Rabu, 28 Agustus 2013

Malam Minggu di Sepanjang Jalan


            Kali ini minggu menjadi waktu yang sungguh benar-benar dinanti. Setelah enam hari memiliki pagi yang buru-buru, berjibaku dengan deru kendaraan dijalanan. Tak nyenyak tidur sebab pagi selalu ingin dijumpai dalam waktu yang sama serta tepat: pukul 07.00.
            Sesore ini, aku mengingat malam ini malam minggu. Seperti halnya malam-malam lainnya malam ini tetap sama yang membedakan adalah esok libur. Aku telah berikrar dengan diriku sendiri sejak aku mengenalmu. Sejak suatu sabtu sore menuju malam minggu kau berpamitan beranjak menuju Pekalongan. Dan kita berikrar, begitulah malam selalu sama, yang membedakan adalah jika malam itu ada kau dan aku melebur menjadi kita.
            Saat mega merah perlahan mengundurkan diri, aku mulai menikmati jalanan pulang. Beginilah jalan dan malam adalah teman yang dalam. Tak seperti malam minggu yang biasanya, jalanan malam ini terlalu sepi. Barangkali, masih terlalu dini untuk merayakan malam minggu. Di suatu jalan, menciumi bau parfum wangi orang-orang yang –barangkali- akan menikmati malam minggu. Begitu wangi dan rapi, sedangkan aku sendiri belum mandi. Masih dengan baju yang seharian kupakai serta keringat yang melekat.
            Lagi, pemandangan kudapati.  Di depanku ada sepasang muda mudi yang berboncengan. Tanpa pegangan, tanpa memeluk pinggang.  Si perempuan yang duduk miring itu tersenyum-senyum sendiri. Kulihat mereka tanpa percakapan, tetapi –mungkin- aku dapat merasakan senyum perempuan itu. Senyumnya mengingatkanku pada diriku, yang seringkali senyum-senyum sendiri saat kau boncengkan. Entah kenapa. Lalu, dibelakang traffic light aku berpisah dari muda-mudi yang kubuntuti itu tetapi, aku belum selesai mencari pemandangan lagi. Di bawah jembatan jalan tol, aku menemukan –tuk kesekian kalinya- anak dan ibu tidur dipinggir jalan dibawah jembatan itu. Tetapi kali ini berbeda, ada seorang muda mudi yang menghentikan motornya tak jauh dari tempat orang jalanan itu tidur. Si perempuan berjalan mendekati anak ibu itu. kupikir, barangkali mereka akan membagi iba kepada anak ibu tersebut.
            Di sepanjang jalan aku teringat, meski aku-kau tak mensakralkan malam minggu. Tetapi sesekali pernah juga kita sengaja merayakannya. Mengubah malam menjadi singkat dengan pertemuan. Ya, suatu malam minggu kita pernah berkencan bukan?. Di kota yang hidup lebih tua dari kita. Di lampu-lampu temaram yang remang dengan cahaya kekuningan. Serta kicauan burung gereja yang mengalunkan suaranya menghantarkan kita pada malam. Pada paving-paving jalan yang kuanggap mencatat langkah kita, serta tiang-tiang yang kau buat bersembunyi lantas mengagetkanku. Kau bilang, “kita seperti india-indiaan ya”. Haha. Aku tersenyum sayang, seperti perempuan itu, meski aku tak diboncengkan.  Akh, jalan membawaku pikiranku begitu dalam.


            Biarlah aku tak punya malam minggu, asal kupunya kau yang selalu bisa mengubah malam-malamku menjadi syahdu.     

Kamis, 08 Agustus 2013

Malam Tanpa Bulan
Di setiap malam kutemukan kerinduan: Ibu. Ibu adalah bulanku, yang selalu memberikan keteduhan di setiap malam. Aku menyayangimu: Ibu.
            Gerrrttt-gerrrttt..... getar  Handphone membangunkanku. Satu pesan diterima, tertulis di layarnya. Kurasakan detak-detak jarum di dinding kamar. Bola mataku melirik arah suara itu. Menunjukkan pukul 01.00 WIB. Kuterbangun, pikirku langsung tertuju pada Ibu. Kuberjalan menuju kamarnya, kupastikan apa ia telah berada di tempat tidurnya. Akh, lagi-lagi kutemukan pemandangan yang sama. Ibu belum juga kembali ke rumah. Sialnya, aku hanya mampu terdiam mengerti keadaan ini. Aku pun tak pernah berani bertanya kepadanya, tentang apa yang dilakukannya di luar sana. Sehingga sepekat  ini ia belum juga menjamah kasur usangnya.
            Aku kembali ke kamarku. Pikirku hanya tertuju pada Ibu. “Kemana ibu?, Adakah ia baik-baik saja diluar sana?, Apa yang dilakukan Ibu diluar sana?”, pikirku terjejali oleh pertanyaan-pertanyaan yang jawabnya masih enggan menghampiriku. Yang lebih membebaniku ialah “Adakah Ibu masih mengingatku dalam setiap langkahnya?”. Yah, sudah tak seperti Ibu yang lima tahun silam menemaniku.
            Berawal dari kejadian itu. Saat usiaku tepat 12 tahun, hampir saja aku celaka ditabrak mobil. Saat menyeberang  jalan seusai pulang sekolah. Ayah pada waktu itu sedang menjemputku. Melihat kejadian tersebut, Ayah dengan sigap menyelamatkanku. Aku selamat, tak sedikit terluka. Tetapi Ayah, aku harus kehilangan Ayah. Kehilangan Ayah ternyata membuatku kehilangan Ibu juga. Jiwa ibu memang masih hadir sampai sekarang kuberada. Namun kepergian Ayah seolah membutakan jiwa dan bathin Ibu. Ibu yang dulu selalu berlaku lembut kepadaku. Ibu selalu memperhatikanku. Menyayangiku dengan kelembutan. Ibu yang selalu membacakan dongeng saat aku akan terlelap. Yah, itulah Ibuku, lima tahun yang lalu, sebelum kepergian Ayah.
***
            Mentari telah menyuarakan ocehan-ocehan ayam dan burung. Membangunkanku. Aku bergegas bersiap-siap sekolah. Aku masih bisa bersekolah. Ibu memang masih sanggup memenuhi kebutuhan materiku meski ia telah menjadi single parent. Entah darimana ia mendapatkan uang, aku hanya terbungkam. Pernah aku bertanya tentang darimana Ibu mendapatkan uang, namun jawabnya, “Peduli apa kau dengan diriku, tak usah kau pikirkan darimana uang ini kudapat, diam sajalah anak sial” ucap Ibu. Ibu sekarang menjadi sosok yang pendiam, keras, pemarah, setelah kepergian Ayah. Bahkan Ibu tak segan-segan memukulku saat aku bertindak baginya. Setiap kali aku hadir mendekati Ibu, hanya tamparan, cacian yang kudapat, meski aku pun jarang berkomunikasi dengan Ibu. Aku hanya bertatap muka beberapa jam saja tiap harinya. Ketika pagi kuberangkat sekolah, Ibu masih terlelap. Dan aku hanya berangkat begitu saja. Aku pernah membangunkan Ibu tuk berpamitan, bukan kecupan yang kudapati justru Ibu memarahiku, tamparan pun mendarat dipipiku.
            Teeeett, teeeet, bel sekolah berbunyi, sorak sorai teman-teman menjadi instrumen yang mengasilkan nada khas untuk menandakan keriangan mereka atas usainya kegiatan belajar di hari ini. Beberapa detik berlalu, kukemasi alat-alat tulisku, dan aku berjalan menuju luar kelas.
            Aku duduk di halte yang berada tak jauh dari sekolahku. Sembari menunggu angkutan yang mengantarku hingga rumah nanti. Aku harus cepat-cepat pulang agar aku dapat menjumpai Ibu sebelum Ibu pergi keluar dari rumah.
            Ini dia angkutan yang ku tunggu datang juga, aku berjalan masuk kedalam angkutan, mencari-cari bangku kosong. Aku duduk disamping seorang Ibu yang sepertinya usai dari bekerja, membawa tas dan beberapa stopmap berisi kertas-kertas yang mungkin berkas-berkas. Terik siang hari ini cukup memandikanku dengan peluh. Ku geser kaca jendela angkot agar ada sedikit ruang terbuka untuk udara masuk sekedar menjadikan kipas angin tuk memberi sedikit kesegaran.
            Dan didepanku, kulihat seorang anak perempuan memegang sebuah buku bersampul plastik tebal dan tertulis namanya serta nama sekolahnya, sepertinya itu raport. Anak perempuan kecil itu duduk disamping Ibunya sembari membolak-balik saja kertas-kertas putih di buku itu. Kudengarkan sedikit celotehannya, “Ibu, Ibu, berarti aku dapat hadiah tas baru ya?, kan aku dapat peringkat satu Bu”, dengan lantang dan riang ia menagih janjinya kepada Ibunya. “Iya sayang, besok pasti Ibu belikan”, jawab Ibunya sambil mengusap kepala anaknya itu. “kamu memang pintar, sayang, Imbuh Ibu itu.
            Seketika pikirku tertuju pada Ibu, andai aku menjadi anak kecil perempuan itu, ah tidak, Ibuku tetap Ibu yang terbaik.  Aku semakin ingin bergegas sampai ke rumah, memasakkan Ibu masakan kesukaannya. Pada saat itu, aku akan membujuk Ibu untuk mau mengambilkan raportku. Sudah lama sejak kepergian Ayah, Ibu tak pernah mau mengambilkan rapotku. Ketika aku memintanya mengambilkan rapotku, selalu saja kutemukan tante Titi yang datang ke sekolahku tuk mengambilkan raportku. Selalu saja seperti itu. Dan besok, aku ingin Ibu dengan bangga melihat prestasiku selama ini. Pasalnya, untuk melihat raportku saja Ibu tidak pernah mau. Ibu terlalu acuh dengan diriku. Sesekali pernah ku perlihatkan sebuah piala saat aku menjadi juara lomba karya ilmiah. Ibu hanya pergi begitu saja saat aku mulai menjelaskan perihal kejuaraanku itu.
            Sore itu, semua hidangan telah tertata rapi di meja makan. Serapi Ibu. Kuketuk pintu kamar Ibu, kuajak Ibu untuk makan bersama. Bersama tante Titi, Ibu keluar dari dalam kamar, tante Titi adalah teman Ibu yang sudah lama tinggal bersama kami, selama perubahan Ibu sejak kepergian Ayah. Aku tak pernah tahu bagaimana silsilah keluargaku dengannya. Tetapi setiap Ibu pergi kemana-mana ia selalu menyertakan tante Titi. Aku pun diam saja tak peduli, sebab bagiku sosok tante Titi adalah sosok yang baik, ia penyayang meski ia bukan siapa-siapaku. Tak jarang ia memberiku hadiah atas prestasiku di sekolah. Sebab selama ini  yang mengetahui prestasiku ialah tante Titi.
            “Bu, esok adalah pengambilan raport, aku harap Ibu mau hadir ke sekolah mengambilkan raportku”, aku mengawali percakapan di ruang makan itu. “Biar tante Titi yang mengambilkannya, jawab Ibu”. Lagi-lagi hatiku menciut mendengar jawaban itu. Dan Ibu langsung saja pergi ke kamarnya, tanpa menghabiskan makanannya. “Sabar ya sayang, suatu saat nanti Ibumu pasti berubah”, ucap tante Titi menenangkanku. Aku hanya tersenyum, meski hatiku benar-benar menangis, teringat seorang anak perempuan dan Ibunya tadi di angkot sewaktu aku pulang sekolah.
***
            Kutemukan satu persatu orang tua murid meninggalkan ruang kelas dengan membawa raport. Hingga ruangan sepi, kosong, hanya ada aku dan Ibu guru. “Ranti, di mana orang tuamu, Kenapa tak datang juga?”, tanya Ibu guru kepadaku. “Ibu sudah harus pergi ini, masih ada acara lain, raportmu tidak bisa kamu ambil sendiri, sementara waktu biar raport ini Ibu pegang saja ya?”, ucap Ibu Guru kepadaku. Dengan langkah yang rapuh aku pun keluar dari kelas. Sesiang  ini memang hanya beberapa siswa saja yang masih nampak berada di bangunan sekolah ini. Sementara aku berjalan keluar dari sekolah, melangkah lemas, pula menahan airmata.
            Aku terpaku di pinggir jalan, membayangkan wajah Ibu. Ibu, mataku menangkap sosok Ibu, seperti berjalan mendekatiku, di seberang jalan itu. Ibu tersenyum. Tapi benarkah itu Ibu. Aku tak begitu percaya, apakah itu benar-benar Ibu, atau hanya bayangan Ibu saja yang ada di pikiranku sebab aku benar-benar merindukan ia. Aku berjalan menyeberangi jalan dengan langkah yang lemas, tanpa peduli kanan-kiriku. Dalam batinku aku hanya ingin cepat-cepat sampai memeluk Ibu. Ibu yang selalu kurindukan, kini berjalan menuju arahku, dengan senyum khasnya yang lama sekali tak kujumpai.
             Awas...Brakkk... aku tak tahu apa yang terjadi. Yang kutahu aku telah berada dipangkuan Ibu, kedua tangannya memelukku. Dan kulihat wajahnya samar-samar di depanku, tetapi Ibu menangis. wajahnya samar-samar nampak di depan mataku ada “Ibu”, ucapku. “Maafkan Ibu, sayang” suaranya pun samar-samar terdengar. Aku terpejam.
Senja Telah Hilang
Jingga senja slalu menjadi saksi disaat bola mata ini beradu dengan bola matamu, menelusup tersembunyi dibalik retina, itukah bayangku?
            Seperti biasa, tiap hariku ditemani oleh deburan ombak, dan asinnya air laut. Namun disinilah kesejukan slalu kudapat, meski terkadang panasnya amat sangat menyengat. Pasir pantai adalah lantai untuk kakiku. Sejak saat aku telah mampu menapakkan kakiku tuk pertama kali, hingga sampai sekarang. Disaat aku sudah harus membantu ibuku menjemur air laut menjadi gumpalan-gumpalan garam.
            Hariku bersama ibu, setelah usai pekerjaan dirumah. Aku menuju tambak-tambak  garam, yang  beratap matahari yang panas. Angin-angin siang pantai menjadi kipas angin yang mengurai helai perhelai rambut panjangku. Dan perlahan-lahan menghapus titik-titik air di wajah oleh sengatan matahari.
             Ketika langit sudah menuju mega merah, aku termenung dibibir pantai. Seperti biasa, seusai membantu Ibu. Aku selalu berjalan memandang biru laut, menanti sinar kejinggaan menghiasi mentari yang akan kembali ke peraduan. Menghabiskan waktu senja ditempat ini. Duduk di pasir putih, memandang hamparan biru yang tak berujung.
            Suatu senja, ketika kududuk termenung.  Ada sebuah bayangan berjalan yang perlahan-lahan mendekati.
            “Sosokmu tampak lebih indah ketika terpantul oleh sinar-sinar senja”, ucapnya. Aku menoleh ke wujud bayangan itu. Seorang lelaki menghampiri, dan duduk disebelahku. “Keindahan seperti apa yang kau cari di setiap senjamu, sehingga kau selalu duduk termenung diatas pasir pantai ini?”. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaannya. “Kenalkan, namaku Pandu, boleh aku mengenalmu?, ucap Pandu sambil menatapku. “Aku Indah”.
            Setelah perkenalan itu, kami selalu bersama disaat  senja tiba. Sekedar bercakap-cakap. Aku selalu menatap indah matanya, sembari membiarkan kata-kata lembutnya menelusup di telinga. Terngiang-ngiang di pikiran. Pandu, lelaki yang pertama kali mengajariku tentang arti hidup.
            Senja selalu bersamanya, Pandu. Semenjak mengenalnya, semburat orange kejinggan selalu indah hadir dipelupuk mata. Dia selalu memberi ketenangan di jiwa. Menikmati indahnya  hamparan biru di depan mata yang luas dan tak berpenghujung. Seperti luasnya harapan-harapan yang ditanamkan pandu didalam hatiku. Kebersamaan kita setiap sore, ternyata mulai menumbuhkan benih-benih kerinduan dihati. Namun aku tak pernah tahu tentang rasa dibalik tatapan bolamata pandu yang tajam.  Untaian kata-kata tanya berbaris di hati, namun selalu tersekap didalam mulut.  :Jingga senja slalu menjadi saksi disaat bola mata ini beradu dengan bola matamu, menelusup tersembunyi dibalik retina, itulah bayangku?. Dalam diam aku telah memintal benang-benang harap dihati.
             Ketika mentari kembali ke peraduannya, aku dan Pandu saling bertukar kata.
 “Indah, aku telah menanamkan bunga-bunga harapan dihatimu, bolehkah suatu hari aku memilikinya?”, Ucap Pandu.
Suasana hening tuk sesaat, aku memang telah menunggu Pandu mengucapkan hal namun, dengan perlahan kususun kata-kata untuk mengungkapkan jawaban dari pertanyaannya. “Aku pun telah merasakan, dan aku ingin kau yang slalu menjaga, merawat, hingga memilikinya, senyumku pun lunas setelah jawabku tuntas.
***
            Malamnya, Pandu menuju rumah, bertemu dengan orang tuaku. Dengan perlahan dia berbicara kepada ayah menyampaikan maksudnya. Ia meminta izin untuk memintaku dari ayah dan ibu.
            Sebelumnya, Ibuku telah mengetahui sosok Pandu. Sebab aku selalu bercerita kepada Ibu. Pandu adalah anak dari seorang nelayan biasa dikampung ini. Tak setiap harinya ia melaut. Karena Pandu bukan pelaut. Setiap harinya ia lebih banyak tinggal di kantornya yang cukup jauh dari desa kami. Butuh waktu sekitar 1jam untuk sampai dikantornya. Ia adalah penulis tetap di sebuah Majalah Sastra di kota ini. Sepulangnya ia dari kerja, ia menuju tempat dimana kami selalu berjumpa, disaat senja tiba. Yah, itulah Pandu. Seseorang yang  berhasil mencuri hatiku. Karena kelembutan, sikapnya yang tegas, dan mampu menjagaku. Ketenangan dan kenyamanan bagiku adalah saat senja bersamanya.
            Pandu dan orang tuaku telah menyepakati tanggal pernikahan kami. Pertengahan juli nanti, tepatnya tanggal 11 kami akan mengikrarkan janji suci itu. Aku tersenyum pada bintang-bintang yang menjadi teman setia bulan di malam ini. Hatiku pun cemas menunggu detik-menit-jam-hari-minggu kami akan disatukan dalam satu ikatan.
            Ternyata waktu melangkahkan kakinya lebih cepat kurasa. Seminggu sebelum pernikahan kami ibu berpesan untuk berhati-hati. “Sing ngati-ati Ndhuk, kowe kui meh nikah seminggu meneh, dijaga awakke dewe, ucap ibu padaku. “Enggeh Bu”, jawabku.
            Disenja tiga hari sebelum pernikahan kami aku bertemu dengan Pandu. Dan tiba-tiba Pandu berkata “Indah, tunggu aku kembali ya ?”, aku berjanji, aku akan datang kepadamu. tanya Pandu. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”, tanyaku kembali. “Aku hanya lebih ingin meyakinkan dirimu akan diriku Ndah”, jawab Pandu. “Tanpa kau pinta pun aku akan selalu menunggumu”, kataku. Pandu tersenyum, bola mengarahkan pandangannya ke kedua bola mataku, dan kita saling bertatap.
***
            Angin malam telah datang, membawa rasa dingin yang amat menusuk tulang. Sepertinya malam ini, tak seperti malam yang lalu. Malam ini angin bertiup sangat kencang. Deburan-deburan ombak yang memecah karang pun terdengar amat keras. Gemuruhnya pun terasa sampai disaat aku telah berbaring dan memejamkan mata. Dapat kurasakan derasnya air yang turun dari langit, dan petir saling sambar menyambar. Yah, malam ini sepertinya badai melanda tengah samudera luas yang pekat gelap.
            “Pandu”, tiba-tiba hatiku tersentak terkejut mengingatnya. Jantungku berdetup kencang sekali. Ingatanku hanya tertuju kepada Pandu. Namun aku tetap berusaha menghilangkan rasa itu dan mataku perlahan terpejam terbuai oleh rerintikan air hujan.
            Senja, aku kembali ketempat biasa bertemu dengan Pandu. Menunggu dia, duduk di pasir pantai, dan membiarkan kakiku terbasahi oleh air laut yang datang bersama angin. Kulemparkan serpihan-serpihan karang ke lautan.  Sudah hampir matahari tenggelam, Pandu belum saja datang. Biasanya, dia slalu datang disaat aku baru saja tiba dan duduk menghadap laut biru. Namun kini, hingga senja benar-benar telah pergi pandu tak kunjung datang. Ada raut kekecewaan disemburat senja kali ini, karena ketidakhadiran Pandu. Aku semakin gusar dan gelisah.
            Esoknya kuputuskan lagi tuk berjalan menuju tempat biasa kami bertemu. Ini menjadi senja terakhir sebelum esok Pandu datang di pernikahan kami, esok. Tak biasanya, kulihat tempat itu ramai sekali oleh penduduk dan nelayan disekitar pantai ini. Bergerombol mengerubung sesuatu. Aku pun berjalan menghampiri kerumunan itu, menyela-nyela. Bermaksud ingin tahu apa yang terjadi. Dan kulihat, sesosok tubuh terkapar telah tak bernyawa. Darah seperti berhenti mengalir, aku mematung, detak jantung sepertinya berhenti sekejap.  Ada ketidak percayaan dengan apa yang terlihat oleh kedua mata, namun itu nyata. Aku memekik keras menyebut nama Pandu. Seketika jiwa ini terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
            Ternyata, Pandu ikut melaut ayahnya bersama dua orang tetangganya. Dia terombang-ambing dilautan bersama Ayahnya, dan dua tetangganya saat badai malam itu. Hanya jasad Pandu yang bisa ditemukan, terbawa oleh ombak dan berhenti ditempat ini, pula senja ini.
            “Kamu memang datang pandu, kamu memang kembali, tuk memenuhi janji kita. Disini ditempat kita bertemu, berjanji, dan kau kembali,” mataku seperti mengeluarkan kata-kata bersama tangis yang semakin deras.
***
            “Orang gila, orang gila, orang gila”, suara anak-anak kecil yang berlarian di depan halaman rumah. Mereka berteriak-teriak sambil mempertemukan kedua telapak tanganya hingga menimbulkan suara. Mata mereka mengejek, aku pun mengarahkan pandangan kepada mereka. Namun aku tak merasakan apa-apa. Aku terdiam. Aku duduk di teras rumah dengan kaki kanan terikat rantai besi yang dililitkan di sebuah tiang peyangga rumah. Aku menjadi gila sejak kepergian Pandu. Berawal dari tak sadarnya aku disaat melihat jasadnya. Hingga sekarang aku benar-benar telah kehilangan kesadaranku. Pandu pergi bersama jiwa dan hatiku. Membawanya pergi, bersama senja yang hilang, yang tak mampu kurasakan lagi adanya.

Kataku Tentang Sederhana


            Sebagai orang yang tercampakkan (lagi). Aku masih selalu berusaha menepis benci yang kadang-kadang datang lebih sering daripada rindu. Aku pun tak segan membuka gambar-gambar yang kita abadikan saat cinta masih singgah erat lebih erat dari jantung kita. Meski kerelaan belum mengucur bersama derasnya airmata aku tetap berusaha perlahan mendamaikan diri. Meski gejolak dalam jiwa tak permisi saat datang. Seperti kau.
            Aku telah berjanji dengan diriku sendiri, tak akan membenci siapapun orang yang mendatangkan –barangkali disebut- sakit dalam diri ini. Meski aku membutuhkan waktu yang lebih lama dan terkesan lamban untuk bangkit. Tetapi aku selalu berusaha meyakinkan diri kalau aku baik-baik saja.
            Kau tahu, aku trauma sekali. Sampai-sampai nada dering pun mendatangkan perasaan dramatis. Setelah smsmu tertanggal 29 Mei pukul 22.00 malam itu aku tak pernah memberi nada dering di handphone hingga saat ini. Ada perasaan takut dan entah apa susah menjelaskannya saat mendengar nada dering di handphone.
            Kau tahu, kupikir aku memahamimu hingga dalam-dalamnya dirimu. Meski tak jarang egois merajai diriku. Dan entah, kadang aku berpikir, kau belum menyentuh sisi terdalam di diriku. Sebab, seselama ini, aku selalu mengiyakan apapun yang kau ucapkan, dan juga lakukan pun aku tak bisa merangkai kata-kata yang apik untuk menyalurkan apa yang kurasa didalam hatiku yang paling dalam.
            Tak apa, itu dulu. Satu hal yang aku sadari dan harus aku terima. Selama ini berjuang sekuat tenaga, pikiran dan hati, aku belum juga mampu dan bisa menjadi orang yang mencintaimu dengan baik.

            Dan sekarang, aku berusaha mencari sisi-sisi serta cara yang terbaik bagi seorang yang masih menyimpan rasa cinta. Kupikir, itu sederhana. Sesederhana doa yang selalu kulantunkan saat ku mengingatmu. Sedalam pengharapan agar kau selalu dalam kebaikan serta dilindungi disetiap jalan. Meski itu tak sesederhana pada hal yang kesebut (sakit).   

Sabtu, 03 Agustus 2013

Cintaku Bersembunyi di Balik Baju Bermerk

Apa artinya sebuah baju bermerk daripada kehilangan cinta?.

            Di sebuah siang yang cukup panas, membawaku untuk melangkah untuk berteduh di kost temen. Sesampainya disana disambut sebuah berita, cukup mengejutkan meski sudah terbiasa. “L, si J putus”, ucap temanku. “Kapan?”, tanyaku kembali. “semalem”, temanku menjawab lagi, “Kenapa putus?”, tanyaku pengen tahu. “katanya, putus gara-gara cowoknya kalau punya baju bermerk nggak pernah cerita sama si J”, jelas temanku. “Whaaatttt”, aku terbelalak seketika. Oh ternyata sekarang hal kayak gitu bisa jadi alasan untuk memutuskan sebuah hubungan ya, batinku. Aku menggeleng-nggeleng, sedikit merenung. Barangkali aku teringat beberapa waktu yang terjadi padaku. Betapa interaksi dalam suatu hubungan harus hati-hati.
            Sebuah hubungan adalah mewakili dua pikiran orang yang berusaha menyatukan, membentuk aturan serta nilai-nilai yang mereka anggap salah atau benar serta baik atau buruk. Begitu halnya, mengatur sikap dari seseorang dengan pasangannya, di mana letak marah, jengkel itu seharusnya ada. Terlebih aku menyadari, bahwa hubunganmu (sepasang) itu pasti beda dengan hubunganku (sepasang), aturan serta cara dalam hubunganku itu beda dengan hubunganmu. Begitu halnya, anggapan-anggapan hal yang dikatakan benar, baik, putus, hal yang perlu dijadikan marah, dan lain sebagainya. Jadi, jika menurutku putus gara-gara sang cowok kalau beli barang-barang bermerk tidak cerita sama ceweknya itu hal yang nggak wajar, aku tak bisa menyalahkan donk. Toh, bagi mereka itu hal yang wajar dan layak dijadikan alasan putus.
            Aku semakin tak mengerti arti hubungan yang dikatakan “cinta” oleh orang-orang. Bagaiman bisa kata putus itu terkesan diucapkan dengan “mudah” –terlihat- bagiku. Di mana lagi letak suatu pemaknaan dalam proses berjalan bersama. Yang aku miriskan lagi, di mana kata-kata yang mewakili ungkapan jiwa itu mudah terucap dimana letak percaya pada cinta dan suatu ketika aku takut jika kata-kata tak lagi bermakna. Dimana, orang mudah sekali mengucap kata-kata, orang saling mengejek tanpa peduli pada hati yang diejek, orang saling menjilat ludah sendiri. 
Aih, aku ini ngomong apa. Nglindur paling. Lupakan saja, Lupakan saja.



Suatu siang yang gerah tapi jauh dari marah.

Celoteh Polos Siswi SMP Kelas


            Beberapa waktu berada di sekolah, memasuki kelas VII, VIII juga IX, mulai bisa membedakan karakteristik dari setiap jenjang. Ternyata, betapa tarpaut setahun saja telah mengalami perbedaan yang cukup signifikan dalam tingkah laku mereka. Teringat diriku sendiri, seselama berjalan saat ini, bertambah usia, aku belum menjumpai perubahan-perubahan yang signifikant yang aku rasakan, entah dari orang yang mengamatiku –jika ada. Suatu peringatan bagiku juga, agar selalu bercermin dan lebih memaknai di setiap langkah (semoga).
            Di sela-sela penjelasan yang kusampaikan di kelas IX, aku bertanya kepada mereka : “Ada yang ingin ditanyakan?”, seorang siswi mengacungka jarinya, lantas bertanya dengan malu-malu. “Iya, ingin bertanya tentang apa ?”, dengan kata-kata yang terbata-bata ia menjelaskan pertanyaannya “Bu’, kalau lagi puasa, terus ngliat yang aneh-aneh itu gimana Bu’, puasanya batal nggak Bu’?, tanya siswi tersebut. Aku tersenyum, lantas berjalan mendekati –aku tak ingin pertanyaan seperti itu dibahas dan dimengerti lebih banyak siswa- kulirihkan suaraku, aku meminta ia menjelaskan apa maksud pertanyaan ia. “Gini Bu’, waktu saya di warnet, saya nggak sengaja orang lagi gituan -entah yang dimaksud gituan sampai seperti apa- lalu salah satu dari mereka menyisipkan uang dua puluh ribu dikantongku  Bu’, bagaimana hukumnya puasaku Bu pada waktu itu, apakah jadi batal?, dan bagaimana hukum uang itu Bu?”. Deggg, menusuk rasanya, sekecil ini harus mengerti hal yang patutnya belum ia tahu. Aku semakin gusar, semakin gelisah, bagaimana kelak?, bagaimana aku menjaga anak-anakku. Batinku sungguh tak tenang. Seperti diingatkan oleh anak polos itu.
            Bagaimana bisa aku yang seperti ini memberikan nasihat kepada anak-anak, sedangkan aku sendiri penuh kekurangan dan kesalahan. Sungguh, setiap kali aku harus menasehati anak-anak, batinku malu sekali, seperti aku ditertawakan oleh diriku sendiri. Tapi, terlepas dari gejolak di dalam diri ini, aku lupakan demi anak-anak. aku seperti merasa sedikit menjadi orang tua, setiap nasihat yang kau berikan adalah harapan dan doa-doa untuk mereka. Duh Gusti, aku malu sekali rasanya.



Dalam Agustus 2013