Kamis, 08 Agustus 2013

Senja Telah Hilang
Jingga senja slalu menjadi saksi disaat bola mata ini beradu dengan bola matamu, menelusup tersembunyi dibalik retina, itukah bayangku?
            Seperti biasa, tiap hariku ditemani oleh deburan ombak, dan asinnya air laut. Namun disinilah kesejukan slalu kudapat, meski terkadang panasnya amat sangat menyengat. Pasir pantai adalah lantai untuk kakiku. Sejak saat aku telah mampu menapakkan kakiku tuk pertama kali, hingga sampai sekarang. Disaat aku sudah harus membantu ibuku menjemur air laut menjadi gumpalan-gumpalan garam.
            Hariku bersama ibu, setelah usai pekerjaan dirumah. Aku menuju tambak-tambak  garam, yang  beratap matahari yang panas. Angin-angin siang pantai menjadi kipas angin yang mengurai helai perhelai rambut panjangku. Dan perlahan-lahan menghapus titik-titik air di wajah oleh sengatan matahari.
             Ketika langit sudah menuju mega merah, aku termenung dibibir pantai. Seperti biasa, seusai membantu Ibu. Aku selalu berjalan memandang biru laut, menanti sinar kejinggaan menghiasi mentari yang akan kembali ke peraduan. Menghabiskan waktu senja ditempat ini. Duduk di pasir putih, memandang hamparan biru yang tak berujung.
            Suatu senja, ketika kududuk termenung.  Ada sebuah bayangan berjalan yang perlahan-lahan mendekati.
            “Sosokmu tampak lebih indah ketika terpantul oleh sinar-sinar senja”, ucapnya. Aku menoleh ke wujud bayangan itu. Seorang lelaki menghampiri, dan duduk disebelahku. “Keindahan seperti apa yang kau cari di setiap senjamu, sehingga kau selalu duduk termenung diatas pasir pantai ini?”. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaannya. “Kenalkan, namaku Pandu, boleh aku mengenalmu?, ucap Pandu sambil menatapku. “Aku Indah”.
            Setelah perkenalan itu, kami selalu bersama disaat  senja tiba. Sekedar bercakap-cakap. Aku selalu menatap indah matanya, sembari membiarkan kata-kata lembutnya menelusup di telinga. Terngiang-ngiang di pikiran. Pandu, lelaki yang pertama kali mengajariku tentang arti hidup.
            Senja selalu bersamanya, Pandu. Semenjak mengenalnya, semburat orange kejinggan selalu indah hadir dipelupuk mata. Dia selalu memberi ketenangan di jiwa. Menikmati indahnya  hamparan biru di depan mata yang luas dan tak berpenghujung. Seperti luasnya harapan-harapan yang ditanamkan pandu didalam hatiku. Kebersamaan kita setiap sore, ternyata mulai menumbuhkan benih-benih kerinduan dihati. Namun aku tak pernah tahu tentang rasa dibalik tatapan bolamata pandu yang tajam.  Untaian kata-kata tanya berbaris di hati, namun selalu tersekap didalam mulut.  :Jingga senja slalu menjadi saksi disaat bola mata ini beradu dengan bola matamu, menelusup tersembunyi dibalik retina, itulah bayangku?. Dalam diam aku telah memintal benang-benang harap dihati.
             Ketika mentari kembali ke peraduannya, aku dan Pandu saling bertukar kata.
 “Indah, aku telah menanamkan bunga-bunga harapan dihatimu, bolehkah suatu hari aku memilikinya?”, Ucap Pandu.
Suasana hening tuk sesaat, aku memang telah menunggu Pandu mengucapkan hal namun, dengan perlahan kususun kata-kata untuk mengungkapkan jawaban dari pertanyaannya. “Aku pun telah merasakan, dan aku ingin kau yang slalu menjaga, merawat, hingga memilikinya, senyumku pun lunas setelah jawabku tuntas.
***
            Malamnya, Pandu menuju rumah, bertemu dengan orang tuaku. Dengan perlahan dia berbicara kepada ayah menyampaikan maksudnya. Ia meminta izin untuk memintaku dari ayah dan ibu.
            Sebelumnya, Ibuku telah mengetahui sosok Pandu. Sebab aku selalu bercerita kepada Ibu. Pandu adalah anak dari seorang nelayan biasa dikampung ini. Tak setiap harinya ia melaut. Karena Pandu bukan pelaut. Setiap harinya ia lebih banyak tinggal di kantornya yang cukup jauh dari desa kami. Butuh waktu sekitar 1jam untuk sampai dikantornya. Ia adalah penulis tetap di sebuah Majalah Sastra di kota ini. Sepulangnya ia dari kerja, ia menuju tempat dimana kami selalu berjumpa, disaat senja tiba. Yah, itulah Pandu. Seseorang yang  berhasil mencuri hatiku. Karena kelembutan, sikapnya yang tegas, dan mampu menjagaku. Ketenangan dan kenyamanan bagiku adalah saat senja bersamanya.
            Pandu dan orang tuaku telah menyepakati tanggal pernikahan kami. Pertengahan juli nanti, tepatnya tanggal 11 kami akan mengikrarkan janji suci itu. Aku tersenyum pada bintang-bintang yang menjadi teman setia bulan di malam ini. Hatiku pun cemas menunggu detik-menit-jam-hari-minggu kami akan disatukan dalam satu ikatan.
            Ternyata waktu melangkahkan kakinya lebih cepat kurasa. Seminggu sebelum pernikahan kami ibu berpesan untuk berhati-hati. “Sing ngati-ati Ndhuk, kowe kui meh nikah seminggu meneh, dijaga awakke dewe, ucap ibu padaku. “Enggeh Bu”, jawabku.
            Disenja tiga hari sebelum pernikahan kami aku bertemu dengan Pandu. Dan tiba-tiba Pandu berkata “Indah, tunggu aku kembali ya ?”, aku berjanji, aku akan datang kepadamu. tanya Pandu. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”, tanyaku kembali. “Aku hanya lebih ingin meyakinkan dirimu akan diriku Ndah”, jawab Pandu. “Tanpa kau pinta pun aku akan selalu menunggumu”, kataku. Pandu tersenyum, bola mengarahkan pandangannya ke kedua bola mataku, dan kita saling bertatap.
***
            Angin malam telah datang, membawa rasa dingin yang amat menusuk tulang. Sepertinya malam ini, tak seperti malam yang lalu. Malam ini angin bertiup sangat kencang. Deburan-deburan ombak yang memecah karang pun terdengar amat keras. Gemuruhnya pun terasa sampai disaat aku telah berbaring dan memejamkan mata. Dapat kurasakan derasnya air yang turun dari langit, dan petir saling sambar menyambar. Yah, malam ini sepertinya badai melanda tengah samudera luas yang pekat gelap.
            “Pandu”, tiba-tiba hatiku tersentak terkejut mengingatnya. Jantungku berdetup kencang sekali. Ingatanku hanya tertuju kepada Pandu. Namun aku tetap berusaha menghilangkan rasa itu dan mataku perlahan terpejam terbuai oleh rerintikan air hujan.
            Senja, aku kembali ketempat biasa bertemu dengan Pandu. Menunggu dia, duduk di pasir pantai, dan membiarkan kakiku terbasahi oleh air laut yang datang bersama angin. Kulemparkan serpihan-serpihan karang ke lautan.  Sudah hampir matahari tenggelam, Pandu belum saja datang. Biasanya, dia slalu datang disaat aku baru saja tiba dan duduk menghadap laut biru. Namun kini, hingga senja benar-benar telah pergi pandu tak kunjung datang. Ada raut kekecewaan disemburat senja kali ini, karena ketidakhadiran Pandu. Aku semakin gusar dan gelisah.
            Esoknya kuputuskan lagi tuk berjalan menuju tempat biasa kami bertemu. Ini menjadi senja terakhir sebelum esok Pandu datang di pernikahan kami, esok. Tak biasanya, kulihat tempat itu ramai sekali oleh penduduk dan nelayan disekitar pantai ini. Bergerombol mengerubung sesuatu. Aku pun berjalan menghampiri kerumunan itu, menyela-nyela. Bermaksud ingin tahu apa yang terjadi. Dan kulihat, sesosok tubuh terkapar telah tak bernyawa. Darah seperti berhenti mengalir, aku mematung, detak jantung sepertinya berhenti sekejap.  Ada ketidak percayaan dengan apa yang terlihat oleh kedua mata, namun itu nyata. Aku memekik keras menyebut nama Pandu. Seketika jiwa ini terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
            Ternyata, Pandu ikut melaut ayahnya bersama dua orang tetangganya. Dia terombang-ambing dilautan bersama Ayahnya, dan dua tetangganya saat badai malam itu. Hanya jasad Pandu yang bisa ditemukan, terbawa oleh ombak dan berhenti ditempat ini, pula senja ini.
            “Kamu memang datang pandu, kamu memang kembali, tuk memenuhi janji kita. Disini ditempat kita bertemu, berjanji, dan kau kembali,” mataku seperti mengeluarkan kata-kata bersama tangis yang semakin deras.
***
            “Orang gila, orang gila, orang gila”, suara anak-anak kecil yang berlarian di depan halaman rumah. Mereka berteriak-teriak sambil mempertemukan kedua telapak tanganya hingga menimbulkan suara. Mata mereka mengejek, aku pun mengarahkan pandangan kepada mereka. Namun aku tak merasakan apa-apa. Aku terdiam. Aku duduk di teras rumah dengan kaki kanan terikat rantai besi yang dililitkan di sebuah tiang peyangga rumah. Aku menjadi gila sejak kepergian Pandu. Berawal dari tak sadarnya aku disaat melihat jasadnya. Hingga sekarang aku benar-benar telah kehilangan kesadaranku. Pandu pergi bersama jiwa dan hatiku. Membawanya pergi, bersama senja yang hilang, yang tak mampu kurasakan lagi adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar