Jumat, 28 September 2012


Sensitivitas Gender

            Membicarakan tentang gender memang tak pernah habisnya. Perbedaan pemahaman seseorang dalam memaknai gender pun selalu mewarnai. Lantas bagaimana kita memahami gender?
            Adanya isu gender di Indonesia sudah menjadi isu yang tak asing lagi. Di indonesia pun telah banyak UU yang pada dasarnya ada untuk melindungi perempuan. UU yang mengatur tentang  perempuan dan anak pun telah banyak di Indonesia, diantaranya UU NO. 1 Th 1974 tentang perkawinan, UU NO. 7 Th 1984 tentang pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan masih banyak lagi. Akan tetapi, di Indonesia masih banyak ditemukan kasus-kasus kekerasan yang menjadikan perempuan sebagai korban. Contoh saja, beberapa waktu lalu di Jakarta banyak terjadi pemerkosaan di angkutan umum, kasus pelecehan terhadap perempuan di Busway. Dengan masih maraknya kasus seperti ini kita dapat menyimpulkan bahwasanya, meskipun telah banyak UU tentang perempuan, di Indonesia belum bisa sepenuhnya melindungi perempuan.
            . Dalam memaknai gender yang dimaknai dengan kesetaraan, banyak yang berfikir bahwasanya kesetaraan yang dimaksud adalah kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Padahal ada yang lebih penting dari itu, yakni keadaan dimana perempuan tidak selalu menjadi korban, memikul beban ganda, serta berjalan seimbang dalam kehidupannya.
            Gender seharusnya ditanamkan sejak dari keluarga. Perempuan tidak semata-mata menjalankan peran sebagai seorang istri yang terkonstruk dalam budaya yang ada selama ini. Akan tetapi dia berhak memilih apakah menjadi seorang ibu rumah tangga sepenuhnya atau menjadi ibu rumah tangga dengan berkarier. Namun, jika dipertimbangkan lagi perempuan yang menjadi seorang ibu rumah tangga dan bekerja menjadikan ia memiliki beban ganda. Sebab, diluar ia harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya, dan ketika telah masuk kedalam rumah ia harus menjadi ibu rumah tangga yang mengerjakan seluruh tanggung jawabnya di dalam rumah.
            Idealnya suami dan istri harus bisa saling memahami keadaan dan peran dengan seimbang, sesuai dengan kemampuan dan pilihannya masing-masing, tidak semata-mata terkonstruk dengan budaya yang telah ada. Dengan hal ini diharapkan akan menjadikan perempuan dan laki-laki dapat berjalan baik secara beriringan dengan perannya tanpa paksaan, ataupun ketidakadilan yang dirasa oleh salah satu pihak yang dapat menguranginya keharmonisan dalam suatu hubungan. Hal tersebut salah satunya dapat disiasati dengan saling berkomitmen sebelum menikah.
Didapat dari diskusi Ardiles
LPSAP
Kamis, 13 September 2012

Kamis, 03 Mei 2012

Tentang Aku Malam Ini




            Aku berusaha mencari, menyadari apa yang terjadi pada diriku. Beberapa waktu ini, sering ku berjalan sendiri. Aku memahami diriku sendiri. Hingga aku menangis merasakan sendiriku. Selain itu, mungkin ini menjadi konsekwensi dari keadaanku. Keadaan diri dimana tidak semua orang bisa menerima dan menghargai. Tapi aku anggap ini prosesku mencari diriku. Kusadari orang lain hanya bisa melihatku secara dhohir, bagaimana bathinku bicara bahkan meronta-ronta apa peduli orang.
            Kuhapuskan perlahan-lahan setiap apa yang menjadi beban didiriku. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit, sembari menata kekuatan tuk jalani hari dengan lebih baik.
            Kupejamkan mata, sejujurnya aku tak mengerti dimana aku sekarang berada. Namun aku masih bersyukur sebab aku masih punya pedoman dan pegangan.
            Ku pejamkan mata, kurasakan semua yang ada didalam pikiran dan hati. Aku masih belum menemukan arti, namun aku berusaha menata semuanya, tahap demi tahap agar menjadi lebih baik. Selama ini aku terlalu banyak berjanji dan berujar pada diriku sendiri, tetapi tanpa aku menyadari sebuah janji takkan terpenuhi jika aku tak berusaha tuk memenuhinya.
            Kutarik nafas dalam-dalam, kucoba mengeluarkan semua beban didalam diriku, aku mencoba mencari-cari perubahan didalam diriku, aku perbaiki jika memang itu membebani sekitarku. Aku memang harus menyadari bahwa aku hidup bersama nilai, norma, sistem, dan aku hidup bersama orang lain, memang seharusnya aku pun bisa menjadi pribadi yang bisa memberikan kenyamanan pada mereka, tanpa harus mengesampingkan kenyamananku pada diriku sendiri.  Semuga lekas berarti...
Semarang, 03 Mei 2012

Rabu, 25 April 2012

Refleksi Young Queer Faith and Sexuality Camp



Kaliurang, Wisma Omah Jawi, 9-14 April 2012

“Membangun Perdamaian Melaluli Keberagaman”
            Tuhan menciptakan manusia berbeda. Berbeda adalah suatu hal yang mutlak adanya. Disini kumenyadari tentang perbedaan yang baru kali ini kutemui. Berbeda orientasi seksual dan iman. Selama di Camp ini saya berinteraksi langsung dengan teman-teman saya yang berbeda orientasi seksual dan iman. Dari situ saya belajar tentang bagaimana saya harus menyikapi keberagaman.
            Awal mula di Camp ini, berinteraksi dengan teman-teman LGBT bagi saya adalah hal yang tidak mudah. Yah, saya harus belajar tentang diri sendiri dan mereka. Di Camp ini saya mendapatkan pengetahuan tentang keberagaman yang dalam hal ini adalah LGBT. Belajar menerima keberagaman. Dengan belajar membebaskan diri kita untuk berfikir dalam menanggapi suatu permasalahan. Sehingga kita bisa belajar menganalisis diri kita sendiri. materi yang disampaikan kepada kita tidak monoton dan teoritik. Disetiap materi kita dibebaskan untuk berpendapat dan menganalisa tentang materi yang disampaikan.
            Menanamkan nilai-nilai yang kita dapati, seperti nilai solidaritas, berbagi, menghormati, non- kekerasan menjadi nilai yang disampaikan kepada kita pada awal camp ini. dimana untuk menyampaikan nila tersebut dapat disampaikan dengan gerak tubuh.
            Motivasi, motivasi selalu terselip di setiap materi yang disampaikan oleh trainer. Kita tak sendiri, jangan pernah merasa sendiri. Bebaskanlah dirimu tuk menjadi dirimu sendiri. Ice Breaking selalu mengawali setiap materi yang disampaikan. Setiap games yang dilakukan slalu ada pelajaran yang kita dapatkan.
            Di Camp ini, benar-benar saya dapatkan rasa kekeluargaan, kedekatan yang dengan mudah terjalin hanya dengan waktu sesingkat itu. Saya lebih menyadari bahwa berinteraksi dengan teman-teman dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda memberikan tantangan saya untuk lebih belajar dan memahami. Tentu saja tidak sekedar memahami dan belajar tetapi juga menerima. Belajar untuk menyadari bahwa diri kita adalah sama meski kita berbeda.
            Sungguh Tuhan menciptakan suatu keberagaman itu indah, dan semuanya saya temukan dan dapati disini. Menata harapan-harapan, menjawab kecemasan-kecemasan yang ada dalam diri saya. Semuga selanjutnya dengan bekal berbagai pengetahuan yang saya dapati di Camp menjadikan bisa menghargai, menerima dan menanamkan kedamaian disetiap nafas perbedaan.    

Diam Menyesakkan Hati


            Cukup lama, aku terdiam, membasuh setiap luka dalam bathinku, sendiri. Aku slalu menahan sesak-sesak di dada, hingga mungkin hanya airmata yang menjadi jawabnya. Setiap kali laku kau beri padaku, entah hati menerima atau tidak, aku hanya diam. Menahan sesak itu. Sendiri. Bersama airmata. Dan mungkin kau tak menyadari bahwa laku itu membuatku menahan bathin teramat dalam. Berontak hanya mampu dalam hati, sebab jika aku berontak padamu, aku takut kehilanganmu.
            Cinta yang dalam, tulus seperti telah membutakan jiwaku. Hingga sakit pun aku tahan saja. Sudah tak terhitung berapa butiran airmata yang jatuh. Kadang aku merasa jadi diriku.
            Namun tak bisa kupingkiri, hadirmu bagai hujan ditengah kemarau. Kau sapu letih, lelahku, temaniku berjalan menatap kedepan dengan pasti. Kau memberi arti perubahan dalam diriku. Entah bagaimana aku harus membalasnya. Aku hanya berharap pada Tuhan, semuga membalasnya.
            Kamu tahu, betapa pun sakit tak menjadikan ku benci, bahkan menghilangkan rasaku. Sampai detik ini, rindu, rasa masih tersimpan dalam lubuk hati. Tapi biarlah ia menemu jalannya sendiri.
            Diam kali ini menyesakkan hati, semuga tak ada lagi sesak-sesak di kemudian hari. Berjalan, menjadi yang terbaik tuk diri sendiri saat ini. Kuserahkan esok pada Tuhan, sebab kutahu esok akan datang dengan sendirinya....
                                                                                                      Semarang, 25 April 2012

Senin, 02 April 2012

Sepenggal Kisah Tentang Perempuan

Tertulis, tertakdir menjadi perempuan adalah Aku. Perempuan yang ibarat bunga, kata orang mempunyai paras yang indah. Mampu menarik perhatian banyak kumbang. Banyak perempuan bangga dengan paras yang ayu. Tak sedekit perempuan berusaha menjadi ayu. Berbagai macam cara dilakukan tuk mendapatkan predikat ayu. Bedak, gincu, parfum, mascara, eyeshadow, rebonding, smoothing, hingga operasi plastik, apalagi lah caranya bagi perempuan tuk memperayu diri.

Menjadi perempuan, aku pernah merasa bangga saat orang-orang memujaku dengan kata ayu. Tak bisa kupungkiri aku pun berusaha tuk tampil ayu. Tapi terkadang ayu pun bisa menjadi beban. Kadang pun aku berpikir mengapa aku diciptakan ayu?.

Haaahhh, rasanya beban bathin menjadi ayu. Bukan aku tak mensyukuri apa yang diberiNya. Ada satu jerawat dijidatku saja aku geger. Itu masih menjadi tanda bahwa aku masih seperti kebanyakan perempuan yang peduli dengan ayu. Tetapi ternyata paras ayu tak menjamin tuk mendapatkan apa yang kumau. Ayu-ayu tapi bodoh kan juga malu.

Sekarang aku sadar, kadang ayu hanya menumbuhkan rayu dan palsu. Lelaki pasti selalu terpesona dengan wajah ayu, bukan?. Yah, begitupun aku sebagai perempuan, teriak-teriak tak karuan saat melihat orang yang tampan. Itu hanya satu aspek saja dari perempuan, ialah ayu.

***

Masih ingin kutuliskan tentang perempuan. Satu pertanyaan yang ingin ku lontarkan: Seperti apa kalian memaknai seorang perempuan?. Andai di sebuah jalan tertulis bahwa perempuan yang kau sayangi tak sesempurna yang kau mau?.

Saat bunga tak lagi seindah yang kau lihat. Bunga itu telah lusuh, kusut, tercabik-cabik oleh kaki-kaki tajam kumbang. Bunga tak selalu indah.

Perempuan ini sedang merenungi jalannya. Berliku-liku, terjal, berbatu, bahkan berjurang. Tak hanya sekali aku terpeleset ke dalam jurang. Jurang yang dalam, gelap, pula menyakitkan. Aku merangkak mendaki, tanganku mengais akar-akar pohon yang tersimpan di tanah bebatuan dinding jurang. Berdarah, tanganku. Tersayat kulitku.

Tetapi aku masih mampu tersenyum. Saat cahaya menerobos ke mataku yang ciut. Akibat tangis telah mengantarkan hingga aku tertidur. Dua bola mataku memandang luru pada bunga-bunga yang masih merekah indah, berhias titik-titik embun. Tapi semu, kelabu yang kudapati.

***

Saat ini, ingin kutuliskan suatu kata untuk perempuan. Tak ada yang lebih kuat dari aku, kau, kita, perempuan. Tangismu memberi banyak arti.

Jangan penah malu menjadi perempuan, jangan pernah merasa rendah menjadi perempuan, bagaimanapun keadaanmu sebagai perempuan. Dan jangan pernah lupa, aku, kau, kita, perempuan, BERHARGA.

Rabu, 22 Februari 2012

Saat Memandang Langit Luas


Aku selalu menjelmakan angin malam saat ku menatap  langit sebagai hadirmu. Angin yang tega memelukmu untukku. Dan langit tersenyum, dengan menggantungkan bintang pada bola mataku. Di sini aku merasa dekat, meski bibir ini tak mampu mengecupmu. Aku suka sesuatu yang luas seperti langit. Sebab luas langit mampu mempertemukan kita pada satu penjuru, bintang. Kusadari bukan jarak yang memberi sekat pada kita. Jarak, luas, langit, tumpuanku akan hadirmu. Saat kupandang langit, kuharap akan bertemu pada ujung. Ujungku menunggumu tuk menyambung. Seperti tongkat estafet. Di mana ujung terakhirku adalah kau.

Jumat, 17 Februari 2012

Tujuh Hari Esok


Jika tujuh hari esok kudapati rindu masih bersarang dalam relungku. Biarkan ku bebaskan ia mencari jalannya. Biarkan ia menjelma bulan yang selalu kau cari di setiap malammu. Bulan, mendatangkan slalu bayangmu. Disaat gelap menjadi langitku. Tak menjadi takutku. Pula, cemasku. Karena tlah kusiapkan balkon dari kaca. Kaca bening yang tak kuasa menjadi tabir antara kau dan aku. Disitu cahayamu leluasa menjamahku.
Bebaslah, terbanglah, berjalanlah semaumu, rinduku.
Sepertiku membebaskan diriku...
17 Februari 2012...

Senin, 13 Februari 2012

Dan Aku Rindu


Rindu, menjadi bumbu yang senantiasa bercumbu. Yang kadang terbalas atau pun tidak, aku tak mengerti. Senyum menjelma saat inbox ku berkata missiu too. Aku bertanya masihkah kau seperti dulu. Rindu itu, menampakkan bayangmu. Kata-kata yang slalu kau tuangkan tulus padaku. Kusediakan diriku tuk memunguti satu persatu, akan kuuntai seperti mutiara pengias leherku. Biarkan ia tetap tinggal dalam jiwaku. Dekat dan lekat. Dan aku rindu. Rindu yang kumaknai dengan hatiku, tanpa kau beri aku sela tuk mengeja rindumu...
Saat rindu, 13-02-2012

Minggu, 12 Februari 2012

Airmataku


Aku ingin menyatukan airmataku dan airmatamu,
Ku endapkan dalam suatu wadah,
Tuk beberapa waktu,
Adakah nanti ia akan berubah menjadi kabut,
Yang menjadikan musim dingin itu ada?
Atau akan menjadi bunga-bunga,
Yang menjadikan musim semi itu ada?
Pula musim panas yang menguapkan,
Menjadi butiran-butiran air
Atau mungkin saja cukup menjadi kaca dalam bola mata,
Hingga nanti ia luruh,
Mengalir kembali menjadi airmata
Seterusnya...

Bulan Menyerupai Mata


Kau katakan, Bulan itu menyerupai Mata
Harapku kan selalu teringat,
Dan tak akan pernah terlupa,
Kata-kata yang terlontar diantara kita,
Hingga terbiasa tercipta.

Sepi


Tiba-tiba awan hitam merapat
Memoles langit biru menjadi kelam
Hanya terdengar ketukanketukan keyboard
Membuyarkan lamunan
Sendiri berteman gema
Ruang yang tak berpenghuni
Seperti gua, gelap pekat
Ketakutan mencengkram
Namun pikir yang tak pernah sepi,
Tetap berjalan, terbang, melayang-layang
Tak ada gelap, juga takut,
Tetap saja Ia berjalan,
Tak peduli rintik hujan, terik panas
Pikir, tak sepi,
Sebab kau mengisi

Rembulan


Temaram sinar disela-sela gelap malam
Ada bayang suram didalam pikiran
Rembulan...
Sinarmu slalu berteman
Kau ciptakan kisah yang berbuah angan
Dalam tampakmu terselip mendung yang berjalan
Rembulanku yang suram, ada apa denganmu gerangan ?

Melewati Badai



Sore itu, Deru ombak kujumpai kembali
Menapaki pasir halus yang basah oleh cipratan-cipratan samudra
Ada harap dapat menangkap sinar kuning kejinggaan
Namun malah awan hitam menggantung disudut-sudut bumi
Kilatan cahaya pun menyambar diantaranya
Rindu biru sebiru lautan berubah menjadi awan gelap menyelimuti
Keterpakuanku membuat kita terombang ambing oleh tamparan angin
Berlari melawannya dan hanya bisa berpasrah kepadaNya
Kutelangkupkan tanganku ditubuh kecilmu yang gemetar
Kita berada ditengah badai yang mencekam hitam pekat
Tanganmu meraih pundakku dan tersadar aku melewati badai bersamamu
Tangis ketakutanku pecah, namun kau masih membisu

Bersamamu, 28-10-2011