Sebagai
orang yang tercampakkan (lagi). Aku masih selalu berusaha menepis benci yang
kadang-kadang datang lebih sering daripada rindu. Aku pun tak segan membuka
gambar-gambar yang kita abadikan saat cinta masih singgah erat lebih erat dari
jantung kita. Meski kerelaan belum mengucur bersama derasnya airmata aku tetap
berusaha perlahan mendamaikan diri. Meski gejolak dalam jiwa tak permisi saat
datang. Seperti kau.
Aku
telah berjanji dengan diriku sendiri, tak akan membenci siapapun orang yang
mendatangkan –barangkali disebut- sakit dalam diri ini. Meski aku membutuhkan
waktu yang lebih lama dan terkesan lamban untuk bangkit. Tetapi aku selalu
berusaha meyakinkan diri kalau aku baik-baik saja.
Kau
tahu, aku trauma sekali. Sampai-sampai nada dering pun mendatangkan perasaan
dramatis. Setelah smsmu tertanggal 29 Mei pukul 22.00 malam itu aku tak pernah
memberi nada dering di handphone hingga saat ini. Ada perasaan takut dan entah
apa susah menjelaskannya saat mendengar nada dering di handphone.
Kau
tahu, kupikir aku memahamimu hingga dalam-dalamnya dirimu. Meski tak jarang
egois merajai diriku. Dan entah, kadang aku berpikir, kau belum menyentuh sisi
terdalam di diriku. Sebab, seselama ini, aku selalu mengiyakan apapun yang kau
ucapkan, dan juga lakukan pun aku tak bisa merangkai kata-kata yang apik untuk
menyalurkan apa yang kurasa didalam hatiku yang paling dalam.
Tak
apa, itu dulu. Satu hal yang aku sadari dan harus aku terima. Selama ini
berjuang sekuat tenaga, pikiran dan hati, aku belum juga mampu dan bisa menjadi
orang yang mencintaimu dengan baik.
Dan
sekarang, aku berusaha mencari sisi-sisi serta cara yang terbaik bagi seorang
yang masih menyimpan rasa cinta. Kupikir, itu sederhana. Sesederhana doa yang
selalu kulantunkan saat ku mengingatmu. Sedalam pengharapan agar kau selalu
dalam kebaikan serta dilindungi disetiap jalan. Meski itu tak sesederhana pada
hal yang kesebut (sakit).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar