Sabtu, 03 Agustus 2013

Cintaku Bersembunyi di Balik Baju Bermerk

Apa artinya sebuah baju bermerk daripada kehilangan cinta?.

            Di sebuah siang yang cukup panas, membawaku untuk melangkah untuk berteduh di kost temen. Sesampainya disana disambut sebuah berita, cukup mengejutkan meski sudah terbiasa. “L, si J putus”, ucap temanku. “Kapan?”, tanyaku kembali. “semalem”, temanku menjawab lagi, “Kenapa putus?”, tanyaku pengen tahu. “katanya, putus gara-gara cowoknya kalau punya baju bermerk nggak pernah cerita sama si J”, jelas temanku. “Whaaatttt”, aku terbelalak seketika. Oh ternyata sekarang hal kayak gitu bisa jadi alasan untuk memutuskan sebuah hubungan ya, batinku. Aku menggeleng-nggeleng, sedikit merenung. Barangkali aku teringat beberapa waktu yang terjadi padaku. Betapa interaksi dalam suatu hubungan harus hati-hati.
            Sebuah hubungan adalah mewakili dua pikiran orang yang berusaha menyatukan, membentuk aturan serta nilai-nilai yang mereka anggap salah atau benar serta baik atau buruk. Begitu halnya, mengatur sikap dari seseorang dengan pasangannya, di mana letak marah, jengkel itu seharusnya ada. Terlebih aku menyadari, bahwa hubunganmu (sepasang) itu pasti beda dengan hubunganku (sepasang), aturan serta cara dalam hubunganku itu beda dengan hubunganmu. Begitu halnya, anggapan-anggapan hal yang dikatakan benar, baik, putus, hal yang perlu dijadikan marah, dan lain sebagainya. Jadi, jika menurutku putus gara-gara sang cowok kalau beli barang-barang bermerk tidak cerita sama ceweknya itu hal yang nggak wajar, aku tak bisa menyalahkan donk. Toh, bagi mereka itu hal yang wajar dan layak dijadikan alasan putus.
            Aku semakin tak mengerti arti hubungan yang dikatakan “cinta” oleh orang-orang. Bagaiman bisa kata putus itu terkesan diucapkan dengan “mudah” –terlihat- bagiku. Di mana lagi letak suatu pemaknaan dalam proses berjalan bersama. Yang aku miriskan lagi, di mana kata-kata yang mewakili ungkapan jiwa itu mudah terucap dimana letak percaya pada cinta dan suatu ketika aku takut jika kata-kata tak lagi bermakna. Dimana, orang mudah sekali mengucap kata-kata, orang saling mengejek tanpa peduli pada hati yang diejek, orang saling menjilat ludah sendiri. 
Aih, aku ini ngomong apa. Nglindur paling. Lupakan saja, Lupakan saja.



Suatu siang yang gerah tapi jauh dari marah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar