilah keluargaku dengannya. Tetapi setiap Ibu pergi kemana-mana ia selalu menyertakan tante Titi. Aku pun diam saja tak peduli, sebab bagiku sosok tante Titi adalah sosok yang baik, ia penyayang meski ia bukan siapa-siapaku. Tak jarang ia memberiku hadiah atas prestasiku di sekolah. Sebab selama ini  yang mengetahui prestasiku ialah tante Titi.
            “Bu, esok adalah pengambilan raport, aku harap Ibu mau hadir ke sekolah mengambilkan raportku”, aku mengawali percakapan di ruang makan itu. “Biar tante Titi yang mengambilkannya, jawab Ibu”. Lagi-lagi hatiku menciut mendengar jawaban itu. Dan Ibu langsung saja pergi ke kamarnya, tanpa menghabiskan makanannya. “Sabar ya sayang, suatu saat nanti Ibumu pasti berubah”, ucap tante Titi menenangkanku. Aku hanya tersenyum, meski hatiku benar-benar menangis, teringat seorang anak perempuan dan Ibunya tadi di angkot sewaktu aku pulang sekolah.
***
            Kutemukan satu persatu orang tua murid meninggalkan ruang kelas dengan membawa raport. Hingga ruangan sepi, kosong, hanya ada aku dan Ibu guru. “Ranti, di mana orang tuamu, Kenapa tak datang juga?”, tanya Ibu guru kepadaku. “Ibu sudah harus pergi ini, masih ada acara lain, raportmu tidak bisa kamu ambil sendiri, sementara waktu biar raport ini Ibu pegang saja ya?”, ucap Ibu Guru kepadaku. Dengan langkah yang rapuh aku pun keluar dari kelas. Sesiang  ini memang hanya beberapa siswa saja yang masih nampak berada di bangunan sekolah ini. Sementara aku berjalan keluar dari sekolah, melangkah lemas, pula menahan airmata.
            Aku terpaku di pinggir jalan, membayangkan wajah Ibu. Ibu, mataku menangkap sosok Ibu, seperti berjalan mendekatiku, di seberang jalan itu. Ibu tersenyum. Tapi benarkah itu Ibu. Aku tak begitu percaya, apakah itu benar-benar Ibu, atau hanya bayangan Ibu saja yang ada di pikiranku sebab aku benar-benar merindukan ia. Aku berjalan menyeberangi jalan dengan langkah yang lemas, tanpa peduli kanan-kiriku. Dalam batinku aku hanya ingin cepat-cepat sampai memeluk Ibu. Ibu yang selalu kurindukan, kini berjalan menuju arahku, dengan senyum khasnya yang lama sekali tak kujumpai.
             Awas...Brakkk... aku tak tahu apa yang terjadi. Yang kutahu aku telah berada dipangkuan Ibu, kedua tangannya memelukku. Dan kulihat wajahnya samar-samar di depanku, tetapi Ibu menangis. wajahnya samar-samar nampak di depan mataku ada “Ibu”, ucapku. “Maafkan Ibu, sayang” suaranya pun samar-samar terdengar. Aku terpejam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar