Senja Telah Hilang
Jingga senja slalu menjadi saksi disaat bola
mata ini beradu dengan bola matamu, menelusup tersembunyi dibalik retina, itukah
bayangku?
Seperti
biasa, tiap hariku ditemani oleh deburan ombak, dan asinnya air laut. Namun
disinilah kesejukan slalu kudapat, meski terkadang panasnya amat sangat
menyengat. Pasir pantai adalah lantai untuk kakiku. Sejak saat aku telah mampu menapakkan
kakiku tuk pertama kali, hingga sampai sekarang. Disaat aku sudah harus
membantu ibuku menjemur air laut menjadi gumpalan-gumpalan garam.
Hariku
bersama ibu, setelah usai pekerjaan dirumah. Aku menuju tambak-tambak garam, yang beratap matahari yang panas. Angin-angin siang
pantai menjadi kipas angin yang mengurai helai perhelai rambut panjangku. Dan
perlahan-lahan menghapus titik-titik air di wajah oleh sengatan matahari.
Ketika langit sudah menuju mega merah, aku
termenung dibibir pantai. Seperti biasa, seusai membantu Ibu. Aku selalu
berjalan memandang biru laut, menanti sinar kejinggaan menghiasi mentari yang
akan kembali ke peraduan. Menghabiskan waktu senja ditempat ini. Duduk di pasir
putih, memandang hamparan biru yang tak berujung.
Suatu
senja, ketika kududuk termenung. Ada
sebuah bayangan berjalan yang perlahan-lahan mendekati.
“Sosokmu
tampak lebih indah ketika terpantul oleh sinar-sinar senja”, ucapnya. Aku
menoleh ke wujud bayangan itu. Seorang lelaki menghampiri, dan duduk
disebelahku. “Keindahan seperti apa yang kau cari di setiap senjamu, sehingga
kau selalu duduk termenung diatas pasir pantai ini?”. Aku hanya tersenyum
menjawab pertanyaannya. “Kenalkan, namaku Pandu, boleh aku mengenalmu?, ucap Pandu
sambil menatapku. “Aku Indah”.
Setelah
perkenalan itu, kami selalu bersama disaat senja tiba. Sekedar bercakap-cakap. Aku selalu
menatap indah matanya, sembari membiarkan kata-kata lembutnya menelusup di
telinga. Terngiang-ngiang di pikiran. Pandu, lelaki yang pertama kali
mengajariku tentang arti hidup.
Senja
selalu bersamanya, Pandu. Semenjak mengenalnya, semburat orange kejinggan
selalu indah hadir dipelupuk mata. Dia selalu memberi ketenangan di jiwa.
Menikmati indahnya hamparan biru di
depan mata yang luas dan tak berpenghujung. Seperti luasnya harapan-harapan yang ditanamkan pandu
didalam hatiku. Kebersamaan kita setiap sore, ternyata mulai menumbuhkan
benih-benih kerinduan dihati. Namun aku tak pernah tahu tentang rasa dibalik
tatapan bolamata pandu yang tajam. Untaian
kata-kata tanya berbaris di hati, namun selalu tersekap didalam mulut. :Jingga senja slalu menjadi saksi disaat bola
mata ini beradu dengan bola matamu, menelusup tersembunyi dibalik retina,
itulah bayangku?. Dalam diam aku telah memintal benang-benang harap dihati.
Ketika mentari kembali ke peraduannya, aku dan
Pandu saling bertukar kata.
“Indah,
aku telah menanamkan bunga-bunga harapan dihatimu, bolehkah suatu hari aku
memilikinya?”, Ucap Pandu.
Suasana hening tuk sesaat, aku memang telah
menunggu Pandu mengucapkan hal namun, dengan perlahan kususun kata-kata untuk
mengungkapkan jawaban dari pertanyaannya. “Aku pun telah merasakan, dan aku
ingin kau yang slalu menjaga, merawat, hingga memilikinya, senyumku pun lunas
setelah jawabku tuntas.
***
Malamnya,
Pandu menuju rumah, bertemu dengan orang tuaku. Dengan perlahan dia berbicara
kepada ayah menyampaikan maksudnya. Ia meminta izin untuk memintaku dari ayah
dan ibu.
Sebelumnya,
Ibuku telah mengetahui sosok Pandu. Sebab aku selalu bercerita kepada Ibu.
Pandu adalah anak dari seorang nelayan biasa dikampung ini. Tak setiap harinya
ia melaut. Karena Pandu bukan pelaut. Setiap harinya ia lebih banyak tinggal di
kantornya yang cukup jauh dari desa kami. Butuh waktu sekitar 1jam untuk sampai
dikantornya. Ia adalah penulis tetap di sebuah Majalah Sastra di kota ini. Sepulangnya
ia dari kerja, ia menuju tempat dimana kami selalu berjumpa, disaat senja tiba.
Yah, itulah Pandu. Seseorang yang
berhasil mencuri hatiku. Karena kelembutan, sikapnya yang tegas, dan
mampu menjagaku. Ketenangan dan kenyamanan bagiku adalah saat senja bersamanya.
Pandu
dan orang tuaku telah menyepakati tanggal pernikahan kami. Pertengahan juli
nanti, tepatnya tanggal 11 kami akan mengikrarkan janji suci itu. Aku tersenyum
pada bintang-bintang yang menjadi teman setia bulan di malam ini. Hatiku pun
cemas menunggu detik-menit-jam-hari-minggu kami akan disatukan dalam satu
ikatan.
Ternyata
waktu melangkahkan kakinya lebih cepat kurasa. Seminggu sebelum pernikahan kami
ibu berpesan untuk berhati-hati. “Sing ngati-ati Ndhuk, kowe kui meh nikah
seminggu meneh, dijaga awakke dewe, ucap ibu padaku. “Enggeh Bu”,
jawabku.
Disenja
tiga hari sebelum pernikahan kami aku bertemu dengan Pandu. Dan tiba-tiba Pandu
berkata “Indah, tunggu aku kembali ya ?”, aku berjanji, aku akan datang
kepadamu. tanya Pandu. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”, tanyaku kembali. “Aku
hanya lebih ingin meyakinkan dirimu akan diriku Ndah”, jawab Pandu. “Tanpa kau
pinta pun aku akan selalu menunggumu”, kataku. Pandu tersenyum, bola
mengarahkan pandangannya ke kedua bola mataku, dan kita saling bertatap.
***
Angin
malam telah datang, membawa rasa dingin yang amat menusuk tulang. Sepertinya
malam ini, tak seperti malam yang lalu. Malam ini angin bertiup sangat kencang.
Deburan-deburan ombak yang memecah karang pun terdengar amat keras. Gemuruhnya
pun terasa sampai disaat aku telah berbaring dan memejamkan mata. Dapat kurasakan
derasnya air yang turun dari langit, dan petir saling sambar menyambar. Yah, malam
ini sepertinya badai melanda tengah samudera luas yang pekat gelap.
“Pandu”, tiba-tiba hatiku tersentak
terkejut mengingatnya. Jantungku berdetup kencang sekali. Ingatanku hanya
tertuju kepada Pandu. Namun aku tetap berusaha menghilangkan rasa itu dan
mataku perlahan terpejam terbuai oleh rerintikan air hujan.
Senja,
aku kembali ketempat biasa bertemu dengan Pandu. Menunggu dia, duduk di pasir
pantai, dan membiarkan kakiku terbasahi oleh air laut yang datang bersama
angin. Kulemparkan serpihan-serpihan karang ke lautan. Sudah hampir matahari tenggelam, Pandu belum
saja datang. Biasanya, dia slalu datang disaat aku baru saja tiba dan duduk
menghadap laut biru. Namun kini, hingga senja benar-benar telah pergi pandu tak
kunjung datang. Ada raut kekecewaan disemburat senja kali ini, karena
ketidakhadiran Pandu. Aku semakin gusar dan gelisah.
Esoknya
kuputuskan lagi tuk berjalan menuju tempat biasa kami bertemu. Ini menjadi
senja terakhir sebelum esok Pandu datang di pernikahan kami, esok. Tak biasanya,
kulihat tempat itu ramai sekali oleh penduduk dan nelayan disekitar pantai ini.
Bergerombol mengerubung sesuatu. Aku pun berjalan menghampiri kerumunan itu,
menyela-nyela. Bermaksud ingin tahu apa yang terjadi. Dan kulihat, sesosok
tubuh terkapar telah tak bernyawa. Darah seperti berhenti mengalir, aku
mematung, detak jantung sepertinya berhenti sekejap. Ada ketidak percayaan dengan apa yang terlihat
oleh kedua mata, namun itu nyata. Aku memekik keras menyebut nama Pandu. Seketika
jiwa ini terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
Ternyata,
Pandu ikut melaut ayahnya bersama dua orang tetangganya. Dia terombang-ambing
dilautan bersama Ayahnya, dan dua tetangganya saat badai malam itu. Hanya jasad
Pandu yang bisa ditemukan, terbawa oleh ombak dan berhenti ditempat ini, pula
senja ini.
“Kamu
memang datang pandu, kamu memang kembali, tuk memenuhi janji kita. Disini
ditempat kita bertemu, berjanji, dan kau kembali,” mataku seperti mengeluarkan
kata-kata bersama tangis yang semakin deras.
***
“Orang gila, orang gila, orang gila”, suara anak-anak
kecil yang berlarian di depan halaman rumah. Mereka berteriak-teriak sambil
mempertemukan kedua telapak tanganya hingga menimbulkan suara. Mata mereka
mengejek, aku pun mengarahkan pandangan kepada mereka. Namun aku tak merasakan
apa-apa. Aku terdiam. Aku duduk di teras rumah dengan kaki kanan terikat rantai
besi yang dililitkan di sebuah tiang peyangga rumah. Aku menjadi gila sejak
kepergian Pandu. Berawal dari tak sadarnya aku disaat melihat jasadnya. Hingga
sekarang aku benar-benar telah kehilangan kesadaranku. Pandu pergi bersama jiwa
dan hatiku. Membawanya pergi, bersama senja yang hilang, yang tak mampu
kurasakan lagi adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar