Cintaku
Bersembunyi di Balik Baju Bermerk
Apa artinya sebuah
baju bermerk daripada kehilangan cinta?.
Di sebuah
siang yang cukup panas, membawaku untuk melangkah untuk berteduh di kost temen.
Sesampainya disana disambut sebuah berita, cukup mengejutkan meski sudah
terbiasa. “L, si J putus”, ucap temanku. “Kapan?”, tanyaku kembali. “semalem”,
temanku menjawab lagi, “Kenapa putus?”, tanyaku pengen tahu. “katanya, putus
gara-gara cowoknya kalau punya baju bermerk nggak pernah cerita sama si J”,
jelas temanku. “Whaaatttt”, aku terbelalak seketika. Oh ternyata sekarang hal
kayak gitu bisa jadi alasan untuk memutuskan sebuah hubungan ya, batinku. Aku
menggeleng-nggeleng, sedikit merenung. Barangkali aku teringat beberapa waktu
yang terjadi padaku. Betapa interaksi dalam suatu hubungan harus hati-hati.
Sebuah
hubungan adalah mewakili dua pikiran orang yang berusaha menyatukan, membentuk
aturan serta nilai-nilai yang mereka anggap salah atau benar serta baik atau
buruk. Begitu halnya, mengatur sikap dari seseorang dengan pasangannya, di mana
letak marah, jengkel itu seharusnya ada. Terlebih aku menyadari, bahwa hubunganmu
(sepasang) itu pasti beda dengan hubunganku (sepasang), aturan serta cara dalam
hubunganku itu beda dengan hubunganmu. Begitu halnya, anggapan-anggapan hal
yang dikatakan benar, baik, putus, hal yang perlu dijadikan marah, dan lain
sebagainya. Jadi, jika menurutku putus gara-gara sang cowok kalau beli
barang-barang bermerk tidak cerita sama ceweknya itu hal yang nggak wajar, aku
tak bisa menyalahkan donk. Toh, bagi mereka itu hal yang wajar dan layak
dijadikan alasan putus.
Aku semakin
tak mengerti arti hubungan yang dikatakan “cinta” oleh orang-orang. Bagaiman
bisa kata putus itu terkesan diucapkan dengan “mudah” –terlihat- bagiku. Di
mana lagi letak suatu pemaknaan dalam proses berjalan bersama. Yang aku
miriskan lagi, di mana kata-kata yang mewakili ungkapan jiwa itu mudah terucap
dimana letak percaya pada cinta dan suatu ketika aku takut jika kata-kata tak
lagi bermakna. Dimana, orang mudah sekali mengucap kata-kata, orang saling
mengejek tanpa peduli pada hati yang diejek, orang saling menjilat ludah
sendiri.
Aih, aku ini ngomong apa. Nglindur paling. Lupakan saja, Lupakan saja.
Suatu siang yang gerah tapi jauh dari marah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar