Kamis, 19 September 2013
Take a rest for my self
Langkah
tak pernah berhenti. meski aku beristirahat untuk sesaat. dan saat ini,
kuberikan waktu dan kesempatan seutuhnya (untukmu). dan jangan tanyakan
tentang esok, sebab barang sedetik kedepan aku tak pernah tahu apa yang
akan terjadi...
Minggu, 15 September 2013
Tentang kau...
Ingin
kuyakini cinta takkan berakhir, namun takdir menuliskan kita harus berakhir…
Penggalan dari sebuah sajak lagu yang cukup lama tak
kudengarkan. Bukan sekali mengalami apa yang dituliskan dalam sajak lagu itu.
Kesekian kalinya, tapi entah mengapa kali ini terasa amat sakit sekali. Meski
sebenarnya aku tak ingin menyebutnya sebagai sakit. Tetapi, rasa itu selalu membuat
tenggorokanku tercekat. Rasa yang selalu
tak mampu menahan airmataku. Bahkan untuk mendengar namanya saja hatiku
bergetar semakin kencang. Apalagi untuk melihat wajahnya, segalanya tumpah
ruah, luluh lantak membekas tapi aku tak mampu merapikan bekas yang berserakan
itu. Barangkali -belum-.
Hanya cinta yang bisa menaklukan
dendam, hanya kasih sayang tulus menyentuh, hanya cinta yang bisa mendamaikan
benci, hanya kasih saying tulus yang mampu menembus ruang dan waktu…
Aku sudah tak mampu mendevinisikan apa yang ada didalam
hati ini, entah cinta, rindu, benci, semua melebur menjadi satu. Aku pun masih
tak tahu apakah aku mempunyai hati apa tidak. Tapi, yang aku telah berprinsip,
tak akan membenci siapapun, berusaha selalu mengambil sisi baik dan melakukan
hal yang baik. Semoga.
Bukankah, cinta adalah damai dan kebaikan.
Kelak, jika kau mengingatku, ingat aku sebagai
mimpi indah, ambil segala kebaikan dari mimpi indah itu. Mimpi indah yang
memberikan warna yang berbeda dalam hidupmu…
Jumat, 13 September 2013
Kapan Pun, Aku Bisa "Kurang Waras"
Suatu sore, duduk-duduk di samping sungai yang airnya
mengalir dari bendungan. Sedang menikmati arummanis yang tak sengaja dibelikan
sesaat aku bilang: aku ingin itu. Aku tak malu, meski usia kepala dua, aku
menikmati saja arummanis yang katanya adalah kesukaan anak-anak kecil. Meski
lama-lama lidahku gatal juga memakannya, tetapi untuk menghargai yang
membelikan ya aku berusaha habiskan.
Rindang, di bawah pohon, dipinggir kali, duduk-duduk di rerumputan.
Tiba-tiba ada yang menyebabkan aku harus pindah dari tempat itu. Tanpa permisi
–yaiyalah, masak orang gila bias permisi dulu- orang yang kuanggap mungkin tak
sewaras aku tiba-tiba menghampiri. Akh, terpaksa aku harus pergi meninggalkan
kenyamanan itu. Kejadian ini membuatku menyadari sesuatu. Ternyata orang waras
itu takut sama orang kurang waras.
Sebagai orang yang waras, sebagai orang yang masih bias
menjalankan pikirannya bertemu dengan kejadian seperti itu membuatku lebih
bersyukur. Ternyata, aku masih diberi kekuatan untuk memikirkan permasalahan
hidup dengan pikiran yang masih komplit. dan yang menyedihkan adalah, aku yang
menganggap diri sebagai orang waras harus mengalah dengan orang yang kuanggap
kurang waras. Akhirnya, aku menjauh pergi dari –orang- tempat itu.
Bicara tentang kurang waras, tiba-tiba ingat ungkapan yang
familiar banget. “Sumpah, gue gila karena cinta gue sama lue”. Haaa, sebegitu
dasyatnya yang namanya cinta. Sehingga orang rela bahkan mungkin tega membuat
dirinya tidak waras gara-gara cinta. Padahal jika kembali ke kejadian yang aku
alami tadi, justru aku menghindar dari orang yang kurang waras. jadi, kepada
orang yang rela gila karena cinta apakah juga harus dihindari. Yah, sebab
seperti itulah, orang yang tak bisa menggunakan pikirannya untuk berpikir
dengan baik –bukan kurang waras- bias melakukan hal-hal yang tak bisa kita
prediksi bahkan bisa berada diluar nalar kita. Ya, karena itu, dia tak bisa
berpikir.
Satu kelebihan luar biasa yang dimiliki oleh
orang waras, orang waras bisa berpura-pura menjadi orang kurang waras. tetapi
tidak bagi orang yang mungkin kurang waras, tak mudah untuk berpura-oura waras.
Beruntunglah kita yang masih diberi kesempurnaan berpikir, apa mungkin kita
ingin berpura-pura tidak waras karena cinta?.
Senin, 02 September 2013
Aku Mendambamu Seperti Laut
Kau bilang kenapa kau memilih laut menjadi tempat yang
kau pilih untuk memaknai waktu bersamaku. Laut itu luas, sejauh mata memandang
tak kau temui ujung seperti: cintaku. Sedalam samudera yang kau tempuh seperti
saat kau menujuku, lantas kau tempatkan aku pada suatu yang tempat paling dalam
didirimu.
Begitulah pantai
dan laut tak pernah letih menggambarkan kemesraan alam. Tak pernah lelah
berpelukan. Selalu berpisah untuk bertemu. Seperti kita.
Semarang, 02 September
2013
Rabu, 28 Agustus 2013
Malam Minggu di Sepanjang Jalan
Kali ini minggu menjadi waktu yang sungguh benar-benar
dinanti. Setelah enam hari memiliki pagi yang buru-buru, berjibaku dengan deru
kendaraan dijalanan. Tak nyenyak tidur sebab pagi selalu ingin dijumpai dalam
waktu yang sama serta tepat: pukul 07.00.
Sesore ini, aku mengingat malam ini malam minggu. Seperti
halnya malam-malam lainnya malam ini tetap sama yang membedakan adalah esok
libur. Aku telah berikrar dengan diriku sendiri sejak aku mengenalmu. Sejak
suatu sabtu sore menuju malam minggu kau berpamitan beranjak menuju Pekalongan.
Dan kita berikrar, begitulah malam selalu sama, yang membedakan adalah jika
malam itu ada kau dan aku melebur menjadi kita.
Saat
mega merah perlahan mengundurkan diri, aku mulai menikmati jalanan pulang.
Beginilah jalan dan malam adalah teman yang dalam. Tak seperti malam minggu
yang biasanya, jalanan malam ini terlalu sepi. Barangkali, masih terlalu dini
untuk merayakan malam minggu. Di suatu jalan, menciumi bau parfum wangi
orang-orang yang –barangkali- akan menikmati malam minggu. Begitu wangi dan
rapi, sedangkan aku sendiri belum mandi. Masih dengan baju yang seharian
kupakai serta keringat yang melekat.
Lagi,
pemandangan kudapati. Di depanku ada
sepasang muda mudi yang berboncengan. Tanpa pegangan, tanpa memeluk pinggang. Si perempuan yang duduk miring itu
tersenyum-senyum sendiri. Kulihat mereka tanpa percakapan, tetapi –mungkin- aku
dapat merasakan senyum perempuan itu. Senyumnya mengingatkanku pada diriku,
yang seringkali senyum-senyum sendiri saat kau boncengkan. Entah kenapa. Lalu,
dibelakang traffic light aku berpisah dari muda-mudi yang kubuntuti itu tetapi,
aku belum selesai mencari pemandangan lagi. Di bawah jembatan jalan tol, aku
menemukan –tuk kesekian kalinya- anak dan ibu tidur dipinggir jalan dibawah jembatan
itu. Tetapi kali ini berbeda, ada seorang muda mudi yang menghentikan motornya
tak jauh dari tempat orang jalanan itu tidur. Si perempuan berjalan mendekati
anak ibu itu. kupikir, barangkali mereka akan membagi iba kepada anak ibu
tersebut.
Di sepanjang jalan aku teringat, meski aku-kau tak
mensakralkan malam minggu. Tetapi sesekali pernah juga kita sengaja
merayakannya. Mengubah malam menjadi singkat dengan pertemuan. Ya, suatu malam
minggu kita pernah berkencan bukan?. Di kota yang hidup lebih tua dari kita. Di
lampu-lampu temaram yang remang dengan cahaya kekuningan. Serta kicauan burung
gereja yang mengalunkan suaranya menghantarkan kita pada malam. Pada
paving-paving jalan yang kuanggap mencatat langkah kita, serta tiang-tiang yang
kau buat bersembunyi lantas mengagetkanku. Kau bilang, “kita seperti
india-indiaan ya”. Haha. Aku tersenyum sayang, seperti perempuan itu, meski aku
tak diboncengkan. Akh, jalan membawaku
pikiranku begitu dalam.
Biarlah aku tak punya malam minggu, asal kupunya kau yang
selalu bisa mengubah malam-malamku menjadi syahdu.
Kamis, 08 Agustus 2013
Malam Tanpa Bulan
Di setiap malam kutemukan kerinduan: Ibu. Ibu adalah bulanku, yang
selalu memberikan keteduhan di setiap malam. Aku menyayangimu: Ibu.
Gerrrttt-gerrrttt.....
getar Handphone membangunkanku. Satu
pesan diterima, tertulis di layarnya. Kurasakan detak-detak jarum di dinding
kamar. Bola mataku melirik arah suara itu. Menunjukkan pukul 01.00 WIB.
Kuterbangun, pikirku langsung tertuju pada Ibu. Kuberjalan menuju kamarnya,
kupastikan apa ia telah berada di tempat tidurnya. Akh, lagi-lagi kutemukan
pemandangan yang sama. Ibu belum juga kembali ke rumah. Sialnya, aku hanya
mampu terdiam mengerti keadaan ini. Aku pun tak pernah berani bertanya kepadanya,
tentang apa yang dilakukannya di luar sana. Sehingga sepekat ini ia belum juga menjamah kasur usangnya.
Aku kembali ke
kamarku. Pikirku hanya tertuju pada Ibu. “Kemana ibu?, Adakah ia baik-baik saja
diluar sana?, Apa yang dilakukan Ibu diluar sana?”, pikirku terjejali oleh
pertanyaan-pertanyaan yang jawabnya masih enggan menghampiriku. Yang lebih
membebaniku ialah “Adakah Ibu masih mengingatku dalam setiap langkahnya?”. Yah,
sudah tak seperti Ibu yang lima tahun silam menemaniku.
Berawal dari kejadian
itu. Saat usiaku tepat 12 tahun, hampir saja aku celaka ditabrak mobil. Saat
menyeberang jalan seusai pulang sekolah.
Ayah pada waktu itu sedang menjemputku. Melihat kejadian tersebut, Ayah dengan
sigap menyelamatkanku. Aku selamat, tak sedikit terluka. Tetapi Ayah, aku harus
kehilangan Ayah. Kehilangan Ayah ternyata membuatku kehilangan Ibu juga. Jiwa
ibu memang masih hadir sampai sekarang kuberada. Namun kepergian Ayah seolah
membutakan jiwa dan bathin Ibu. Ibu yang dulu selalu berlaku lembut kepadaku.
Ibu selalu memperhatikanku. Menyayangiku dengan kelembutan. Ibu yang selalu
membacakan dongeng saat aku akan terlelap. Yah, itulah Ibuku, lima tahun yang
lalu, sebelum kepergian Ayah.
***
***
Mentari telah menyuarakan
ocehan-ocehan ayam dan burung. Membangunkanku. Aku bergegas bersiap-siap
sekolah. Aku masih bisa bersekolah. Ibu memang masih sanggup memenuhi kebutuhan
materiku meski ia telah menjadi single parent. Entah darimana ia
mendapatkan uang, aku hanya terbungkam. Pernah aku bertanya tentang darimana
Ibu mendapatkan uang, namun jawabnya, “Peduli apa kau dengan diriku, tak usah
kau pikirkan darimana uang ini kudapat, diam sajalah anak sial” ucap Ibu. Ibu
sekarang menjadi sosok yang pendiam, keras, pemarah, setelah kepergian Ayah.
Bahkan Ibu tak segan-segan memukulku saat aku bertindak baginya. Setiap kali
aku hadir mendekati Ibu, hanya tamparan, cacian yang kudapat, meski aku pun
jarang berkomunikasi dengan Ibu. Aku hanya bertatap muka beberapa jam saja tiap
harinya. Ketika pagi kuberangkat sekolah, Ibu masih terlelap. Dan aku hanya
berangkat begitu saja. Aku pernah membangunkan Ibu tuk berpamitan, bukan
kecupan yang kudapati justru Ibu memarahiku, tamparan pun mendarat dipipiku.
Teeeett, teeeet,
bel sekolah berbunyi, sorak sorai teman-teman menjadi instrumen yang
mengasilkan nada khas untuk menandakan keriangan mereka atas usainya kegiatan
belajar di hari ini. Beberapa detik berlalu, kukemasi alat-alat tulisku, dan
aku berjalan menuju luar kelas.
Aku duduk di
halte yang berada tak jauh dari sekolahku. Sembari menunggu angkutan yang
mengantarku hingga rumah nanti. Aku harus cepat-cepat pulang agar aku dapat menjumpai
Ibu sebelum Ibu pergi keluar dari rumah.
Ini dia angkutan
yang ku tunggu datang juga, aku berjalan masuk kedalam angkutan, mencari-cari
bangku kosong. Aku duduk disamping seorang Ibu yang sepertinya usai dari
bekerja, membawa tas dan beberapa stopmap berisi kertas-kertas yang mungkin
berkas-berkas. Terik siang hari ini cukup memandikanku dengan peluh. Ku geser
kaca jendela angkot agar ada sedikit ruang terbuka untuk udara masuk sekedar
menjadikan kipas angin tuk memberi sedikit kesegaran.
Dan didepanku,
kulihat seorang anak perempuan memegang sebuah buku bersampul plastik tebal dan
tertulis namanya serta nama sekolahnya, sepertinya itu raport. Anak perempuan
kecil itu duduk disamping Ibunya sembari membolak-balik saja kertas-kertas
putih di buku itu. Kudengarkan sedikit celotehannya, “Ibu, Ibu, berarti aku
dapat hadiah tas baru ya?, kan aku dapat peringkat satu Bu”, dengan lantang dan
riang ia menagih janjinya kepada Ibunya. “Iya sayang, besok pasti Ibu belikan”,
jawab Ibunya sambil mengusap kepala anaknya itu. “kamu memang pintar, sayang,
Imbuh Ibu itu.
Seketika pikirku
tertuju pada Ibu, andai aku menjadi anak kecil perempuan itu, ah tidak, Ibuku
tetap Ibu yang terbaik. Aku semakin
ingin bergegas sampai ke rumah, memasakkan Ibu masakan kesukaannya. Pada saat
itu, aku akan membujuk Ibu untuk mau mengambilkan raportku. Sudah lama sejak
kepergian Ayah, Ibu tak pernah mau mengambilkan rapotku. Ketika aku memintanya
mengambilkan rapotku, selalu saja kutemukan tante Titi yang datang ke sekolahku
tuk mengambilkan raportku. Selalu saja seperti itu. Dan besok, aku ingin Ibu
dengan bangga melihat prestasiku selama ini. Pasalnya, untuk melihat raportku
saja Ibu tidak pernah mau. Ibu terlalu acuh dengan diriku. Sesekali pernah ku
perlihatkan sebuah piala saat aku menjadi juara lomba karya ilmiah. Ibu hanya
pergi begitu saja saat aku mulai menjelaskan perihal kejuaraanku itu.
Sore itu, semua
hidangan telah tertata rapi di meja makan. Serapi Ibu. Kuketuk pintu kamar Ibu,
kuajak Ibu untuk makan bersama. Bersama tante Titi, Ibu keluar dari dalam
kamar, tante Titi adalah teman Ibu yang sudah lama tinggal bersama kami, selama
perubahan Ibu sejak kepergian Ayah. Aku tak pernah tahu bagaimana silsilah
keluargaku dengannya. Tetapi setiap Ibu pergi kemana-mana ia selalu menyertakan
tante Titi. Aku pun diam saja tak peduli, sebab bagiku sosok tante Titi adalah
sosok yang baik, ia penyayang meski ia bukan siapa-siapaku. Tak jarang ia
memberiku hadiah atas prestasiku di sekolah. Sebab selama ini yang mengetahui prestasiku ialah tante Titi.
“Bu, esok adalah
pengambilan raport, aku harap Ibu mau hadir ke sekolah mengambilkan raportku”,
aku mengawali percakapan di ruang makan itu. “Biar tante Titi yang
mengambilkannya, jawab Ibu”. Lagi-lagi hatiku menciut mendengar jawaban itu.
Dan Ibu langsung saja pergi ke kamarnya, tanpa menghabiskan makanannya. “Sabar
ya sayang, suatu saat nanti Ibumu pasti berubah”, ucap tante Titi
menenangkanku. Aku hanya tersenyum, meski hatiku benar-benar menangis, teringat
seorang anak perempuan dan Ibunya tadi di angkot sewaktu aku pulang sekolah.
***
Kutemukan satu
persatu orang tua murid meninggalkan ruang kelas dengan membawa raport. Hingga
ruangan sepi, kosong, hanya ada aku dan Ibu guru. “Ranti, di mana orang tuamu,
Kenapa tak datang juga?”, tanya Ibu guru kepadaku. “Ibu sudah harus pergi ini, masih
ada acara lain, raportmu tidak bisa kamu ambil sendiri, sementara waktu biar
raport ini Ibu pegang saja ya?”, ucap Ibu Guru kepadaku. Dengan langkah yang
rapuh aku pun keluar dari kelas. Sesiang
ini memang hanya beberapa siswa saja yang masih nampak berada di
bangunan sekolah ini. Sementara aku berjalan keluar dari sekolah, melangkah
lemas, pula menahan airmata.
Aku terpaku di
pinggir jalan, membayangkan wajah Ibu. Ibu, mataku menangkap sosok Ibu, seperti
berjalan mendekatiku, di seberang jalan itu. Ibu tersenyum. Tapi benarkah itu
Ibu. Aku tak begitu percaya, apakah itu benar-benar Ibu, atau hanya bayangan
Ibu saja yang ada di pikiranku sebab aku benar-benar merindukan ia. Aku
berjalan menyeberangi jalan dengan langkah yang lemas, tanpa peduli kanan-kiriku.
Dalam batinku aku hanya ingin cepat-cepat sampai memeluk Ibu. Ibu yang selalu
kurindukan, kini berjalan menuju arahku, dengan senyum khasnya yang lama sekali
tak kujumpai.
Awas...Brakkk... aku tak tahu apa yang
terjadi. Yang kutahu aku telah berada dipangkuan Ibu, kedua tangannya
memelukku. Dan kulihat wajahnya samar-samar di depanku, tetapi Ibu menangis.
wajahnya samar-samar nampak di depan mataku ada “Ibu”, ucapku. “Maafkan Ibu,
sayang” suaranya pun samar-samar terdengar. Aku terpejam.
Senja Telah Hilang
Jingga senja slalu menjadi saksi disaat bola
mata ini beradu dengan bola matamu, menelusup tersembunyi dibalik retina, itukah
bayangku?
Seperti
biasa, tiap hariku ditemani oleh deburan ombak, dan asinnya air laut. Namun
disinilah kesejukan slalu kudapat, meski terkadang panasnya amat sangat
menyengat. Pasir pantai adalah lantai untuk kakiku. Sejak saat aku telah mampu menapakkan
kakiku tuk pertama kali, hingga sampai sekarang. Disaat aku sudah harus
membantu ibuku menjemur air laut menjadi gumpalan-gumpalan garam.
Hariku
bersama ibu, setelah usai pekerjaan dirumah. Aku menuju tambak-tambak garam, yang beratap matahari yang panas. Angin-angin siang
pantai menjadi kipas angin yang mengurai helai perhelai rambut panjangku. Dan
perlahan-lahan menghapus titik-titik air di wajah oleh sengatan matahari.
Ketika langit sudah menuju mega merah, aku
termenung dibibir pantai. Seperti biasa, seusai membantu Ibu. Aku selalu
berjalan memandang biru laut, menanti sinar kejinggaan menghiasi mentari yang
akan kembali ke peraduan. Menghabiskan waktu senja ditempat ini. Duduk di pasir
putih, memandang hamparan biru yang tak berujung.
Suatu
senja, ketika kududuk termenung. Ada
sebuah bayangan berjalan yang perlahan-lahan mendekati.
“Sosokmu
tampak lebih indah ketika terpantul oleh sinar-sinar senja”, ucapnya. Aku
menoleh ke wujud bayangan itu. Seorang lelaki menghampiri, dan duduk
disebelahku. “Keindahan seperti apa yang kau cari di setiap senjamu, sehingga
kau selalu duduk termenung diatas pasir pantai ini?”. Aku hanya tersenyum
menjawab pertanyaannya. “Kenalkan, namaku Pandu, boleh aku mengenalmu?, ucap Pandu
sambil menatapku. “Aku Indah”.
Setelah
perkenalan itu, kami selalu bersama disaat senja tiba. Sekedar bercakap-cakap. Aku selalu
menatap indah matanya, sembari membiarkan kata-kata lembutnya menelusup di
telinga. Terngiang-ngiang di pikiran. Pandu, lelaki yang pertama kali
mengajariku tentang arti hidup.
Senja
selalu bersamanya, Pandu. Semenjak mengenalnya, semburat orange kejinggan
selalu indah hadir dipelupuk mata. Dia selalu memberi ketenangan di jiwa.
Menikmati indahnya hamparan biru di
depan mata yang luas dan tak berpenghujung. Seperti luasnya harapan-harapan yang ditanamkan pandu
didalam hatiku. Kebersamaan kita setiap sore, ternyata mulai menumbuhkan
benih-benih kerinduan dihati. Namun aku tak pernah tahu tentang rasa dibalik
tatapan bolamata pandu yang tajam. Untaian
kata-kata tanya berbaris di hati, namun selalu tersekap didalam mulut. :Jingga senja slalu menjadi saksi disaat bola
mata ini beradu dengan bola matamu, menelusup tersembunyi dibalik retina,
itulah bayangku?. Dalam diam aku telah memintal benang-benang harap dihati.
Ketika mentari kembali ke peraduannya, aku dan
Pandu saling bertukar kata.
“Indah,
aku telah menanamkan bunga-bunga harapan dihatimu, bolehkah suatu hari aku
memilikinya?”, Ucap Pandu.
Suasana hening tuk sesaat, aku memang telah
menunggu Pandu mengucapkan hal namun, dengan perlahan kususun kata-kata untuk
mengungkapkan jawaban dari pertanyaannya. “Aku pun telah merasakan, dan aku
ingin kau yang slalu menjaga, merawat, hingga memilikinya, senyumku pun lunas
setelah jawabku tuntas.
***
Malamnya,
Pandu menuju rumah, bertemu dengan orang tuaku. Dengan perlahan dia berbicara
kepada ayah menyampaikan maksudnya. Ia meminta izin untuk memintaku dari ayah
dan ibu.
Sebelumnya,
Ibuku telah mengetahui sosok Pandu. Sebab aku selalu bercerita kepada Ibu.
Pandu adalah anak dari seorang nelayan biasa dikampung ini. Tak setiap harinya
ia melaut. Karena Pandu bukan pelaut. Setiap harinya ia lebih banyak tinggal di
kantornya yang cukup jauh dari desa kami. Butuh waktu sekitar 1jam untuk sampai
dikantornya. Ia adalah penulis tetap di sebuah Majalah Sastra di kota ini. Sepulangnya
ia dari kerja, ia menuju tempat dimana kami selalu berjumpa, disaat senja tiba.
Yah, itulah Pandu. Seseorang yang
berhasil mencuri hatiku. Karena kelembutan, sikapnya yang tegas, dan
mampu menjagaku. Ketenangan dan kenyamanan bagiku adalah saat senja bersamanya.
Pandu
dan orang tuaku telah menyepakati tanggal pernikahan kami. Pertengahan juli
nanti, tepatnya tanggal 11 kami akan mengikrarkan janji suci itu. Aku tersenyum
pada bintang-bintang yang menjadi teman setia bulan di malam ini. Hatiku pun
cemas menunggu detik-menit-jam-hari-minggu kami akan disatukan dalam satu
ikatan.
Ternyata
waktu melangkahkan kakinya lebih cepat kurasa. Seminggu sebelum pernikahan kami
ibu berpesan untuk berhati-hati. “Sing ngati-ati Ndhuk, kowe kui meh nikah
seminggu meneh, dijaga awakke dewe, ucap ibu padaku. “Enggeh Bu”,
jawabku.
Disenja
tiga hari sebelum pernikahan kami aku bertemu dengan Pandu. Dan tiba-tiba Pandu
berkata “Indah, tunggu aku kembali ya ?”, aku berjanji, aku akan datang
kepadamu. tanya Pandu. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”, tanyaku kembali. “Aku
hanya lebih ingin meyakinkan dirimu akan diriku Ndah”, jawab Pandu. “Tanpa kau
pinta pun aku akan selalu menunggumu”, kataku. Pandu tersenyum, bola
mengarahkan pandangannya ke kedua bola mataku, dan kita saling bertatap.
***
Angin
malam telah datang, membawa rasa dingin yang amat menusuk tulang. Sepertinya
malam ini, tak seperti malam yang lalu. Malam ini angin bertiup sangat kencang.
Deburan-deburan ombak yang memecah karang pun terdengar amat keras. Gemuruhnya
pun terasa sampai disaat aku telah berbaring dan memejamkan mata. Dapat kurasakan
derasnya air yang turun dari langit, dan petir saling sambar menyambar. Yah, malam
ini sepertinya badai melanda tengah samudera luas yang pekat gelap.
“Pandu”, tiba-tiba hatiku tersentak
terkejut mengingatnya. Jantungku berdetup kencang sekali. Ingatanku hanya
tertuju kepada Pandu. Namun aku tetap berusaha menghilangkan rasa itu dan
mataku perlahan terpejam terbuai oleh rerintikan air hujan.
Senja,
aku kembali ketempat biasa bertemu dengan Pandu. Menunggu dia, duduk di pasir
pantai, dan membiarkan kakiku terbasahi oleh air laut yang datang bersama
angin. Kulemparkan serpihan-serpihan karang ke lautan. Sudah hampir matahari tenggelam, Pandu belum
saja datang. Biasanya, dia slalu datang disaat aku baru saja tiba dan duduk
menghadap laut biru. Namun kini, hingga senja benar-benar telah pergi pandu tak
kunjung datang. Ada raut kekecewaan disemburat senja kali ini, karena
ketidakhadiran Pandu. Aku semakin gusar dan gelisah.
Esoknya
kuputuskan lagi tuk berjalan menuju tempat biasa kami bertemu. Ini menjadi
senja terakhir sebelum esok Pandu datang di pernikahan kami, esok. Tak biasanya,
kulihat tempat itu ramai sekali oleh penduduk dan nelayan disekitar pantai ini.
Bergerombol mengerubung sesuatu. Aku pun berjalan menghampiri kerumunan itu,
menyela-nyela. Bermaksud ingin tahu apa yang terjadi. Dan kulihat, sesosok
tubuh terkapar telah tak bernyawa. Darah seperti berhenti mengalir, aku
mematung, detak jantung sepertinya berhenti sekejap. Ada ketidak percayaan dengan apa yang terlihat
oleh kedua mata, namun itu nyata. Aku memekik keras menyebut nama Pandu. Seketika
jiwa ini terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
Ternyata,
Pandu ikut melaut ayahnya bersama dua orang tetangganya. Dia terombang-ambing
dilautan bersama Ayahnya, dan dua tetangganya saat badai malam itu. Hanya jasad
Pandu yang bisa ditemukan, terbawa oleh ombak dan berhenti ditempat ini, pula
senja ini.
“Kamu
memang datang pandu, kamu memang kembali, tuk memenuhi janji kita. Disini
ditempat kita bertemu, berjanji, dan kau kembali,” mataku seperti mengeluarkan
kata-kata bersama tangis yang semakin deras.
***
“Orang gila, orang gila, orang gila”, suara anak-anak
kecil yang berlarian di depan halaman rumah. Mereka berteriak-teriak sambil
mempertemukan kedua telapak tanganya hingga menimbulkan suara. Mata mereka
mengejek, aku pun mengarahkan pandangan kepada mereka. Namun aku tak merasakan
apa-apa. Aku terdiam. Aku duduk di teras rumah dengan kaki kanan terikat rantai
besi yang dililitkan di sebuah tiang peyangga rumah. Aku menjadi gila sejak
kepergian Pandu. Berawal dari tak sadarnya aku disaat melihat jasadnya. Hingga
sekarang aku benar-benar telah kehilangan kesadaranku. Pandu pergi bersama jiwa
dan hatiku. Membawanya pergi, bersama senja yang hilang, yang tak mampu
kurasakan lagi adanya.
Kataku Tentang Sederhana
Sebagai
orang yang tercampakkan (lagi). Aku masih selalu berusaha menepis benci yang
kadang-kadang datang lebih sering daripada rindu. Aku pun tak segan membuka
gambar-gambar yang kita abadikan saat cinta masih singgah erat lebih erat dari
jantung kita. Meski kerelaan belum mengucur bersama derasnya airmata aku tetap
berusaha perlahan mendamaikan diri. Meski gejolak dalam jiwa tak permisi saat
datang. Seperti kau.
Aku
telah berjanji dengan diriku sendiri, tak akan membenci siapapun orang yang
mendatangkan –barangkali disebut- sakit dalam diri ini. Meski aku membutuhkan
waktu yang lebih lama dan terkesan lamban untuk bangkit. Tetapi aku selalu
berusaha meyakinkan diri kalau aku baik-baik saja.
Kau
tahu, aku trauma sekali. Sampai-sampai nada dering pun mendatangkan perasaan
dramatis. Setelah smsmu tertanggal 29 Mei pukul 22.00 malam itu aku tak pernah
memberi nada dering di handphone hingga saat ini. Ada perasaan takut dan entah
apa susah menjelaskannya saat mendengar nada dering di handphone.
Kau
tahu, kupikir aku memahamimu hingga dalam-dalamnya dirimu. Meski tak jarang
egois merajai diriku. Dan entah, kadang aku berpikir, kau belum menyentuh sisi
terdalam di diriku. Sebab, seselama ini, aku selalu mengiyakan apapun yang kau
ucapkan, dan juga lakukan pun aku tak bisa merangkai kata-kata yang apik untuk
menyalurkan apa yang kurasa didalam hatiku yang paling dalam.
Tak
apa, itu dulu. Satu hal yang aku sadari dan harus aku terima. Selama ini
berjuang sekuat tenaga, pikiran dan hati, aku belum juga mampu dan bisa menjadi
orang yang mencintaimu dengan baik.
Dan
sekarang, aku berusaha mencari sisi-sisi serta cara yang terbaik bagi seorang
yang masih menyimpan rasa cinta. Kupikir, itu sederhana. Sesederhana doa yang
selalu kulantunkan saat ku mengingatmu. Sedalam pengharapan agar kau selalu
dalam kebaikan serta dilindungi disetiap jalan. Meski itu tak sesederhana pada
hal yang kesebut (sakit).
Sabtu, 03 Agustus 2013
Cintaku
Bersembunyi di Balik Baju Bermerk
Apa artinya sebuah
baju bermerk daripada kehilangan cinta?.
Di sebuah
siang yang cukup panas, membawaku untuk melangkah untuk berteduh di kost temen.
Sesampainya disana disambut sebuah berita, cukup mengejutkan meski sudah
terbiasa. “L, si J putus”, ucap temanku. “Kapan?”, tanyaku kembali. “semalem”,
temanku menjawab lagi, “Kenapa putus?”, tanyaku pengen tahu. “katanya, putus
gara-gara cowoknya kalau punya baju bermerk nggak pernah cerita sama si J”,
jelas temanku. “Whaaatttt”, aku terbelalak seketika. Oh ternyata sekarang hal
kayak gitu bisa jadi alasan untuk memutuskan sebuah hubungan ya, batinku. Aku
menggeleng-nggeleng, sedikit merenung. Barangkali aku teringat beberapa waktu
yang terjadi padaku. Betapa interaksi dalam suatu hubungan harus hati-hati.
Sebuah
hubungan adalah mewakili dua pikiran orang yang berusaha menyatukan, membentuk
aturan serta nilai-nilai yang mereka anggap salah atau benar serta baik atau
buruk. Begitu halnya, mengatur sikap dari seseorang dengan pasangannya, di mana
letak marah, jengkel itu seharusnya ada. Terlebih aku menyadari, bahwa hubunganmu
(sepasang) itu pasti beda dengan hubunganku (sepasang), aturan serta cara dalam
hubunganku itu beda dengan hubunganmu. Begitu halnya, anggapan-anggapan hal
yang dikatakan benar, baik, putus, hal yang perlu dijadikan marah, dan lain
sebagainya. Jadi, jika menurutku putus gara-gara sang cowok kalau beli
barang-barang bermerk tidak cerita sama ceweknya itu hal yang nggak wajar, aku
tak bisa menyalahkan donk. Toh, bagi mereka itu hal yang wajar dan layak
dijadikan alasan putus.
Aku semakin
tak mengerti arti hubungan yang dikatakan “cinta” oleh orang-orang. Bagaiman
bisa kata putus itu terkesan diucapkan dengan “mudah” –terlihat- bagiku. Di
mana lagi letak suatu pemaknaan dalam proses berjalan bersama. Yang aku
miriskan lagi, di mana kata-kata yang mewakili ungkapan jiwa itu mudah terucap
dimana letak percaya pada cinta dan suatu ketika aku takut jika kata-kata tak
lagi bermakna. Dimana, orang mudah sekali mengucap kata-kata, orang saling
mengejek tanpa peduli pada hati yang diejek, orang saling menjilat ludah
sendiri.
Aih, aku ini ngomong apa. Nglindur paling. Lupakan saja, Lupakan saja.
Suatu siang yang gerah tapi jauh dari marah.
Langganan:
Komentar (Atom)